AKU DAN NOVEL

AKU DAN NOVEL.

Entah sejak kapan kata itu menjadi bagian dari dalam diriku sehingga tak jarang aku terdoktrin isi dari ceritanya. Sebagian yang tak mengerti bahkan selalu berkata bahwa aku terlalu berlebihan menanggapi, terlalu ikut-ikutan dengan apa yang terjadi pada isi novel sehingga banyak sekali orang yang bilang bahwa aku hidup terlalu penuh imajinasi saja. Bahkan seseorang ada yang berkata padaku bahwa aku adalah “bukanlah diriku yang sebenarnya” mungkin alasanya aku terlalu menanggapi semua cerita dari novel tersebut.
Iya, sedikit hati tergores. Tapi, bagaimana pun itu itu adalah sikap peduli padaku yang selalu diperhatikan. Aku tidak mempersalahkanya, setiap orang memiliki penilaian tersendiri terhadap orang lain salah satunya terhadapku. Yang penting aku bahagia dengan caraku sendiri, tidak mewah, tidak harus ini itu itu ini, tidak harus belanja atau menghabiskan uang. Membaca di tempat sunyi pun adalah salah satunya bagiku, aku sudah jelaskan di postingan blog sebelumnya kenapa aku suka membaca. Aku tidak perlu seseorag untuk mengerti dengan cara apa kebahagianku tercipta, aku hanya ingin kalian diam, membiarkan ku sendiri hanyut dalam ceritanya. Itu cukup, kalian kalo mau komentar bilang aku aneh boleh saja, itu hak kalian, asal jangan sampai terdengar olehku. Harus jujur aku tak akan mempermasalahkan.
Kuliah di jurusan sastra, semakin membuatku jatuh cinta dan mengerti seluk beluk dari Novel. Menyukai Sastra memang sudah dari SMA dulu sampai Nilai UNku paling besar adalah pelajaran bahasa (maafbukanriya), membuat novel ketika SMA dulu yang aku tulis tangan dan sampai sekarang belum selesai. Berhenti ditengah jalan, lucu juga setelah aku membaca novel yang tebalnya satu buku sidu itu, melihat jalan ceritanya, tulisan acak-acaknya, dan judulnya yang sekarang menurutku alay banget. Hahaa oh ya bahkan dulu nama akun facebookku sempat ku cantumkan Nick Name “Putri Sunda Suka Sastra” tolong jangan ketawakan :’) *skip
Dari sana aku semakin sadar, semakin tahu dan memahami diriku sendiri bahwa memang aku temukan hobi yang benar-benar adalah bagian dari diriku. Bagaimana cara aku menikmatinya, bagaimana aku ditelan waktu bersamanya, semuanya memang kebebasan yang bagiku tak ada satu pun yang mengerti akan duniaku.

Sekali lagi, aku tak inginkan orang itu. Diamkan aku, dan aku bebas.

Rahmia Khoerunnisa