30 HARI BERCERITA| 01. PERPISAHAN



Apapun bentuk dari perpisahan, ia akan selalu melibatkan air mata.

Berpisah dengan teman, berpisah dengan keluarga, berpisah dengan kekasih, atau bahkan bepisah dalam kematian. Semua akan menjejakan air mata baik itu karena haru, bahagia, maupun luka.


Adalah tetang seorang ibu, perempuan hebat berhati malaikat yang memaksakan dirinya untuk melepas anak gadisnya untuk kembali berperang melawan keras dan kejamnya dunia. Bahagia singkat yang ia rasakan karena hanya tiga hari saja ia melihat tawa raga anaknya yang sulit sekali ada untuk mesrakan waktu keluarga kecil mereka. Tuntutan dunia penyebabnya.

Ia berkata “hatiku tenang, jiwaku damai, dan aku sangat bahagia jika kita semua berkumpul bersama. Tidak ada kebahagiaan yang aku miliki selain memiliki kalian.”

Sebelum waktu memburuku untuk segera meninggalkan, kami berpelukan. Erat. Ku tahu hangatnya berkata “jangan pergi, ibu tak mau kau pergi”, ciumnya padaku seperti yang tak ingin sadar bahwa aku bukan gadis kecil berkepang dua yang selalu ia sisir ketika sore.

Ku balas peluknya, karena ku tahu tenang damaiku ada padanya, kubalas ciumnya. Cium yang ia bilang “cium seperti seekor anak kucing.”

Aku meninggalkanmu, kita berpisah kembali ibu.

Tapi aku tahu, kemana pun aku pergi pelukmu adalah tempat untuk kembali, do’amu selalu menyertai, dan restumu tak akan pernah berlalu.

Perpisahan. Selalu menyedihan apalagi untuk dua orang yang sudah berikatan.

MINGGU, 01 APRIL 2018

Rahmia Khoerunnisa