SAAT KAMU HILANG ARAH

SAAT KAMU HILANG ARAH

Ada yang bilang usia 20 tahun adalah usia dimana kita sering merasakan hilang arah dan tujuan, tanda kedewasaan kita dalam diri. Bagiku, tidak dipungkiri mungkin itu benar adanya, sesuatu yang terjadi padaku ketika sekarang aku berusia 20 tahun ini.
Semester 1 – 4 adalah semester dimana aku melakukan hal yang aku mau, mencoba memulai sesuatu yang baru, mencoba ini dan itu, tidak terlalu banyak masalah pribadi yang berkaitan dengan diri sendiri. Beranjak ke semester 5 dan 6, sesuatu yang aneh terasa dalam diriku. Aku merasa hidup terlalu monoton, gitu-gitu saja tidak ada tantangan, dan membosankan sehingga hal tersebut membuat diriku menarik dalam dunia luar seperti biasa. Aku menjadi lebih suka menyendiri, melakukan hobiku seperti membaca atau bisa saja seharian “bertapa” mengunci pintu kamar dan cukup di depan leptop saja.
Sesuatu yang aku rasakan pada diriku adalah aku benar-benar merasa hilang arah tidak tau akan melakukan apa, hanya menatap atap kamar takut akan kehidupanku yang begini-begini saja membuatku gagal untuk bisa membahagiakan dan membanggakan kedua orang tuaku, mencapai impian-impian diriku, dan bingung apa yang harus aku lakukan untuk melakukan hal yang bebas yang aku mau.
Selama semester 1 - 4 aku baru sadar bahwa diriku terlalu banyak menyia-nyiakan waktu, tapi sungguh aku tidak menyesalinya karena semua memang ada masanya, semua ada tahapnya. Sesampai pada di semester 5 dan 6 inilah aku banyak mengeluh terhadap diriku sendiri, aku selalu bosan dengan apa yang aku lakukan setiap hari, aku selalu menuruti apa yang orang lain mau padahal hatiku berkata aku tidak ingin, aku berusaha mengikuti keinginan orang supaya orang tidak memandang jelek terhadapku.
Namun, rasanya ini bukan diriku sendiri, bukan bentuk bebasku yang sesungguhnya, begitu banyak rasa takut, hilang, hampa, dan kekosongan dalam hidupku. Tak hanya sekedar itu, aku menjadi begini dan banyak yang telah menjadi imbas, orang-orang menunjukan sifat aslinya ketika kita juga berusaha menjadi diri kita sendiri seperti orang-orang terdekatku dan orang lain yang selalu mengomentari hidupku. Tapi, baru aku sadari hari ini bahwa adanya mereka membuatku lebih kuat dan lebih mengerti apa arti hidup ini, lebih tau siapa orang yang benar-benar peduli dan menghargai kita.
Semester 5 dan 6 banyak waktu ku sia-siakan hanya untuk mencari jati diriku, siapa aku sebenarnya?. Aku mencoba untuk bangun dan bangkit kembali dari apa yang kubilang sebagai “keterpurukan”, aku mengikuti semua hal yang bersangkutan dengan hobiku, sesuatu yang baru, sesuatu yang asik dan menarik versi diriku. Contohnya, seperti aku mencoba mengikuti kepanitiaan atau organisasi dengan banyak rapat didalamnya, menjadi sukarelawan sebagai pengajar, mengikuti pelatihan tari, dan hanya menulis satu dua tiga puisi yang hanya dikonsumsi untuk diriku sendiri.
Sampai tibalah, pada berbagai keadaan bahwa selesksi alam berkata bahwa duniaku bukan pada organisasi, menjadi pengajar, aktivis, atau menjadi penari. Aku lebih nyaman mengunci rapat pintu kamarku hanya untuk duduk di depan leptop dengan buku yang berserakan dengan lebih menjelaskan apa maksud dan memfokuskan target dengan hobiku yang suka menulis. Akhirnya menuju semester 7 aku mulai sedikit demi sedikit mencoba mengeksplor karya-karya diriku pada macam-macam perlombaan. Dari sana aku mulai semakin fokus dan bertekad untuk menggapai impianku, menemui rasa kebebasanku sendiri.
Tentunya apa yang kita pilih dalam hidup memiliki berbagai resiko, seperti yang aku alami. Aku memfokuskan targetku dengan aku meninggalkan skripsiku, jarang keluar kosan, mendapatkan cibiran dan omongan orang karena seringnya aku keluar dengan orang itu-itu saja. Heuhhh... mereka tidak tau rasanya berjuang untuk mencapai target dengan deadline yang singkat. Ah tapi tidak perlu dijelaskan, orang yang tidak suka padaku tidak akan mendengarkannya. TAPI, aku pun menydari satu hal bahwa besarnya resiko yang didapat dari aku memulai fokus pada impianku tidak kalah besarnya aku mendapatkan hikmah dari semua itu.
Di semester 7 ini, mungkin aku belum telat bisa menemukan apa sebenarnya duniaku, apa sebenarnya passhionku, dan bagaimana aku menjadi diriku sendiri. Aku tidak peduli apa kata orang, aku bahagia menjadi diriku sendiri yang sekarang ini. Terlebih adanya berbagai dukungan dari orang-orang yang selalu membuatku lebih kuat. Semangat, doa, dan dukungan dari kedua orangtuaku, dari sahabat hidupku, dari keluarga baruku di sini yang tentunya tau siapa diriku, dan pula semangat yang selalu terus hadir dari orang-oang yang satu passhion denganku.
Resiko yang kita dapat karena kita berusaha untuk menjadi diri sendiri adalah sebuah pembelajaran hidup yang berharga untuk diriku pribadi, kita bisa membedakan mana dukungan yang sebenarnya dengan dukungan basa-basi yang hanya bisa berkata “semangat” saja, lebih mengetahui makna sebuah jalinan perteman dengan orang-orang, lebih mengetahui bahwa apa yang tersimpan di dalam hati kita selama semua baik untuk impian diri kita adalah benar yang harus kita lakukan (pendirian). Lebih mengetahui bagaimana menyikapi orang yang menghina, dan mengataimu dengan cukup diam saja karena puncak kesabaran adalah dengan kamu diam. Dan yang lebih penting dari itu, aku mengetahui dimana aku harus bersuara, dunia mana yang harus aku pijak, passhion apa yang harus aku usahakan, serta kebebasan yang aku cari telah aku dapatkan.
Kalau kamu masih merasa takut dengan apa yang kamu lakukan, kalau kami masih belum siap menerima resiko-resiko yang terjadi ketika kamu ingin menjadi dirimu sendiri menjadi beda dari yang lain, kalo kamu masih kagok dengan orang-orang disekitarmu dengan apa yang kamu ingin lakukan itu tandanya kau masih belum temukan bebasmu, kau masih seperti boneka yang di permainkan oleh dunia yang penuh drama ini. Temukan duniamu, gapailah mimpimu, lawan rasa takutmu, dan hadapi semua resiko yang ada, kalo gak gitu impianmu akan skak begitu saja.

Sama seperti kalian aku adalah pejuang mimpi yang tak akan pernah berhenti menggapai target-targetku, masih dalam proses dan aku mencintai proses suksesku. Bersyukur sekali rasanya dibalik orang-orang yang tidak mengerti diriku masih begitu banyak pula yang mempedulikan dan menghargai waktuku dengan tulus. SEMANGAT SEMANGAT ayo kita menghebat bersama.

Rahmia Khoerunnisa