GARUT - BANDUNG VIA PANGALENGAN



Jalur selatan, salah satu jalur yang sedang ramai dibicarakan untuk salah satu alternatif mudik 2018 ini.

Berhubung kampung halamanku memang ada di Garut Selatan jadi untuk menuju jalur alternatif itu tidak sejauh teman-teman yang melakukan mudik dari Garut kota. Untuk menghindari macetnya arus balik lebaran, kami (aku dan partner mudikku) berencana melakukan perjalanan pulang kembali menuju Bandung menggunakan jalur selatan via Pangalengan. Oke, this’s experience first time for me.


Sekitar dua jam perjalanan dari Kecamatan Cisompet sampai Pantai Rancabuaya. Pantai terakhir pembatas dan penghubung antara Garut selatan dengan Pangalengan (walau menuju Pangalengan melewati berbagai desa juga)

Dua jam perjalanan itu, aku tidak bisa berhenti mengedipkan mata walau memang ini bukan yang pertama buatku melewati jalanan yang mana pinggirnya adalah garis pantai yang sangat membentang luas, tapi mereka menyuguhkan selalu pemandangan yang luar biasa yang langka sekali kau temukan.

Mirip Sumba, mirip Afrika, mirip sedang di padang Saudi sana.

Angin pantai bertiup kencang padaku yang melawan angin dengan bersepeda motor lumayan cepat, udara panas khas laut meresap pada sela-sela jaket, pohon kelapa mengangkasa berlomba tinggi, kebun jagung yang sudah mengering karena sudah dipanen, sapi-sapi kecil yang kurus mencari sisa-sisa rumput pada tanah kering tak berpohon. Ramai jalanan penuh orang yang ingin rekreasi. Sejauh mata memandang banyak tebing yang berdiri tegak sebuah gubuk kecil. Tempat terbaik untuk menyepi. Indahnya.

Banyak manusia kepanasan karena naik mobil tak beratap,demi bisa piknik bersama keluarga. Banyak manusia tertawa karena bahagia melupakan semua beban di rumah sana. Banyak manusia tanpa ekpresi fokus pada perjalanannya kini. Ada manusia yang sibuk memandangi sekitar, berdiskusi dengan apa yang ia lihat saat ini. Ya itu aku.

Setelah ada di gerbang menuju Pantai Rancabuaya, kita harus menuju kanan sebrang dari gerbang tersebut, disana ada plang informasi. Alangkah lebih baiknya kita mengecek semua kondisi kendaraan dan juga kondisi kita, karena semua jalanan tetiba berubah (tidak terlalu drastis).

Untuk perjalanannya memang sama “jadun” nanjak mudun alias menanjak dan menurun (?) seperti perbukitan, tapiiiii setelah kamu memasuki gerbang arah jalan menuju Bandung, situasi banyak berubah seketika.

113 KM menuju Bandung.
Tulisan dibenteng cat putih kuning itu menginformasikan. Perjalanan dimulai.


Perlahan udara mulai tak terlalu panas, ia berubah menjadi dingin karena kondisi jalanan berubah menjadi banyak pepohonan. Pinggir kanan dan kiri tidak ada pantai. Ia ada dibelakangku, perlahan menjauh dengan jalan yang semakin menanjak naik keatas. Kondisi jalanan sungguh sangat membuatku berpegangan erat karena jalan itu jika kondisinya menanjak semakin menanjak keatas. Tanjakan curam, turunan yang curam, belokan yang curam.
Serem juga tapi seru. Dan ku sarankan jangan melewati jalan kesini malam-malam. Kamu gak akan kuat.

Sepanjang jalan sampaaaaaai Banjaran Bandung adalah jalan dengan kondisi tanjakan dan turunan juga belokan yang curam. Aku yang terbiasa cerewet dijalanan, bernyanyi, berbincang hal hal yang aku lihat, yang baru dan mau aku tahu, seketika terdiam sunyi hanya membaca ayat-ayat Al-Quran dalam hati dan sekali berbunyi “hati-hati”, “Ya Allah” “Waw”, “Keren”, “Serem”, “Liat deh itu”.

Seperti anak kecil yang takjub sekaligus ketakutan akan hal yang baru ia dapatkan.

Jalanan yang curam dan kecil serta memang masih tidak terlalu terurus. Jalanan saat itu ramai namun tidak terlalu macet. Sekitarnya adalah rumah penduduk, persawahan, hutan dan sejauh mata mamandang adalah pegunungan yang saling sambung menyambung. Tidak berhenti aku terkesima dari perjalanan ini.

Kita seperti ada di perut bumi, yang mana jalannya adalah usus-ususnya yang rindang dengan pepohonan. Tidak kupingkiri juga dibalik jalananannya yang menyeramkan dan membuattku tepos keterlaluan ada sebuah daerah, namanya Cisewu. Dia seperti dunia dongeng zaman purba, zaman Dinosaurus.

Karena jalanan yang semakin menanjak, otomatis kita berada semakin diatas. Dan dari atas sana terlihatlah sebuah perkampungan dengan pesawahan yang berumpak-umpak terbelah oleh aliran sungai. Percis seperti Bali atau tidak, zaman Dinosaurus.
Aku takjub, ingin mengambil potret tapi tak mampu. Jalanan curam itu tak membiarkanku lengah untuk memegang handphone.

Setelah jalan Cisewu itu selesai, pemandangan cantik tak pernah habis ia suguhkan. Kami tiba di Cukul Pangalengan, dimana setiap kiri kanan adalah sebuah perkebunan teh. Seperti yang aku pernah ceritakan diblog sebelumnya tentang keindahan Cukul Pangalengan.

Lebih cepat melakukan perjalanan melewati jalur selatan, karena yakin jika melewati jalan umum macetnya luar biasa. Walau tepos dan langsung sakit karena pegel sampai badan dan kaki lebam biru tapi pengalaman pertama itu selalu menyimpan kisah yang paling berkesan.

Benar apa kata Surayah Pidi Baiq; “Bumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum”

Rahmia Khoerunnisa