MAKNA KETIDAKLULUSAN BEASISWA LPDP

MAKNA KETIDAKLULUSAN SELEKSI BEASISWA LPDP



 Di Blog hari ini, tanggal 17 April 2017 aku ingin membagikan kisah tentang ketidaklulusanku dalam seleksi mengikuti beasiswa LPDP. Yang awalnya memang terasa sangat menyedihkan karena ternyata impianku yang ke-sekian ratus yakni ingin melanjutkan studi S2 belum bisa tercapai. Dan aku yakin, Allah punya rencana yang lebih indah :)
Melanjutkan studi S2 dengan mendapatkan beasiswa, semua pasti memimpikannya. Seperti aku, mempunyai bermilyaran impian yang aku yakin dengan melanjutkan studi adalah langkah keduaku untuk menggapai milyaran impian-impianku itu. Tapi, Allah berkata lain. Ia ternyata akan memberikan rencana yang jauh lebih besar dan hebat dari ini. Atau bisa saja ini cara Dia menyampaikan bahwa aku harus bisa lebih dekat dengannya dan cara Dia berkata "kamu harus berjuang lebih keras lagi.”
Magrib itu, aku mendapat sebuah SMS dari LPDP bahwa pengumuman beasiswa Afirmasi sudah diumumkan lewat email dan akun LPDP masing-masing. Sontak aku pun langsung merasa panas dingin degdegan tidak karuan. Aku pun berniat akan membuat diriku tenang versiku dulu sebelum membuka hasil pengumuman tersebut. Hal pertama sebelum aku solat magrib, aku menelepon kedua orang tuaku. Meminta do’a dan restu dari mereka supaya ada kabar baik menantiku. Tentunya ibuku menenangkanku, memberikan semangat, serta do’a do’a yang kuyakin tanpa diminta pun orang tuaku selalu mendoakan aku tiada henti. Ibuku pun berpesan untuk menerima apapun hasilnya, itulah yang terbaik. Tak lupa ibu pun mneyuruhku untuk membaca Al-Quran Surat Al-Fath yang memiliki arti kemenangan.
Seusai solat magrib dan isya, melakukan berbagai hal untuk membuatku lebih tenang dan tak lupa melaksanakan perintah ibu. Deg-degan yang tidak bisa dihilangkan setelah mengambil handphone untuk membuka email, aku pun bertekad untuk membuka email tersebut.
Bismillah, apapun hasilnya itulah yang terbaik. Daaaan...

"TIDAK LULUS SELEKSI ADMINISTRASI"

Ditulis dengan hurup kapital dan di Bold. Seketika aku terdiam, tanpa terasa air mata pun mengalir dan pyaaaar, aku langsung menangis sejadi-jadinya. Menangis karena kecewa terhadap diri sendiri, satu-satunya harapan yang aku punya setelah lulus kuliah dan setelah berkali-kali gagal melakukan puluhan lamaran kerja. Semuanya hilang. Kecewa, sedih, sesaat menyalahkan diri sendiri. Pikiran belum bisa membanggakan kedua orang tua kembali hadir. Pokoknya saat itu, aku benar-benar mengalami kesedihan paling sedih. Kehilangan sebuah harapan.
            Dalam tangis, aku langsung meminta maaf kepada orang tuaku atas kegagalan yang sedang aku alami saat ini. Namun, apa yang orang tuaku katakan, mereka tidak sedikit pun kecewa, mereka tidak sedikit pun bersedih melihat kegagalan yang dialami anaknya, mereka berkata:
·         Jangan menangis, kegagalan awal keberhasilan dan kesuksesan Teteh.
·         Jangan menangis, mungkin ini rencana Allah yang terbaik buat teteh. Mungkin Allah gak mau melihat teteh capek mikir untuk kuliah S2 nanti.
·         Teteh tetap jadi kebanggaan keluarga, sudah jangan menangis. Mamah sedih kalau denger teteh nangis.
·         Jangan nangis, masa anak mamah cengeng. Anak mamah mah kuat.
·         Senyum dulu atuh, biar mamah disini tenang. *dan aku pun tersenyum, tertawa.
·         Teteh pokoknya harus terus semangat. Semangat Pokoknya.

Agkkkkh, BENAR-BENAR BERSYUKUR punya orang tua super baik dan keren kayak mereka. Ya Allah, aku tau bahwa merekalah REZEKI TERBESAR dalam hidupku. Dilahirkan oleh orang tua yang benar-benar sayang dan selalu mendukung anaknya.
Seketika rasa sedih, rasa kecewa yang aku alami mulai pergi. Aku menjadi lebih tenang, plong, dan bebas. Tidak seperti waktu sebelumnya, merasa gagal dan merasa semua beban semakin banyak menimpa kehidupanku. Semua rasa negatif yang aku alami berubah menjadi rasa syukur dan bahagianya aku bahwa ternyata ada rezeki yang lebih besar dari pada sebuah pekerjaan atau pun keberuntungan. Ya, yaitu kasih sayang keluarga, kasih sayang orang tua. Sekali lagi, aku bersyukur mempunyai mereka.
Satu hal lagi makna yang aku dapat dari ketidaklolosannya seleksi beasiswa ini, yaitu pada saat aku membaca Surat Al-Fath dengan terjemahannya. Dimana ayat 1 – 4 berbunyi:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dari ayat tersebut aku mendapatkan satu hal yang menurutku sangat berkaitan dengan keadaan kehidupanku detik ini. Bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah sebuah keberhasilan, sebuah kemenangan. Apapun keadaan kamu saat ini. Allah tidak memberikan sesuatu yang kamu inginkan itu adalah cara-Nya supaya kamu bisa lebih dekat dengannya. Meminta pertolongan hanya kepada-Nya. Dan saat kamu melakukan kedua itu, Bersyukur dan menyerahkan semuanya hanya kepada Allah kamu akan mendapatkan ketenangan dan kedamaian lewat apapun datangnya.
Terimakasih Ya Allah, sepertinya aku sebagai manusia memang harus lebih banyak peka atas semua nikmat dan rezeki yang telah Engkau berikan terhadapku, terhadap keluargaku, dan masa depanku. Aku akan selalu berjuang, menunggu janji-Mu atas semua rencana yang lebih baik, lebih indah, dan lebih hebat untuk masa depanku. Ya, kita akan melakukannya. Bekerja sama ya Allah. Janjikan buat aku bisa membanggakan dan berbakti kepada kedua orangtuaku? Ya, kita sama-sama berjanji.

Bandung, 17 April 2017
Ditulis ulang karena tidak terposting gara-gara jaringan koneksi internet
Jatinangor, 24 April 2017
Rahmia Khoerunnisa


Rahmia Khoerunnisa