BUNGA-BUNGA LALU

BUNGA-BUNGA LALU



Semua bunga ini adalah bunga pemberian dari Aris, dari zaman pdkt sampe pada perayaan-perayaan besar. Bunga pertama yang Aris berikan adalah bunga edellweis, 2 poket bunga edellweis dari Gunung Prau, Dieng. Waktu itu kita masih temenan, dan dulu Aris sering bilang dan ngajak aku kalo pergi naik gunung. Ya tapi karna kesibukan dan ketidakbisanya aku, dia pun mengirimkan sebuah paket lewat kantor pos, mengirimkan satu bok kardus yang berisi dua poket bunga edelweis serta selembar surat perkenalan yang kalo dibaca lagi bener-bener bikin senyum-senyum sendiri *dulu Aris lucu ya*

Selang beberapa bulan dan pergantian tahun, kami pun deket dan cuma dua kali ketemu, Aris langsung memberikan bunga pertamanya padaku. Bunga mawar putih yang diberikan malam-malam dipinggir Jalan Lodaya, Bandung *disana banyak orang karena ada tempat makan*. Aku masih ingat dia memberikan bunganya tanggal 06 februari 2015. Zaman pdkt, zaman lagi pada malu-malunya, dan tentu aku pun sangat malu.
Bunga-bunga selanjutnya pun semakin berhamburan, baik ketika dia menyatakan perasaannya padaku, saat aku ulang tahun, perayaan monthsarry, atau bahkan saat aku  marah padanya *tapi itu dulu*. Dan kalo sekarang ia pun hanya memberikan bunga saat perayaan besar saja seperti acara kemaren waktu aku sidang sarjana dan wisuda. Alhamdulillah, meskipun tidak seberapa aku tahu dia memang selalu berusaha untuk membuatku bahagia.

Bunga-bunga ini aku simpan dan akan selalu aku simpan. Aku enggak tahu kenapa aku hobi menyimpan barang-barang yang tak lagi berguna. Tapi, seperti menilai seseorang kita tidak boleh melihat ia dari covernya saja. Toh ternyata dibalik semua bunga yang layu akan selalu ada kisah untuk patut kita kenang. Bunga-bunga pun belum tentu sebagai bentuk keromantisan sebuah hubungan, bagiku bunga-bunga yang dijadikan sebagai hadiah atau kado adalah sebuah isyarat bahwa ada seseorang yang berusaha membuat kita bahagia meskipun dengan sebuah hal-hal kecil yang ia berikanJ

Bunga 14 Februari 2015

Bunga pertama, 06 Februari 2015

Rahmia Khoerunnisa