KAMPUNG HALAMAN; kembalinya teduh hariku.


“tanah lahir, adalah obat saat sendu yang mujarab. Layak dikota orang, meski sama sendiri tapi disana bumi semesta merayakan kedatanganmu, menemanimu, meneduhkan hari-harimu”
Tidak ada yang berubah dari kampung halaman. Ada sisi menenangkan ada sisi memuakkan. Menenangkan akan sumber alam yang menjamu, memuakan karena keadaan yang tak maju-maju.
Saat pulang, aku suka berjalan-jalan sendiri dengan semua khayalanku. Begitu nikmatnya merenung sendiri di tanah sendiri, begitu syahdunya semua sejauh mata memandang. Disana hanya ada aku dan kekosongan. Semua penat, luka, dan rumitnya kehidupan aku tinggalkan dulu di perantauan, karena kalau ia ikut. Kampung kota tidak akan ada pembeda.

Di kampung halaman, semua warna mendominasi hijau. Rerumputan, pepohonan, padi-padi di ladang. Layak hutan yang ramai berpenghuni. Sedang di kota, para mereka yang hijau sukar ditemukan. Ada pun terinjak kaki-kaki yang mencari kesibukan, ada juga pohon tua dijalanan. Usang, berdebu, tak ada nyawa. Mereka pohon-pohon yang sekarat. Yang berjaya hanyalah gedung-gedung, tak mencakar langit pun ia sudah menghalangi setiap langit senja yang harus dinikmati para manusia yang haus akan keindahan Tuhan.
Diperantauan, akan selalu ada titik dimana kamu merasa sendiri. merana, tidak ada yang bisa menolong semua laramu. Kamu ingin hilang meninggalkan semua penatmu. Tidak ada tempat untuk mengadu selain pada Tuhan. Tidak ada orang yang dipercaya selain doa doa yang kau panjatkan. Tapi, sendiri dikampung halaman. Semua kejamnya kehidupan seolah enggan hadir singgah disemua otakmu. Kamu merenung, alangkah indahnya hidup kamu sampai saat ini.
Rahmia Khoerunnisa
April, 2018

Rahmia Khoerunnisa