STONE GARDEN - PADALARANG



STONE GARDEN
Catatan pertama, perjalan pertama di tahun 2016

Oke fixs malam itu aku dan ketiga temanku berencana pergi ke salah satu tempat yang lagi hits *walausebenarnyaudahadalama* di Padalarang. Stone Garden. Kita berangkat jam tujuh pagi, niatnya sih mau berburu tempat itu biar nanti disana gak terlalu banyak orang dan kita mau puas-puasin buat hunting foto, tapi memang manusia itu jagonya bikin rencana dan Allah juaranya punya rencana yang lebih baik, kita dibiarkan menunggu dua jam di stasiun kereta api karena tiket jam 07.00 pagi udah habis. Tapi kita dibawa asik dan tetep enjoy, salah satu temanku berkata “Kita tidak akan tau kedepanya gimana, yang pasti kita jangan mengeluh ketika keinginan kita tidak sesuai rencana, dibawa havefun aja biar gak ngerusak perjalanan kita”. (Aku kasih bold karena itu kunci penting buat kita semua biar asik menikmati perjalanan yang ada).

Menurutku, bepergian memakai kereta api itu lebih baik ketimbang naik angkutan umum. Selain biayanya yang pasti murah dibandingkan angkutan umum yang sering bikin kita sedikit kesel karena harus bayar lagi saat supir atau kondektur nagih lagi karena kita kurang bayar dan kebetulan kita lagi pengen hemat *kanngenes* juga kereta api itu bebas macet juga gerah seperti di jalan raya pada umumnya, perjalanan terasa lebih cepat, tepat waktu dan tak jarang kita pun disuguhkan dengan pemandangan-pemandangan yang jarang kita temui baik itu sawah-sawah yang terhampar luas ataupun rumah-rumah kumuh setiap pinggir kereta. Kalo kalian peka terhadap apa yang kalian lihat selama perjalanan, aku yakin kalian bakal lebih menikmati itu semua ketimbang terus-terusan main gadget.

Berbicara tentang hemat, kita kita yang hobi jalan-jalan pasti gak mau dong pengeluaran duitnya terhambur sia-sia. Manusia itu ada dua tipe, satu yang senang pake koper dan dua yang suka pake ransel. Kamu yang mana itu urusanmu sama isi dompet, yang penting kita sampai ke tempat tujuan kita. Tapi, jangan salah setiap perjalanan itu tidak berkesan ketika kita di destinasi tempat wisata itu, melainkan keeping-keping kisah untuk sampai kesanalah yang paling berkesan, semakin kamu mengeluarkan duit banyak maka fasilitas semakin memadai dan semakinlah kurang cerita gila nan menyenangkan yang dapat. Menurutku.

Saatnya kita fokus berbicara Stone Garden.

Stone Garden atau Taman Batu ini letaknya di daerah Padalarang, tetanggaan dengan tempat wisata Gua Pawon dan Bersebelahan dengan Situ Ciburuy *walau dari sana agak jauh*. Yang menjadi daya tarik tempat wisata Stone Garden ini adalah batu-batu yang mirip dengan kerang-kerang laut yang menghampar, besar, tinggi, bentuk-bentuknya yang unik dengan view 360° bumi terlihat semua karena letak Stone Garden ini berada diatas bukit. Pokoknya pemandangan di Stone Garden ini tidak akan mengecewakan, banyak spot foto yang keren buat kalian para pecinta fotografi. Tiket masuk Stone Garden sangat terjangaku, pengunjung diharuskan membayar RP. 5000,00 untuk bisa masuk kesana. Suasana di Stone Garden ini masih sejuk karena berada diatas bukit walau siang hari memang panas karena di pusat Stone Garden jarang ada pohon. Tapi tenang, ada saung-saung ko yang siap meneduhkan kita kalau kecapean atau kepanasan berwisata. Disana juga terdapat sebuah kuburan, katanya kuburan tersebut merupakan sesepuh zaman dulu. Sekarang ini, akrena musim hujan ada rumput-rumput liar bertumbuhan membentuk padang hijau yang sangat cantik di pinggir-pinggir bukit dengan kemiringan sekitar 20° - 30°. Padang rumput itu pun tak lepas jadi spot untuk berfoto, tapi hati-hati karena padang rumput tersebut merupakan batas wilayah Stone Garden dan juga sedikit berbahaya jika kita berjalan terlalu jauh. Jangan nekat, tapi terkadang nekat itu memang menyenangkan *asal memperhatikan keselamatan*

Konon katanya Stone Garden ini zaman dulu-dulunya banget adalah sebuah pantai karena memang batu-batu yang terdapat disana seperti batu kerang yang berada dipantai. Tajam-tajam dan gak rata, maka buat temen-temen kesini disarankan untuk memakai sepatu. Selain itu gak jauh dari sana terdapat Gunung Masigit. Gunung Kapur yang gedenya kebangetan, sampai sekarang dia gak sesempurna dan segede dulu karena Gunung tersebut dieksploitasi oleh pabrik-pabrik untuk dijadikan kapur, odol, dan lain sebagainya. Salah seorang pedagang pun bilang bahwa dulu Gunung Masigit itu terkadang dilakukan pengeboman untuk mengahancurkan sedikit demi sedikit Gunung tersebut yang berimbas pada rumah-rumah dan kenyamanan warga disana. Maka adanya Stone Garden ini sangat menguntungkan bagi warga sekitar untuk menambah pengahsilanya, mereka bisa berdagang di sekitar tempat wisata. Kita gak perlu takut kehausan atau kelaparan karena memang disana berjejer warung-warung kecil, tempat parkir, wc umum, dan musola. Haya saja memang fasilitas di Stone Garden ini masih kurang karena keterbatasan yang ada.

Sayang sekali memang, ketika alam menyediakan apa yang kita butuhkan dan kita para manusia hanya bisa mengekspolitasinya, alam tetap baik menyuguhkan pemandanganya. Apalagi jika alam masih “perawan” dan tidak ada campur tangan manusia di dalamnya. Hmm… nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan ?

Rute Perjalanan.

Aku dan temanku kemarin berangkat dari Jatinangor, tempat kami semua tinggal saat ini. Disini aku bakal mendeskripsikan rute perjalanan kami yang kami bajetkan dengan sehemat mungkin juga rute perjalanan lain sebagai antisipasi.

Rute pertama, kita berangkat dari Jatinangor naik angkot jurusan Gede Bage – Sayang – Majalaya dan berhenti di Stasiun Rancaekek, kemudian kami naik kereta dan berhenti di Stasiun Padalarang, sestelah itu kami naik angkot warna kuning jursan Rajamandala dan dia akan berhenti di pinggir jalan yang ada tulisan “Gua Pawon Stone Garden”, dari sana untuk menghemat kami berjalan kaki sekitar 15 menitan untuk sampai ke tempat Stone Garden. Rute perjalanan yang mudah karena memang Stone Garden sudah terkenal dan tidak jauh dari jalan raya. Yang penting kita tidak “malu bertanya sesat jalan dan jangan terlalu mengandalkan GPS”. Tapi jangan keasikan juga bagi pengunjung dari Jatinangor, karena angkot dari stasiun Rancaekek hanya beroprasi sampe jam 08.00 malam. Bahkan jam 07.00 malam pun sudah sangat langka sampai-sampai kami harus lari-larian mengejar angkot dan berdesak-desakan karena saking penuhnya. 

Rute kedua jika kita menggunakan sepeda motor, rute perjalanya pun tidak terlalu susah. Yang dari Bandung kita ambil jalan yang ke Cimahi lalu ke Kota Baru Parahyangan dan mengikuti jalan arah menuju Cianjur. Kalau untuk yang memakai bus, kita bisa menggunakan bus jurusan Cianjur dan berhenti di pinggir jalan yang ada tulisan nama tempat wisata tersebut.

Setiap perjalanan memang selalu menyuguhkan kenanganya masing-masing tergantung kita enjoy menghadapi setiap kemungkinan dan resiko yang ada. Hujan-hujanan sampai celana dan sepatu kotor-kotor, berdesak-desakan di kereta ketika pulang, lari-larian ngejar angkot, sampe tawar menawar sama aa-aa tukang ojeg menjadi pengalaman tersendiri untuk kita semua yang menajalaninya.

Foto : Gopro Hero 3+ (No filter)

Catatan 01 Januari 2016
#JurnalMia
Terimakasih waktu dan ceritanya Bi Mima, Teh Dian, dan Zulfa.

Rahmia Khoerunnisa