30 HARI BERCERITA| 10. ASPIRASI YANG TAK DIDENGAR


Negara kita adalah negara demokratis. Bebas menyuarakan aspirasi dan menuntut hak-haknya baik itu lewat lisan dan tulisan. Katanya. Tapi itu katanya, merealisasikan negara yang demokratis itu sulit, yang didemokratisnya tidak mendengar malah tidak ingin ada orang yang menyampaikan demokratisnya karena mengganggu dan mencoreng nama dirinya.



Jangankan pada Negara kita yang ingin demokratis, pada ruang lingkup yang lebih kecil saja suara kita seakan dibungkam untuk tidak bersuara. Seperti pada sebuah perusahaan tempat kita bekerja, contohnya. Untuk menyampaikan aspirasi karena tidak ada keuntungan yang seimbang, sistem kerja yang tidak lagi rasional, skema kerja yang labil dirubah-rubah setiap waktu, serta tidak ada bukti transparannya saat tiba-tiba gajih kita dipotong tanpa sebab. Sebabnya ada sih, tapi kesannya seperti yang mengada-ada, potongan gajihnya pun tanpa aba-aba, langsung dipotong. Hmmm...

Beberapa bulan yang lalu para mitra (karena status kita disini hanyalah kemitraan) memang sempat menyampaikan aspirasinya langsung, namun memang tidak ada kesepakatan yang menguntungkan dari keduanya. Mungkin dia yang terhormat tidak memahami arti dari kemitraan yang sesungguhnya. Hasil telak dari menyuarakan hak kami kemarin yang ada hanya “elu membangkang, elu gak terima sistem kaya gini, yaudah elu keluar sekarang juga”.

Miris juga, ternyata ada yah tipe manusia antagonis layak sinetron sinetron Indonesia. Pemimpin yang tak mau mendengarkan aspirasi, jangankan medengar, mendatangi kami yang hanya ingin bukti kejelasan dan transparansi saja ia sukar untuk menemui. Hanya bisa berlindung dibalik kandang dengan para bawahannya yang turun tangan untuk melindunginya. Real a bos! Not a leader.

Selang beberapa hari dan keadaan sudah dingin kembali, aku yang suka menulis dimana dan kertas apapun menyuarakan kekesalanku lewat paper notes yang kutempelkan di dinding. Berisi tentang kesedihan atas kedzaliman yang terjadi dengan nada pasrah biar Tuhan yang membalasnya sendiri. Yah, harapan yang pasrah akan keadilan ini seketika terobati dengan kata “Biar nanti di akhirat mereka bertanggung jawab atas ketakadilan yang terjadi pada banyak orang mitra yang bekerja diperusahaan ini”.

Mereka tak berpikir dan tak mempedulikan banyak sarjana yang tak cukup uang sedikit untuk berkuliah tetapi hanya dihargai sekian rupiah saja, mereka tak mempedulikan banyak anak rantau yang hidup dikota orang dengan tuntuntan bayar sana sini serta mencukupi kehidupannya, mereka tak perduli dengan banyak mimpi dan harap yang mereka gantungkan dari hasil bekerja disini. Mereka tak akan berpikir kesana, mata hati dan nurani mereka sudah buta dengan kekuasaan dirinya. Meraup keuntungan dengan memeras keringat orang-orang kecil seperti kami.

Dan hari ini aku merasa ws-ku atau meja tempat kerjaku ad ayang hilang. Diselidiki singkat oh ternyata paper notes yang berisi aspirasiku hilang. Suudzon saja ada orang yang gak suka tulisan itu terpampang dan terbaca orang lain karena hari itu bertepatan dengan adanya kunjungan petinggi-petinggi apalah aku malas tahu. Mungkin orang itu takut dibaca sehingga tidak terganggu dan tercoreng namanya. Heuu. Bebas sih penguasa ini.

Lantas dari beberapa peristiwa tersebut aku berpikir rasanya jangankan di ruang lingkup yang lebih besar seperti Negara, untuk sebuah perusahaan yang berukuran sepetak gedung tinggi saja sudah sembrawut, hak-hak kami tidak bisa disuarakan, dan kami dituntut bungkam, menerima saja semua bentuk ketidakadilan yang terjadi.

Sedih menjadi manusia yang seperti itu, tidak bisa menyuarakan semua yang ingin diutarakan. Kebebasan yang semakin terenggut. Kami dipaksa menjadi seorang robot dengan manggut iya iya, berdiam diri dengan ikhlas dipekerjakan secara tak rasional.

Para penguasa memang berkuasa. Mereka sudah menTuhankan uang tanpa nurani berlakukan ketakadilan pada bawahannya. Lantas apa gunanya kata demokratis saat ini, jika tidak ada keputusan yang lebih baik dan menguntungkan diantara keduanya?
Ternyata kita memang sedang ada dalam dunia penajajahan sendiri, yakni melawan kekuasaan yang tak adil di Negara sendiri. Dan kita tak bisa berbuat apa. Kita dibungkam. Melawan mati, diam seolah apati.

SELASA, 10 APRIL 2018
RK

Rahmia Khoerunnisa