ANAK RANTAU


Hidup dirantau. Nafas karena keringatmu, senang karena lelahmu. Paksakan jalani hari karena tuntutanmu.

Hidup dirantau, semua serba mahal. Harga kosan, biaya makan, belum jajan. Bahkan senyuman dari para orang yang berlalu lalang pagi sudah langka ditemukan. Kaku.

Hidup dirantau. Tak sedikit banyak yang berkedok manusia. Tanpa hati. Tanpa nurani. Tanpa peduli. Kamu mati yaudah mati.

Mencoba bertahan hidup merantau, bisa pasti untuk tegar, lepas dari pemberian orang tua. Mencoba bertahan untuk bisa bangun di esok hari.


Kebahagiaan hanya selingan untuk tak jenuh jalani hidup yang normal ini. Kepedihan bak bumbu yang tak akan bisa hilang dari kehidupan. Renyah memang dikunyah. Untuk anak rantau.

Rahmia Khoerunnisa