HIKMAH PEJUANG PEKERJA

Foto by google

Ditolak beberapa puluh perusahaan, diphp dengan sederet interview dan psikotes yang kemudian tak ada kabar padahal dibalik itu semua, kami para penganggur selalu menyimpan harapan. Ah sepertinya itu sudah biasa dan sepertinya hampir semua para pejuang kerja merasakan itu semua.

Menulis beberapa plan setelah lulus kuliah sampai plan a,b,c,d,e sampai dengan pilihan yang terakhir. Perlahan-lahan pilihan utama yang sudah usahakan kita sebelumnya tidak pernah terwujud kemudian berangsur kepilihan selanjutnya sampai berakhir kepada pilihan kerja kita yang terakhir. Pilihan kerja yang berkriteria paling bawah dibanding pilihan kerja utama kita yang pasti ingin kita kerja di perusahan terkenal dengan gajih yang besar. Pokoknya yang penting aku kerja aja deh. 

Tapi kita sebagai manusia hanya bisa berencana dan berusaha karena selebihnya hanya Allah yang menentukan. Bisa saja yang kita inginkan itu buruk buat kita dan yang kita anggap buruk itu adalah yang terbaik buat kita.


Terkadang kita selalu mempunyai kriteria tentang pekerjaan atau bahkan calon pasangan kita dengan sempurna. Ingin bagus bebet bibit bobotnya. Mencari pekerjaan itu ibarat mencari seorang pendamping hidup kita. ada yang sesuai dengan keinginan kita tapi tidak seimbang menghadapi sifat kita, ada yang pekerjaan bagus, tempat bagus, tapi pengeluaran dan penghasilan tidak seimbang. Ah pokoknya menentukan jodoh dan pekerjaan memang harus dipikirkan matang-matang untuk masa depan yang lebih baik.

Kuncinya memang dua, kita harus sabar dan berikhtiar. 

Tapi mendapat pekerjaan yang tidak sesuai ekspektasi kita dimana pengeluaran dan pemasukan tidak seimbang, aku menemukan lagi satu hal pelajaran setelah aku akhirnya mendapatkan pekerjaan baru disalah satu perusahaan ternama (Walau memang masih proses, hehe). Orang-orang yang aku kenal membicarakan gajih ditempat tersebut yang sebenarnya menurutku itu sangat jauh lebih besar dan berbeda dibanding pekerjaanku kemarin. 

Mereka menjadi setengah-setengah karena gajih yang katanya kecil, tapi aku sungguh bersyukur aku mendapatkan satu hal dimana apapun pekerjaan dan pilihan kita, itulah yang terbaik saat ini.

Disaat aku mengeluh tentang pekerjaanku nanti aku harus ingat kembali kesini, orang-orang susah mendapatkan pekerjaan, untuk sampai ke tahap ini pun aku memerlukan proses waktu yang sangat lama, mengorbankan banyak hal, keringat air mata bahkan "nadi yang hampir putus" (perumpaan) pasti kita akan korbankan demi tujuan kita saat ini.

Konsisten jika selama pekerjaan ini layak, baik, berkah dan sesuai passionmu. Walau memang nanti akan ada satu titik dimana kamu akan merasa jenuh dnegan semua aktivitas yang ada. 

Menjadi seorang robot, berangkat pagi pulang petang. Terus diulang begitu, dan begitu. Yah membayangkannya memang sudah membosankan, tapi kita harus kembali ingat pada perjuangan kita sekarang yang sampai ketahap ini kita sudah mengorbankan banyak hal, ingat kepada orang-orang yang tidak seberuntung dirimu yang bahkan mereka mendapatkan pekerjaan dengan gajih yang tak seberapa namun harus rela-rela menjual dan menjadikan nyawa sebagai taruhan, dan ingat juga kepada keluargamu dirumah. Mereka menunggumu pulang dengan wajah yang berseri dan bangga karena akhirnya kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau. Orang tuamu menangis terharu atas pencapai hebatmu, adikmu pun senang kegirangan mendapatkan oleh-oleh hasil dari keringatmu sendiri.

Ingat itu ya Mi! Konsisten, tetap berusaha dan rendah hati. Jangan hilangkan rasa sabar dalam hidupmu. 

Siapapun yang baca, sampai jumpa dicerita proses menghebatku. Semoga apa yang aku share selama ini memberi manfaat bagi siapapun yang membaca entah anakku nanti atau bahkan cucuku (pikiran yang jauh ya).

Dalam hidup kita tidak akan lepas dari yang namanya permasalahan. Jangan berlarut dalam masalahnya, tapi lihat pelajaran dan hikmah apa yang kamu ambil dari kegagalanmu, itulah yang terpenting dan paling mahal. 
:))


Bandung,09/09/2017


Rahmia Khoerunnisa