CURUG LUHUR, BUKIT TELETUBIS, PANTAI SAYANG HEULANG – GARUT SELATAN


CURUG LUHUR, BUKIT TELETUBIS, PANTAI SAYANG HEULANG – GARUT SELATAN

Halooooo, kali ini aku bakalan nyeritain pengalaman aku pergi ke berbagai tempat destiansi wisata yang ada di Garut Selatan tepatnya Curug Luhur, Pantai Sayang Heulang dan Bukit Teletubis yang mana ketiga tempat itu aku embat dalam waktu semperempat hari. Oke, mungkin bagi kalian sebagian warga Garut Selatan udah gak asing dengan nama-nama tempat main-main yang lagi hits di kalangan anak muda ini, apalagi pantai Sayang Heulang kayanya warga non lokal pun udah pada tau pantai yang tetanggaan sama pantai Santolo.

Jumat, 10 Maret 2017 aku emang sengaja pulang ke kampung halaman di daerah Cisompet, Garut Selatan. Pulang kali ini berbeda karena aku bawa salah satu temen yang satu otak denganku, doyan jalan-jalan dan fotografi. Pokoknya kami bakal lupa waktu kalo lagi sama dengan dunia masing-masing kami yang hanya bisa terjamah dan terasakan oleh diri kami sendiri (?) *skip*

Awalnya aku dan temen aku mau berangkat dari kosan kami yang sekarang tinggal di Jatinangor (Perbatasan Bandung – Sumedang) merencanakan akan berangkat jam 03.00 subuh *gilaaaa, kami excited banget karena hanya itu waktu yang akan kami punya ketika ada di Cisompet nanti. Jadi ekspektasinya, kita bakalan puas-puasin satu hari ful buat main*. Tapi, asli itu hoaks banget, kami gak bisa melawan rasa kantuk karena emang kami tidur larut malam. Dan akhirnya, kami pun berangkat pukul 05.30 pagi, naik kendaraan umum tercepat versi aku. Naik elf atau orang lain ada yang sebut dengan mini bus. Angkutan umum yang mana kita harus memiliki kesabaran ekstra jika tidak sesuai dengan yang kita harapkan (berdempetan, kadang diturunin bukan di tempat yang dimaksud, atau ongkos yang bukan ongkos biasanya). Tapi, Alhamdulillah hari itu kita lagi hoki, perjalanan cepat dan sesuai dengan yang kita harapkan walau pun memang di elf yang kedua kami sangat berdempetan karena rezekinya si bapak supir lagi dilancarkan *Alhamdulillah* sehingga temen aku yang memang baru pertama kali ke Garut Selatan dan naik elf pula mengalami pusing dan mual-mual karena dirinya yang gak bebas gerak dan duduk yang sedikit menyamping. Apalagi perjalanan dari Cikajang memang mempunyai rute yang berkelak-kelok sampai di jalan raya menuju rumah.

Di tempat pemberhentian elf, biasanya di rumah makan area Gunung Gelap atau Sodong ada salah satu bapak-bapak penumpang satu mobil elf yang baik terhadap kami. Ia dengan supelnya mengobrol dan menawari kami jajan dengan cuma-cuma. Walau pun memang sempat kami tolak, tapi bapak itu membayar jajanan kami dan sangat peduli terhadap kami terutama terhadap temen aku yang pusing. Ketika mengobrol ternyata bapak tersebut sengaja pulang pergi Garut Kota ke Garut Selatan untuk berburu, dan hal itu emang terbukti dari dia yang membawa senapan panjang. Dia bilang berburu adalah hobinya. Olah raga yang menyenangkan. Bapak itu pun bilang bukan jenis hewan apa yang ia dapatkan tapi perjalananan, yang terpenting ia mendapat kesenangan dan kepuasan daro hobinya yang bisa tetap dijalankan walaupun bukan anak muda lagi. Alhamdulillah selalu ada orang baik disetiap perjalanan, hehee terimakasih bapak yang gak tau namanya siapa dan suka berburu.

Sesampai di kampung halamanku, kami istirahat dulu sebentar dan kemudian akan memulai jalan-jalannya setelah adzan dzuhur. Pun setelah dzuhur kami pun memulai cerita kami dnegan pergi ke Curug Luhur, curug yang tempatnya deket banget dari rumah aku. Kemudian dilanjutkan ke Bukit Teletubis dan Pantai Sayang Heulang. Kedua tempat yang jaraknya membutuhkan kurang lebih satu jam dari rumah, sehingga kami menggunakan sepeda motor untuk pergi kesana. Kayanya jalan-jalan ke Pantai kemaren di Garut Selatan menurutku adalah salah satu yang terseru, gak seru gimana kami berangkat sore untuk memburu senja, naik motor cuma kami aja, dua orang perempuan. Pulang malam melewati jalan yang berekelok-kelok dan gelapnya minta ampun :(

Setelah cuap-cuap sana sini dan kalian yang udah merelakan waktu lima menit membaca tulisan aku diatas (*atau mungkin ada yang skip, bisa juga ada yang cuma liat doang) langsung aja aku ceritakan dan jelaskan kisah perjalanan aku di tiga tempat destinasi wisata keren di Garut Selatan. Mariiiiiii…

·         CURUG LUHUR

Curug ini emang gak terlalu rame dan sehits curug-curug lain di Garut Selatan, mungkin karena emang letak curug ini berada disebuah kampung yang jauh dari perkotaan dan masih lumayan susah diaskes kalo buat pendatang. Curug Luhur ini berada di Kampung Batusari, Lengkong, Desa Sindangsari, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut. Membentang panjang dan masih sangat bersih. Menurut aku yang kebetulan warlok di daerah yang ada Curug Luhur ini ia memiliki 4 spot buat berenang-renang dan 2 spot diantaranya memiliki view yang bagus dan oke kalo buat foto-foto. Aku jelasin spot dari sungai yang letaknya paling atas dulu ya.

Spot pertama paling atas itu cuma buat berenang-renang kecil aja, dulu disana ada sepeti gua kecil yang enak banget buat berteduh dan tempat yang pas kalo buat “liliwetan” (Masak-masakan dengan makan bareng-bareng diatas daun pisang). Tempat yang dulu waktu kecil aku dan temen-temen suka dijadiin tempat “mortas” (nyari ikan disungai) dan langsung kemudian kami bakar dan makan bareng-bareng (kangen masa kecil:”). Buat kesana, kalo dulu cuma ngelewatin kebon cabe aja, jadi kadang-kadang kalo mau main kesana kami bocah-bocah sekalian mencuri tapi berteriak meminta izin meminta cabe kepada si pemilik kebun cabe itu. Tapi sekarang kayanya udah penuh dengan semak belukar, karena anak-anak sekarang yang jarang main kesana pun kayanya gak tau itu jalan berubah jadi jalan apa.

Spot kedua itu tepatnya dipinggir jembatan banget, disana oke buat berenang-renang karena emang si sungainya berbentuk bulat seperti kolam renang (dulu) dengan batu-batu besar dipinggirnya. Kalo spot kedua itu selain dijadikan tempat berenang, dulu aku sama temen-temen jadikan juga sebagai tempat untuk mencuci karpet masjid yang panjang, berat, nan lebar itu. Namun karena ada batu-batu besar dipinggirnya memudahkan kami menyikat karpet masjid itu. Kalo buat liliwetan, kami sering masak di “saung” yang deket dari sungai itu (rumah kecil yang disawah-sawah, karena emang curug itu atasnya sawah).

Spot ketiga ini adalah salah satu spot favorit aku dan anak-anak karena curugnya berbentuk beberapa tangga. Ia berada dibawah jembatan jalan yang sering dilalui orang, namun nggak terlalu keliatan karena terhalang oleh rindangnya pepohonan. Dibawahnya ada tempat buat berenang, curug-curug kecil, dan pohon beringin yang besar mengakar kuat diantara batu-batu sehingga aku sama temen-temen dulu kadang menggunakan akar yang menggantung itu sebagai ayunan pas mau loncat ke tempat berenangnya. Airnya juga masih sangat bersih dan ada pula dijadikan sebagi sumber mata air perkampungan warga.

Spot keempat ini juga salah satu spot favorit aku sama temen-temen dulu karena tempatnya hidden paradise banget *eaaaa. Curug luhur yang ini bertempat dibawaaaaaah jalan-jalan, jauh harus turun melewati pesawahan warga dan memiliki kemiringan tanah kira-kira 50 – 60 derajat. Aku mengajak temanku ke Curug Luhur spot ke empat, karena emang tempatnya enak banget. Air terjunnya paling tinggi dan memiliki ketinggian sekitar 5 atau 8 meter ya. Aku nggak ngitung. Kita pun bisa masuk ke dalam air curug itu karena emang dibalik curug itu batu-batu curugnya udah terkikis sehingga membuat lekukan ke dalam (?). kalo mau niat basah-basahan rasakan sensasinya masuk kesana, kaya dipijit-pijit dengan backsound air curug super kerasssss. Mantap deh.

Di curug spot keempat ini, dari air curugnya langsung ada tempat buat berenang. Luaaaas dan airnya keliatan berwarna hiaju toska. Kedalaman kolam buat renang-renangnya pun dalam, buat yang nggak bisa berenang kayanya jangan nyoba deh *serem duluan*. Dipinggirnya ada sebuah gua kecil, mungkin hal terjadi karena kikisan air pula. Dulu pun, kadang-kadang ada hewan seperti monyet masih berkeliaran disekitar sana. Pokoknya curug luhur ini bertempat di area bawah bumi yang terlingkup dengan pepohonan serta pesawahan.

Meskipun Curug Luhur ini masih bersih, asri, dan ademnya gak nahan kita masih harus jaga kebersihan dan sikap kita juga ya kalo lagi ada disana. Kalo kebetulan ada yang baca blog ini explore ke Curug Luhur dan kebetulan aku ada di rumah, kalian boleh ko mampir ke rumah, bersilaturahmi :)

·         Bukit Teletubis




Bukit Teletubis ini jujur aku baru tau kemaren-kemaren karena maklum dulu aku hanya liar di gunung dan sekitaran daerah kampung aku yang menurut aku luas. Dua kali kesini dan menurut aku kemaren sama temen aku itulah yang paling seru. Timingnya pas, sore-sore gak terlalu panas dan senja juga terlihat mantap dilihat dari sana.

Bukit ini berada di Pantai Sayang Heulang, kalo dari gerbang masuk terus disana ada patung elang kita langsung kiri. Terus aja lurus sampe melewati warung-warung dan ada kemudian akan ada jalan kecil. Bukit ini tentunya persis bukit Teletubis. Berwarna hijau karena rumput-rumput halus sebagai alas kita berjalan kaki. mau lari-larian sampe guling-guling pun baju kita gak akan kotor tapi bakal bau kalo kena kotoran sapi karena emang disana pun dijadikan tempat menggembala sapi karena dipinggirnya ada perternakan sapi. *wiii mirip di dongeng dongeng*

Tempatnya pun masih gratis, belum ada pungutan biaya parkir dan bahkan kita bisa parkir bebas dimana aja asal tau tempat.  Viewnya juga bagus, karena bukit itu diatas jadi sebagian pantai berwarna biru dan persawahan pun masih terlihat. Tempatnya masih lumayan sepi. Kalo ke Pantai Sayang Heulang, rasanya sayang kalo enggak mampir kesini.

·         Pantai Sayang Heulang


Pantai ini pasti udah banyak yang tau. Yaps, pantai tetangganya pantai santolo. Pantainya penuh dengan karang-karang yang terhampar luas baru kemudian pasir. Di sebelah kanan Pantai Sayang Heulang ada sebuah jembatan penghubung menuju Pantai Santolo yang udah rusak. Menurut beberapa artikel yang aku baca katanya jembatan itu dibangun ketika jaman Belanda. Dan deket dari jembatan itu pun ada Cilauteureun, yang mana katanya itu adalah tempat bertemunya air sungai dan air laut dan hanya terjadi di dua tempat aja yaitu di Paris dan di Garut. Bagi warlok masuk ke Pantai Sayang Heulang tidak dipungut biaya, tapi kalo bagi pendatang dan kebetulan lagi musim liburan seperti liburan Idul Fitri atau taun baru biasanya dipungut biaya sebesar RP. 5000,00.

Pantai sayang heulang ini sepi kalo bukan pas liburan, enak banget kalo waktunya sore-sore buat ngadem. Kemarin aja liat senja sama sunset di pantai ini, aku sampai lupa waktu. Berat rasanya ninggalin senja sebagus itu kalo di Pantai. Debur ombak pun mendadak begitu romantis, damaaaai banget.  

Nikmatin senja dipantai ini, warna-warna langit jadi berpantul dengan air-air yang bergenang dikarang-karang yang terhampar luas menjadikan ia seperti cermin. Setiap waktu warna senja semakin berubah, menuju magrib semakin cerah, semakin indah, semakin mau dibawa pulang. Aaaah pokoknya itu juga salah satu senja terindah yang akan selalu terekam. Meskipun sempet rada kesel karena didepan kita ada sepasang orang yang pacaran lagi duduk-duduk nikmatin senja sama-sama. *Envy banget pokoknya* meningatkanku sama penculikan terindah si K dan K :( *skip*

Menurut aku pribadi, mengenai Pantai Sayang Heulang ini masih kurang rapih dan bersih, hal itu terjadi karena masih terdapat sampah-sampah ulah tangan jail yang selalu sembarang membuang sampahnya sembarangan. Semoga saja, kita semakin bisa menjaga alam kita yang gak pernah pamrih selalu kasih keindahan, kesenangan, dan kedamaian yang tiada henti.

***

Kemarin, tanggal 10 Maret 2017 satu hal yang paling aku dapet selain foto-foto adalah rasa damai yang aku dapat ketika liat senja *oke, sebagian orang mungkin akan berkata ini lebay* tapi sungguh, serius aku dan temanku sampai betah dan enggan beranjak pergi melihat pemandangan yang Allah ciptakan.

Senja yang berpantulan dengan air, suara debur ombak, bulan yang begitu bersinar *karena kebetulan mau purnama*, angin yang sejuk, perahu yang terombang-ambing di lautan sana, sepinya suasana, dan remang-remang suara diri. Ahhhhh, rasanya neptunus berhasil culik aku lagi.

Sekali lagi, kupersembahkan terimakasih untuk Allah SWT dan temanku kemarin, Teh Dian Chaerunnisa :)

P.s: Foto asli, belum diedit.


Batusari, Cisompet, Garut.

 11 Maret 2017

Rahmia Khoerunnisa