SAAT SEORANG TAMU MASUK; LUKA LIKU PEREMPUAN IV




Jika sebuah luka itu bisa terbilang, aku pastikan lukaku sudah tak bisa terbendung lagi dengan deretan angka-angka. Luka dalam diam, adalah salah satu luka yang menurutku rasa luka seluka-lukanya sakit hati yang dialami perempuan. Dimana ia tidak dengan bebas membicarakan semua rasa sakitnya pada dunia, pada teman yang ia percaya karena ia tahu setiap orang punya waktu sedih dan bahagianya sendiri, juga ia tak berani menceritakan dukanya pada sosok yang menjadi penyebab rasa luka dalam dirinya karena ia tahu semua sia-sia, hanya menambah genting keadaan, hanya semakin runyam suatu ikatan. 



Dalam diri memang ingin dunia tahu “aku sekarang sedang sakit hati oleh si a karena si a begitu dan begini” sampai semua orang merasa simpatik padamu. Ah itu tidak aku butuhkan, aku hanya butuh rasa luka dihatiku hilang terganti oleh kebahagiaan yang seharusnya memang ia berikan padaku, bukan rasa sakit yang terjadi karena perbuatan yang terus diulang-ulang. 


Sia-sia rasanya sakit hatimu, tangis dan air matamu, saat kau membicarakan lukamu pada ia si penyebab luka karena toh dianya juga tak ada perjuangan atau tindakan lebih agar hatimu terjaga karenanya. 

Jangan salahkan kodrat pria yang katanya “wajar namanya juga cowok emang begitu, cuek dari sananya”. Ah enggak ko, secuek-cueknya pria dia akan berusaha membuat bahagia dan menjaga perasaannya terhadap perempuan yang ia sayangi. 

Kalo begitu yang menjadi pertanyaannya adalah “pria kamu saat ini serius sayang sama kamu?” 

Dan aku pastikan jawabnya adalah tidak. 

Runyam, pertentangan hati saat ini membuatku semakin ragu, semakin ingin pergi jauh, namun tahu diri hati tak mampu mengorbankan kenangan yang sudah lama dirangkai, tidak mampu melupakan sekejap mimpi tertinggi bersama dalam sebuah ikatan. Setiap yang saling cinta akan mendapatkan satu paket dengan luka. Tapi bagaimana jika paket jatuh cintamu lebih banyak rasa luka dibanding bahagia yang kalian ukir bersama? Andai sedih senang bisa bertakar. Mana yang paling berat, itu adalah kelanjutan dari cerita cintamu. 

Kalian adalah pemeran utama kisah kalian, dan saat orang lain masuk dalam cerita kalian berdua, selangkah kaki pun ia masuk, rumah kalian akan merasakan bau kehancuran. Aku tersadar, aku memang harus menutup pintu erat, memilih tamu yang masuk. Baik itu perempuan atau pria, baik itu temanmu atau temannya, baik itu orang asing sekalipun. Lagi, selangkah kaki pun dia melangkah, rumahmu sudah berada pada bau kehancuran. 

Dan kamu berpura kuat, kamu diam saat ada tamu asing masuk dalam rumah. 

Tentu luka ia melangkah lebih laju, duduk di ruang tamu dengan dirinya. Sedang engkau tertunduk menangis dibalik tirai kamarmu. Kamu memilih diam, kamu memilih menangis demi menghargai tamu, demi sebuah rumah yang harus tetap kokoh bertahan. 

Menyedihkan menjadi perempuan seperti kamu. 
Kamu diamkan lukamu, kamu mencoba hargai tamu yang tak sadar melangkah lebih jauh mengelilingi rumahmu. 
SEORANG TAMU IALAH LUKA 
DAN KAMU DIAM IALAH LUKA 
TAMU, KAMU, DIAM; LUKA.

:)

Rahmia Khoerunnisa