BOGOR; TENTANG PERJUANGAN TES PSIKOTES MDP V NET. TV

BOGOR; TENTANG PERJUANGAN
TES PSIKOTES MDP V NET. TV




Perjalanan kali ini, aku sebut sebagai perjuangan. Awalnya, perjuangan manis pahit menuju apa yang menjadi impian. Tapi, setelah aku pikir-pikir dan mendapatkan berbagai pengalaman dari salah satu acara psikotes lamaran kerja di Net TV pada tanggal 22 Maret 2017 di Centul International Convention Center, Bogor. Aku rasa perjuanganku benar-benar belum ada apa-apanya dibanding beberapa orang yang aku temui disana.
Aku pikir banyak hal yang harus aku perbaiki. Keteledoran, sikap pemalas, dan selalu menanti-nantikan hal-hal yang sering aku anggap spele. Harus dibuang jauh-jauh karena kalau begitu aku akan selalu kalah ketika baru selangkah membuka pintu.
Perjalanan yang kulakukan sendiri ke Bogor kemarin, adalah perjalanan nekat yang memang sengaja aku lakukan untuk mencari sebuah pengalaman, tidak semata-mata hanya ingin mengikuti tes psikotes lalu langsung pulang kembali. Pengalaman yang ingin aku alami, untuk lebih mengerti bagaimana hidup ini, bagaimana kehidupan setelah kuliah, dan bagaimana proses nikmatnya perjuangan demi mendapatkan sebuah pekerjaan yang sesuai dengan passion kita.
Kali kedua di Bogor, walau pertamanya hanya numpang tidur dan esok paginya pulang lagi selalu memberikan kesan dan pengalaman tersendiri. Ya setiap perjalanan memang selalu ciptakan pengalaman. Selalu menyimpan berbagai kisah yang baik buruknya itu semua kembali pada representasi kita sendiri. Dan diblog ini, aku akan bagikan kisah perjalananku, tentang perjuangan kecilku yang belum ada apa-apanya dibanding orang-orang hebat diluar sana...
***
BINGUNG. Antara harus berangkat atau enggak. Antara harus langsung mandi dan berangkat atau kembali merapikan barang-barang yang sudah dipacking. Walau memang keputusan sudah 80% untuk berangkat tapi, pemikiran kedepan apakah kamu yakin akan bekerja di Jakarta yang secara halus, aku sempat tidak menginginkan jika bekerja disana. Namun, setelah mendapat berbagai wejangan dan dukungan dari orang tua dan teman-teman aku pun nekat pergi ke tempat yang begitu asli aku tidak tau tempat itu sama sekali.
“kalau kamu enggak berani, kamu enggak maju-maju. Hidup kamu ya gitu-gitu aja terus”
“Jangan mikirin uang, jangan mikirin apa-apa, yang penting kamu dapat pengalaman.”
“Coba aja, siapa tau ada rezeki kita disana. Kalau pun enggak kita bakal mendapatkan pengalaman.”
Dan akhirnya, aku pun memutuskan untuk pergi. Setelah dua kali ketinggalan damri menuju terminal Leuwi Panjang akhirnya aku pun sampai dan bisa duduk dengan tenang di bis jurusan Bandung – Bogor. 4 jam perjalanan Bandung- Bogor, akhirnya aku pun sampai di Terminal Baranangsiang dan kemudian akan dijemput oleh salah satu temanku orang Bogor.
Sampai di Bogor, aku langsung disuguhkan dengan satu mangkok bakso mercon. Ya, menurutku selain makanan khas lapis bogor, sepertinya bakso pun akan menjadi salah satu ikon bogor karena banyak sekali pedagang bakso yang berkeliaran disepanjang jalan. Selain itu pun, jalan menuju rumah temanku di daerah Sukaraja, Bogor banyak sekali pedagang bunga-bunga mempercantik sepanjang jalan yang baru dan masih sepi itu.
Satu malam di Bogor, aku berkeliling bogor dengan temanku menggunakan sepeda motor. Menurutku Bogor masih rapih, tidak terlalu penat dan macet (mungkin karena aku keluar ketika malam sehabis hujan), banyak tempat makanan yang hampir mirip dengan angkringan Yogyakarta, udaranya pun dingin, pinggir jalan perkotaan sudah rapih dan banyak taman-taman. Malam itu, aku diajak temanku berjalan-jalan santai di alun-alun Bogor yang mayoritas banyak pasangan muda-mudi yang lagi menikmati romantisnya malam.
Besoknya, aku pergi ke SICC untuk melakukan tujuan utamaku pergi ke Bogor. Menjadi salah satu peserta dari 30.000 peserta MDP V Net TV.
FANTASTIK.
Mendapatkan pengalaman berharga, bertemu dengan orang-orang baru yang kebanyakan ternyata satu almamater. Bersama dalam satu ruangan luas, sama-sama sedang berjuang. Ketika disana ada satu hal yang menarik perhatianku tentang beberapa peserta MDP V yang menceritakan perjuangannya untuk bisa sampai ke Bogor ini. Aku tidak terlalu ingat dengan nama-nama mereka, tetapi hal tersebut cukup menyadarkanku bahwa apa yang kulakukan selama ini yang kusebut sebagai perjuangan belum ada apa-apanya dibanding orang lain yang ternyata lebih keras untuk mencapai impian-impian mereka.
1.      Ia berangkat dari Kuningan menggunakan sepeda motor. Sepeda motor yang ia gunakan mogok ditengah jalan sehingga ia kehabisan uang untuk melanjutkan perjalanan. Awalnya, ia bilang ia ingin kembali pulang ke rumah. Namun, ia tidak menyerah. Ia bertekad melanjutkan perjalanannya dnegan menumpang pada sebuah truk besar yang mengangkut sepeda motor sampai Bogor.
2.      Dua orang sengaja berangkat dari Lampung. Luar Jawa dan harus menyebrangi lautan. Mereka menggunakan sepeda motor dengan setengah hari perjalanan.
Aku menyimak, mendengarkan mereka membicarakan pengalamannya. Menceritakan perjuangannya. Dan baru kusadari, semua yang kulakukan tdiak ada apa-apanya. Aku tidak akan maju dan berkembang, aku akan skak di tempat, terikat pada tempat dan suasana yang itu-itu saja jika aku tidak berani bergerak, tidak berani keluar dari zona nyamanku sendiri.
Salah satu impianku adalah, aku ingin ikut menjadi pengajar di salah satu tempat pelosok Negri, explore budaya, kehidupan, dan pendidikan mereka. Namun, semua itu tidak akan tercapai jika aku yang baru disuruh pergi ke Bogor yang jelas-jelas itu merupakan kota besar, aku mengalami bingung tingkat tinggi. Apalagi pelosok Negri yang aku idam-idamkan. Ternyata aku belum bisa seberani dan menyukai tantangan seperti yang aku khayalkan dalam pikiranku. Dan perlahan, aku akan lawan itu semua.
Dalam perjalanan ini, aku belajar satu hal. Pengalaman adalah berharga untuk menjadikanmu mengerti apa arti dari perjuangan. Dan aku tidak ingin takut lagi, aku percaya kemana aku pergi selama itu baik ada Allah dan Do’a orang tua yang akan selalu menjagaku, selalu mengiri langkah-langkahku untuk mencapai sukses-suksesku yang selanjutnya.
Setelah setengah hari berada di SICC, aku pun langsung pulang kembali bersama salah satu seniorku yang ternyata dia pun ikut menjadi peserta di MDP V ini.  Aku pun pulang bersama seniorku, kembali ke Jatinangor. Menunggu kabar-kabar baik atau pun keajaiban yang akan mewarnai perjuangan-perjuangan dalam hidup...
Perjalanan Bogor 21 – 22 Maret 2017 kemarin, kuucapkan terimakasih kepada: Allah SWT, Ibu dan Bapaku, Nunun teman kelasku, Ibu dan Bapak Nunun yang baik, serta Kang Mumu.

Jatinangor, 25 Maret 2017

Rahmia Khoerunnisa