Minggu, 05 Oktober 2014

Sapatu

Sapatu


Méga bodas tonggoy lumpat
Ngarérét ucing hideng nu nyorangan
Imut kareueut
Ngolébat, ngadeketan

Aya sumilir asih
Sumarambah kana rasa
Hurung layung hate
Méga pinuh kukatresna

Ucing hideng ngotélan
Resep gegetna dipépéndé
Diamparan lembutna mega
Genah ningtrimkeun sukma

Kuhayang
Nyarita geterna jajantung
Hanjakal sorana peura
Keun waé ciga sapatu
Bareng, henteu jadi hiji


Portrait Flash of Live

Portrait Flash of Live


Sinar mentari menyeludup lewat sela-sela gorden jendela yang terbuka, ia usil menerangi kamar berantakanku. Aku bangun dan mengumpulkan semua nyawaku terlebih dahulu, aku menggisik-gisik mataku, mencoba melihat jelas jam dinding yang tepat berada depan tempat tidurku. Hmm pukul setengah tujuh lebih gumamku menguap, Setengah tujuh, iya setengah tujuh. HAH setengah tujuh ? Nyawaku akhirnya terkumpul, kesadaran dari mimpi akhirnya kembali. Astaga 30 menit lagi Kereta api jurusan Yogyakarta-Bandung berangkat, dan aku belum melakukan persiapan apapun.
            Tidak, tidak ada waktu untuk mandi. Cuci muka dan gosok gigi itu sudah cukup mengatasi keadaan waktu darurat seperti ini. Kuambil seluruh barang-barang yang ku butuhkan selama berlibur untuk dimasukan ke dalam tas. Kesana kemari, bolak balik seperti setrikaan. 20 menit menuju tepat pukul 07.00, ku langkahkan kaki ku cepat menuruni belasan anak tangga. Langkahku terhenti, aku kembali menaiki belasan anak tangga itu. Jangan bertanya mengapa dulu, yang jelas untuk saat ini rasanya aku ingin menjungkirbalikan kosan dan memotong belasan anak tangga ini.
            Akhirnya tiket kereta ada di genggaman tanganku, ku tutup pintu kosan dan setengah berlari aku menuju jalan raya yang untungnya tidak jauh dari kostanku. Kucegat sebuah taksi.
“Statsiun lodaya pak” kataku singkat pada supir yang kusadari memicingkan matanya padaku. Dan aku baru menyadari kenapa supir itu melihat aneh padaku. Aku lupa menyisir rambutku. Untungnya tuhan menciptakan sempurna jari-jari tanganku, sehingga aku dengan mudah sedikit merapihkan rambutku. Ya itulah kegunaan lain dari jari tangan.
Setengah berlari meninggalkan supir taksi yang sudah ku bayar, aku mencari-cari kereta api dengan jurusan yang ku maksud, panik dan lelah menjadi satu setelah kulihat jam di tanganku yang hanya tinggal beberapa menit menuju keberangkatan. Akhirnya aku pun menemukan kereta api jurusan Yogyakarta-Bandung itu. Aku masuk dan sengaja duduk dekat jendela. Kereta api itu pun bersuara, bersiap pergi berpetualang bersama ratusan penumpang dengan sejuta potret kehidupan yang akan ia suguhkan selama perjalanan.

*****
            Adzan subuh berkumandang, aku segera berangkat ke masjid terdekat dari tempat kerjaku yang hanya seorang pelayan café ternama di Pusat Kota Yogyakarta. Aku sengaja mengambil lembur untuk bisa mendapatkan uang lebih malam ini. Hari ini, aku berencana pulang kampung. Sudah lama aku tidak bertemu dengan ibu dan adik kecilku. Seusai shalat subuh aku sengaja langsung pergi ke stasiun dengan mata menahan kantuk. Sayangnya jadwal keberangkatn kereta api masih lama, untuk itu aku memutuskan keliling pasar terdekat, mencari oleh-oleh untuk ibu dan adik perempuanku. Setelah aku membeli oleh-oleh yang aku kira cukup, aku kembali ke stasiun.
            Mataku sudah tidak bisa diajak kompromi, sedikit demi sedikit mataku tertutup lalu terbuka dan tertutup lagi hingga pada akhirnya aku pun tertidur pulas. Tanpa menyadari aku bersandar pada seorang perempuan berjaket coklat di sampingku. Aku yang saat itu berkaos hitam lusuh serentak terbangun, suara perempuan berdehem mengagetkan tidurku. Aku hanya bisa nyengir dan meminta maaf pada wanita berbola mata coklat itu. Aku tak bisa menahan kantuk, aku pun tertidur lagi.
            Akhirnya aku sudah berada tepat di depan rumah sederhanaku, hari itu cuaca cerah sekali. Ku langkahkan kaki ku membawa tas gendong yang dipaksa diisi barang-barang dan oleh-oleh. Entah kenapa aku merasa aneh, banyak orang-orang di halaman rumahku. Mungkin mereka tau aku akan pulang merantau, acara penyambutan yang luar biasa. Hari itu aku seperti raja yang baru saja datang menang perang. Aku tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka. Tapi, orang-orang di sana malah memasang ekspresi bingung dan heran. Dan lebih anehnya lagi ada perempuan yang tadi di kereta, ia tersenyum sinis padaku di depan seseorang yang terlentang lemah tidak bernyawa. “Ibu, ibu, emaaaaaaak” teriaku mengigau terbawa mimpi.
            Perempuan di sampingku kembali menatapku heran mengerutkan halisnya. Aku kembali tersenyum padanya, meminta maaf lagi dan mulai tidur lagi. “Haduuuh kenapa kebiasaan mengigauku datang bukan pada tempatnya” Kesalku dalam hati. Lalu, kulanjutkan tidurku kembali.

*****
            Sungguh, aku merasa terganggu ketika laki-laki di sampingku menyandarkan kepalanya padaku. Apalagi ketika ia ngamuk ngamuk sendiri memanggil ibu nya berulang kali. Dia telah menghancurkan moodku yang sedang menikmati lagu kesukaanku. Aku memasang muka kurang senang padanya, tapi laki-laki tersebut lantas tersenyum padaku menampakan wajah yang menyembunyikan kelelahannya. Aku tak menggubrisnya, ku palingkan muka ku menghadap ke arah jendela menatap kosong semua yang ku pandang.
            Kereta Api pun melesat cepat, hanya dengan hitungan beberapa menit pikiranku sekarang melayang pada sesuatu yang ku pandang di kejauhan sana. Hamparan petakan sawah membentang luas, langit kosong berwana biru tanpa satu titik noda menodai langit di atas sana, tebaran angin dan siraman pohon nyiur dan pohon pisang digembleng pegunungan  beriklim tropis, mentari pagi masih tetap diam membisu di balik gunung mencoba keluar perlahan dari sarangnya. Ku buka sedikit jendela membiarkan angin bermain dengan rambutku, ku pejamkan mataku, menarik nafas,dan menikmati suara merdunya alam ini.

Angin,rumput,hijau,luas. Bebas.
Bintang,purnama. Damai.
Hujan,pelangi. Harum.
Ombak,samudra,biru. Merdu.
Tanpa bersama “kamu” semua hanya ilusi
            Aku rasa itu adalah pagi terindah dalam hidupku selama aku berpergian, ku biarkan pikiranku menari-nari, dan imajinasiku berpencar berburu kebebasan. Kubuka mataku perlahan, angin masih bermain dengan rambutku. Ku lihat sekeliling, sekarang aku tidak berada di dalam kereta api, laki-laki lusuh itu pun tidak ada. Tapi hamparan sawah dengan segala keindahannya masih tetap ada tepat di depan pandanganku. Aku terdiam, memandangi sekitar. Pohon, gunung, jalan kereta, rumah warga semua menciut mengecil dan selanjutnya ku lihat tanganku, meraba pipiku, dan melihat sekelilingku. Wow aku berubah menjadi raksasa, aku pun lantas menjatuhkan badanku di hamparan sawah yang sekarang ku lihat seperti karpet bulu luas yang berwarna kuning. Aku merebahkan tubuhku, sang mentari datang tersenyum padaku. Sengaja ia datang untuk memberikan kehangatan sinar paginya.
*****
            Seketika aku mendadak kedinginan, angin dengan seenaknya menusuk kulitku. Aku terbangun, dan langsung menoleh ke arah perempuan yang duduk di sampingku. Ku lihat ia menutup matanya dan senyum-senyum sendiri dengan jendela kereta yang terbuka. Aku memandanginya aneh. Selintas aku berpikir jangan-jangan perempuan ini sedang mengigau. Aku menggoyang-goyangkan bahunya perlahan-lahan. Aku tak di gubris, ia masih tetap memejamkan matanya dan senyum-senyum sendiri. Tanpa pikir panjang akhirnya aku pun menutup jendela kereta yang ku anggap itu adalah sumber yang menggagu tidurku. Bersamaan dengan tertutupnya jendela ia langsung membuka matanya, menoleh ke arahku perlahan dengan memasang ekspresi datar tanpa bersuara satu kata pun.
“Gleukkkk” ku telan ludah dan langsung memalingkan mukaku dari tatapan marah perempuan bermata bulat itu.

*****
            Seketika peri-peri kecil yang mengipasi tubuhku dengan kipas-kipas indahnya itu menghilang lenyap. Suara alunan merdu alat musik biola pun berubah menjadi suara kereta api kembali.
            Jangankan untuk berkata padanya, melebarkan bibirku satu senti pun padanya aku tak mau. Langsung ku cap dia adalah laki-laki menyebalkan yang pernah aku temui. Andai di dunia ini tidak ada moral dan sopan santun pasti laki-laki lusuh itu sudah ku jambak dan ku tendang ke luar angkasa. Menyebalkan!
            Matahari terlihat dari tempat persembunyiannya, perlahan-lahan ia berjalan ke tempat yang lebih tinggi dari kaki cakrawala membuat gumpalan awan putih yang terlihat saling berkejaran satu sama lain. Tatapanku kembali tertuju pada hamparan sawah yang di suguhkan perjalan kereta ini. Pandanganan ku tertuju pada para petani yang berlalu lalang melewati jalan setapak sawah-sawah tersebut. Mereka memasang muka bahagia dan bersemangat karena musim panen telah tiba. Kupicingkan mata dan sedikit mendekati jendela, kulihat ada sesosok gadis berkepang dua, berpakaian sederhana, kakinya di biarkan telanjang menapaki lumpur sawah, dilihat dari perawakannya mungkin umurnya tiga taunan lebih muda dariku. Dia dengan serius dan bersemangat memotong padi setinggi pinggang orang dewasa itu. Di sawah yang sama juga aku melihat ibu-ibu seumuran ibuku melakukan seperti apa yang gadis itu lakukan. Tidak jauh dari sana aku melihat seorang laki-laki yang langsung ku kira adalah ayahnya sedang memukuli padi. Sebuah keluarga kecil sederhana yang bahagia.
            Sangat berbeda dengan kehidupan keluargaku saat ini. Aku terlahir dari keluarga yang berada, dan seandainya kakak laki-laki ku sekarang tidak sakit parah, mungkin aku tidak akan pulang secepat ini. Aku cukup malas bertemu kedua orang tuaku. Maaf, mungkin iya aku anak yang durhaka tapi percayalah kalian juga akan merasa malas melihat tingkah kedua orang tuaku. Setiap detiknya dilewati dengan bertengkar, membesar-besarkan masalah kecil dan membesarkan masalah besar menjadi masalah lebih besar. Bagiku tinggal di rumah sama seperti tinggal di film-film fantasi, perang dan perang. Jarang ada ketenangan dan kedamaian. Untungnya aku mempunyai seorang kakak laki-laki, dialah yang selalu menemani, menghibur, dan melindungiku. Ketika aku membutuhkan sosok orang tua, sosok seorang kakak, sosok seorang sahabat dia pasti selalu ada untukku. Memang kakaku yang satu ini seperti barang multi fungsi dan limited edition.Untuk itu jangan heran, jika aku lebih sayang kakak laki-lakiku di banding mereka kedua orang tuaku.
            Tapi, semenjak pilihanku untuk melanjutkan kuliah di Yogyakarta, aku jarang bertemu kakakku. Dia pun jarang menghubungiku, hanya satu atau dua kali dalam seminggu. Tapi, aku mengerti kesibukannya di tempat kerja barunya membuat ia tak memiliki waktu banyak apalagi setelah ku tau dia akan segera meminang seorang perempuan satu kantor dengannya. Ah, jujur aku keberatan kenapa kakak harus menikah secepat itu. Aku tidak mau kehilangan sosok seperti dirinya dari dalam hidupku. Satu-satunya yang bisa mengerti apa ingin dan mauku. Sekarang kakak ku terbaring lemah di rumah sakit, aku tidak tau siapa yang sekarang bersama dan merawatnya. Terserah mau bibiku, pamanku, supirku atau calon tunangannya yang jelas jangan orang tuaku. Aku malas bertemu mereka.

“Assalamualaikum mak.” Salam laki-laki lusuh itu pada seseorang yang di panggil mak di ujung telpon sana, mengagetkanku.
Muhun mak, ieu ujang tos aya dina kereta. Lami keneh cigana mah bakal enjing dugi oge.”1 Katanya menggunakan bahasa Sunda
Enya emak tong hariwang, ujang bakal ati-ati. Wartoskeun ka Sari, ujang mawa oleh-oleh kituh mak.”2 Walaupun aku tidak terlalu mahir berbahasa Sunda tapi aku mengerti apa yang ia katakan pada penelpon yang ku kira adalah ibunya.
Muhun atuh mak3, Wa’alaikumsalam” Tutup pria lusuh berambut pendek itu menutup telponnya.
            Dia menutup telpon dari ibunya, sepertinya dia sama sepertiku sudah lama tidak bertemu dengan keluarganya. Cuma bedanya dia merindukan orang tuanya dan aku tidak. Ku ambil ponselku, satu pun tidak ada pesan masuk atau telepon yang tersambung. Tidak seperti seorang wanita yang duduk di depanku yang selalu mengutak-ngatik telpon berulang kali atau seperti laki-laki menyebalkan ini yang mengangkat telpon dari ibunya. Hey, sejak kapan aku memperhatikan laki-laki menyebalkan ini. Maaf yah itu tidak disengaja ! Aku pun memejamkan mataku, mencoba untuk tidur, enggan mengaku pada diri sendiri bahwa aku iri pada laki-laki yang tertidur kembali itu.
            Aku terbangun dari tidurku, kali ini bukan dia yang menggangguku melainkan suara keras petugas kereta yang membentak seorang ibu dengan anak kecilnya. Rupanya ibu dan anak itu tidak mempunyai tiket kereta api. Lantas petugas itu memarahi, menunjukan telunjuk  tepat di depan muka si ibu tua yang menggendong anaknya. Semua orang hanya bengong melihat drama di atas kereta itu. Kecuali, laki-laki di sampingku ini.
*****
            Seketika pakaian lusuh itu berubah menjadi pakaian super hero dengan jubah merah di belakangnya, ia terbang menuju monster yang akan menerkam dan memakan ibu dan anak itu. Tanpa pikir panjang dia langsung menghajar monster berbadan super besar dan berkumis japlang itu.

 


1)Iya bu, ini ujang (sebutan anak laki-laki orang Sunda) juga udah di kereta. Kayanya masih lama, bakal sampai besok.
2)Iya bu jangan khawatir, ujang bakal hati-hati. Bilang sama Sari, ujang bawa oleh-oleh.
3)Iya bu.
 “Brak bruk beuk duar” Anggap saja suara perkelahiannya seperti itu.
Sang pahlawan pun mengeluarkan sebuah senjata andalannya berupa pistol yang ia keluarkan dari balik jubahnya. Ia menghadapkan pistol pada monster berseragam itu. Keluarlah peluru-peluru tajam berbentuk uang koin menyumpal mulut besar monster dan menembus badan-badan berbulu lebatnya. Dan akhirnya monster itu pun terjatuh mengerang kesakitan.
Ibu dan anak itu berterimakasih pada seorang pahlawan yang berdiri di depannya. Sebagai bentuk terimakasihnya ibu tua itu akan menikahkan putri kecilnya dan pahlawan itu harus siap menunggu beberapa tahun lagi, menunggu putrinya tumbuh dewasa
Tidak, tidak, imajinasiku terlalu jauh dan garing. Lebih tepatnya laki-laki lusuh itu menghampiri kondektur kereta dan terlihat ia sedang berbicara beradu suara. Melihat si bapak kondektur yang memang keras kepala dan terlihat tidak memiliki hati akhirnya laki-laki itu memberikannya uang seharga dua tiket. sebagai bentuk pengganti tiket ibu dan anak itu. Dia pun kembali ketempat duduknya, aku langsung pura-pura tidak melihat dan tidak peduli. Dia pun duduk di sampingku kembali, dan tersenyum lagi padaku. Aku tak menggubrisnya.
*****
            Aku tak mengerti dengan wanita yang duduk di sampingku ini. Entahlah, setiap ku melemparkan senyum padanya, dia selalu memalingkan muka. Setelah aku menghampiri petugas kereta tadi, rasa kantukku kemudian menghilang. Ku lihat sekeliling, semua penumpang hanyut dalam dunia mereka masing-masing. ada yang tertidur pulas sejak kereta api berangkat, ada yang mengobrol, ada yang menahan kantuk, ada yang mengotak-atik hapenya, ada yang makan, ada anak kecil yang menangis, ada juga yang mendengarkan musik seperti perempuan yang berada di sampingku. Kulihat ia asik mendengarkan lagu dari earphone putih yang ia kenakan, rambut hitamnya dibiarkan terurai. Bibirnya berkomat-kamit mengikuti lagu. Dilihat dari cara berpakaian sepertinya ia lahir dari keluarga berada.
“Apa liat-liat ?” Suaranya lembut namun tinggi dan keras, terlihat membentak.
“Eh, akhirnya si mbak bersuara juga. Tadinya saya kira mbak itu bisu” jawabku. Ku lontarkan senyum padanya sekali lagi, namun tetap saja perempuan ini memalingkan muka, mendengarkan musik kembali dan memejamkan matanya.

*****
            Kereta api berhenti. Aku menggeliat, tak terasa dua jam aku tertidur di dalam kereta. Cacing-cacing di perutku sudah mulai berdemo meminta makan. Banyak pedagang asongan lalu lalang di dalam kereta, menawarkan ini itu dan itu ini. Tidak tertarik. Aku keluar untuk mencari makan, aku baru tersadar laki-laki lusuh itu sudah tidak ada dari tempat duduknya.
            Menghirup udara segar sore, bau makanan membuat usus-ususku melilit menahan lapar. Tatapanku lurus ke depan pada sebuah rumah makan nasi padang di kejauhan sana. Ku lihat jam dan keberangkatan kereta masih lama. Aku pun memutuskan untuk makan disana. Langkah turun dari kereta, aku melihat hirup pikuk kehidupan orang-orang di stasiun. Sesak dan banyak orang. Tepat di depanku, sekejap anak laki-laki berlari sekuat tenaga, dari arah berlawanannya seorang wanita bertubuh subur berteriak bahwa tasnya di jambret anak kecil yang berlari tadi. Sebagian orang mengejarnya,dan sebagian orang lagi hanya melihat berpura-pura tidak tahu. Ku langkahkan kaki ku lagi, kuperhatikan jalan sekitar. Aku merasa aneh, ketika aku berjalan menuju rumah makan padang itu aku disambut oleh beberapa pengemis berbagai umur dengan berbagai kondisi fisik yang serba kekurangan.Aku merasa iba melihat pengemis-pengemis itu menatap penuh harap padaku dan menunggu belas kasihan orang-orang lainnya. Tapi,aku membenci seorang pengemis dengan mengandalkan anak-anaknya untuk dijadikan tempat belas kasihan orang lain. Ketika anak kecil seusianya asik bermain dengan dunia warna-warninya, ia dipaksa untuk bekerja bergelut dengan penatnya dunia. Senyum yang seharusnya tergambar di bibir mereka hilang dengan keringat lelah mereka setelah bertempur dengan polusi udara, sinar matahari dan keadaan cuaca yang tak menentu. Aku benci melihat potret kehidupan seperti ini.
Beberapa langkah menuju pintu rumah makan padang tersebut, aku di kagetkan oleh seseorang yang memanggilku. Siapa lagi kalau bukan dia yang memanggilku mbak, selain laki-laki yang menyebalkan itu. Aku pun menoleh kearahnya, dia menghampiriku dan lantas mengajaku membeli makan pada seseorang ibu tua yang hampir semua rambutnya di penuhi uban. Menggendong daganganya, dan menunggu penuh harap seseorang ada yang membeli nasi pincuknya.
Entah jin baik apa yang merasukiku, aku menurut dan mengikuti langkah kaki laki-laki yang berjalan di depanku. Laki-laki itu mengajak ngobrol ibu tua itu, mereka berdua tertawa bersama, dan aku hanya tersenyum-senyum kecil saja. Dari obrolan yang bisa ku ambil, ternyata ibu tua berkain batik lusuh itu tinggal sendirian dekat stasiun ini. Anaknya sudah lama pergi meninggalkannya entah kemana, kasian sekali nenek tua ini.
Kereta sebentar lagi berangkat, aku memesan dua pincuk nasi yang akan ku makan nanti di dalam kereta. Laki-laki menyebalkan itu kini berjalan di belakangku. Ku lihat ia memberikan recehannya pada seorang pengemis kecil berambut ikal dengan kaos hitam pudarnya menapaki jalan-jalan pinggir kereta. Aku terdiam sampai tempat duduk kereta. Keheningan menyaksikan kami bergelut dengan pikiran kami masing-masing setelah melihat kehidupan di luar kereta sana.
            Untuk saat ini aku ingin buta saja, melihat nenek tua yang berjualan nasi pincuk dan gadis kecil yang terpaksa membuang masa indahnya. Banyak anak-anak kecil tertidur di rumah-rumah kumuh pinggiran kereta, pengemis, pengamen, tukang sol sepatu, tukang gorengan, tukang koran, asongan, sampai preman bertato pun ku temui saat itu, mereka berjalan dalam teriknya matahari yang membakar kulit mereka, mencoba berteriak pada dunia. Mencoba menggambarkan kehidupan anak-anak pertiwi sengsara dibuminya sendiri.
            Suara pluit stasiun mengisi telingaku, aku melihat keluar jendela kereta. Lambatnya kereta melaju membuat hatiku sesak menonton berbagai kehidupan selama perjalanan ini. Sebagai bentuk penyambutanku menapakan  kaki di kota blabla ini, ini cukup menyakitkan untuku.
Kereta pun melaju berlari berburu waktu, meninggalkan stasiun dengan segala kehidupannya. Jauh dari sana, terowongan yang disusul dengan pemandangan indah pun kembali tersaji. Kulihat anak-anak kecil berseragam SD berlari kejar-kejaran dengan tawa lepas di wajahnya. Anak perempuan kecil berkucrit dua dengan tempat minum berwarna pink bergambar Barbie di tuntun ibunya membawa payung. Petani dengan cangkul berjalan menuju arah pulang bersama istri  dengan caping tani di tangannya. Sepasang anak muda berjalan bersama, saling tersipu malu jika tatapan mereka saling menyapa. Wajah-wajah penuh senyum, tawa dan bahagia mereka menjadi udara penyejuk hati di siang hari ini.
Aku pun tersenyum sendiri. Ada sesuatu yang terasa lain dalam hatiku

*****
            Tinggal beberapa jam lagi menuju Bandung, aku langsung merogoh ponsel di saku kanan ku. Ku telpon ibu bahwa aku kurang lebih dua  jam lagi akan sampai di stasiun kereta api bandung. Dengan riangnya ibu ku menjawab dari ujung telpon sana. Tak hentinya ia mengkhawatirkan dan mendo’akanku selama perjalanan. Sari yang berbicara padaku, adik yang duduk di kelas dua SMP ini memang sengaja sudah kuberikan sebuah ponsel agar aku bisa dengan mudah berkomunikasi dengan ibu dan keluargaku di kampung sana.
            Ku tutup telponku, tersadar ada seorang perempuan duduk mematung memandang kosong ke depan yang ku lihat hanya sebuah kursi penumpang kereta dari belakang.
 “Eh, mbak tadi saya minta maaf sudah manggil mbak untuk beli nasi pincuk ibu-ibu tadi” Kataku membuka obrolan, meskipun aku tau perempuan ini akan memalingkan mukanya.
“Tidak apa-apa.”  Ternyata aku salah, dia tak sejudes yang kukira.
“Mbak tau apa yang tidak bisa di bohongi dalam hidup ini ?” Aku bertanya membenarkan posisi duduk di kereta. Dia menoleh padaku, heran tak mengerti.
 “Sebuah perasaan, sepasang mata dan seorang ibu” Tanpa menunggu jawaban perempuan itu, aku langsung menjawabnya santai.
“Maksudmu ?” perempuan itu bersuara lagi menampakan kebingungannya.
“ Memang terkadang kita sering di hadapi dengan himpitan persoalan hidup, dan jiwa serasa tertekan oleh beban kehidupan yang kita pikul tapi percayalah mbak akan ada hikmah di balik semua yang kita hadapi dan semua yang kita lihat” lanjutku so tau dan so bijak.
 Dia hanya tertegun, diam tanpa menjawab dan merespon perkataanku. Entah apa yang ia pikirkan, wanita aneh.

*****
            Super sekali, aku seakan menonton acara TV Pak Mario Teguh saat ini. Laki-laki menyebalkan ini memang berkata benar adanya, aku memang kurang pintar menyembunyikan perasaan sedihku.

*****
Sebuah perasaan, sepasang mata dan seorang ibu.
Sebuah Perasaan ?
Membohongi perasaan sendiri bagiku adalah suatu kemunafikan, tidak akan ada satu pun manusia di alam semessta yang bisa membohongi perasaannya sendiri. Bahkan alien sekali pun. Tidak ada yang tahu dalamnya seseorang. Jika sebuah perasaan masih bisa di tutupi, lain halnya dengan..
Sepasang mata..
Ketika mulut tak mampu bersuara, matalah yang akan menjadi bahasanya. Kamu bisa tahu kejujuran seseorang dari sepasang mata.
Seorang Ibu ?
Ah, aku belum merasakannya. Hatiku tergerak, Aku ingin membuktikannya, ku ambil ponsel di tas kecilku, ku membuka menu messages dan memilih opsi write messages.
To : ibu
Bu, aku di kereta Lodaya . Sekarang aku pulang.
Send.
Ku menunggu beberapa menit. Tak ada jawaban. Ku tunggu beberapa menit lagi pasti ibu menelpon no baruku yang ku ganti sejak pertama pindah ke Yogyakarta. Ah sudahlah, yang terpenting hari ini aku benar-benar mendapatkan hikmah dari apa yang kulihat selama perjalanan. Aku masih bisa berjalan dengan kedua kakiku, menghirup udara segar, melihat dengan mataku,menggenggam-genggam tanganku sendiri sampai menyisir dengan jari-jari tanganku sedangkan masih banyak di luar sana yang terlahir kurang sempurna.
Aku masih bisa tertidur lelap, memejamkan mataku,dan menghiasi tidurku dengan mimpi-mimpiku. Sedangkan disana, masih banyak yang tidak bisa tidur karena mereka tidak memiliki rumah atau rumah mereka tidak layak pakai.
            Aku juga baru menyadari, terkadang aku suka memikirkan sesuatu yang tak ada sehingga aku pun lupa mensyukuri apa yang tlah ada dan apa yang tlah aku miliki. Seperti keluargaku sekarang,  aku terlalu muak dengan orang tua ku yang selalu bertengkar, sehingga aku selalu berharap semua rukun kembali, berandai ayah dan ibu selalu ada untuku, memanjakanku. Namun, aku sering lupa bahwa di balik semua masalah yang sering ibu dan ayah pertengkarkan mereka tetap berusaha untuk memperhatikanku, menjaga perasaanku. dan aku lupa ternyata aku masih memegang kunci kebahagiaan, untuk membuka pintu kebahagiaan bersama keluargaku.
Ponselku berbunyi.
Ibu calling
Langsung kuangkat telpon ibu.

“Assalamualaikum bu” salamku bersamaan dengan bulir bening air mata..

Ambon Sorangan

Ambon Sorangan
Rahmia Khoerunnisa

Beuki peuting beuki jempling, hawa beuki tiis nyeleceb kana kulit. Nu kadéngé ukur séahna dangdaunan nu katebak ku angin peuting. biasana reup peuting teh hawa beuki tiis, tapi kuring ngarasa hareudang bayeungyang teu puguh rasakeunana, kasima kagebah tina panglamunan saprak kuring menang balesan surat tianjeuna nu cikénéh réngsé dibaca. Teu nyangka sacongo buuk anjeuna daék papanggihan jeung kuring.
Anjeuna nu jadi kadeudeuh haté kuring ku babari geus maok gédéna duriat tepika namplok euweuh nu nyésa, anjeuna nu jadi kembang impian kuring. Anjeuna nu jadi sagala-galana keur kuring. Kacipta gegetna, imutna, geulisna, buukna nu panjang ngagebay, panonna nu sipit nembongkeun cahya ngenclong nu dipasieup bulu panon nu di carentik. Kuring sok maling panon, lamun keur leumpang ka sawah anu kabeneran ngaliwat ka imah kuring. Katinggali bitisna kokolenyayan, sukuna di antepkeun  teu make sendal. Make sinjang, raksukanna kabaya bodas kawas model bae. Matak lelenyapan séngsérang panon kuring.
Pikiran kuring beuki luhur, lagu cinta teu weleh ngagalindeng baé. Mitineung poé isuk nu bakal paamprok deket jeung anjeuna. Nyiapkeun sagala omongan nu rék di tepikeun, mudalkeun sagala eusi hate nu geus lila aya. Peuting éta kuring teu bisa saré.
Geus ninggang kana ugana, wanci sariak layung geus datang nyamperkeun  nitah kuring geura indit ka tempat nu geus dijangjikeun keur papanggih. Singket carita, kuring geus aya di tempat, kuring diuk nungguan dina handapeun tangkal nu dangdaunanana ngaroyom. Iuh, riuh, pikabetaheun.

Sajam kuring nungguan can aya waé datang. Kuring tetep anteng ngahibur diri. Dua jam, tilu jam anggeur euweuh nu datang. Kuring teu bisa bohong, hate nu asalna pinuh kukadeudeuh beak kuhandeueul. Anjeuna teu datang, gening kuring ambon sorangan.

Daun yang Kering - Rahmia Khoerunnisa

Daun yang Kering
Di hamparan rumput hijau yang nyaris sempurna seperti seonggok oase di padang pasir seseorang termenung bersama angin senja. Pandangannya lurus kedepan seolah matanya sedang menghadang matahari,jangan tenggelam. Biarkan intuisinya kabur lagi, tertuju pada bayangan di otaknya.
Bayangan itu sedikit berwarna. Perpaduan warna hitam kelam yang tidak pernah terlihat dengan sapuan putih menjadi abu. Samar dan belum jelas. Senja itu mengharuskan ia berkhayal lebih jauh, membuat bayangan itu bersatu dengan dunianya menjadi warna merah, kuning,hijau,biru dan warna cerah lainnya yang akan membuat sebagian hatinya sempurna kembali.
Disana, pohon besar yang mendekati langit merah teja sedang memperhatikannya. Seakan dia tahu bahasa manusia yang sedang bersandar pada tubuhnya itu. Ia merasakan kesunyian masuk ke dalam akar,batang hingga daun-daunnya.
Ia berkata pada angin “aku butuh sedikit hembusanmu pada daunku,agar ia berhenti terjebak dalam kebimbangan hatinya,saya tidak mau melihat anak manusia bersedih dalam sandaranku yang jelas aku adalah tempat berteduh yang menyamankan”
Lalu ia pun berkata pada seekor semut  “ambilkanlah remah-remah roti untuknya, jangan sampai ia tersesat dalam gelapnya arah hati yang ia punya sendiri, tuntunlah ia sampai cahaya baru ada dalam ujung retina matanya”
Angin menari dengan gemulai perlahan, menjatuhkan daun kering melintasi wajah berbola kusut,ada raut muka melukiskan kesal dan marah pada diri sendiri. Namun, terlihat sayang sudah merasuki hatinya yang dahulu beku,dan seketika meleleh ketika bukan bayangan lagi yang ditangkap kedua bola mata bulat itu.
Daun kering itu terjatuh tak berdaya. Ia menatapnya.
Remah-remah roti terlihat disebelahnya, hanya sekejap ia melihat.
Dia memejamkan matanya,kembali bersandar menunggu dia dan malam menyatu bersama hitam. Menikmati. Hanya ada dia, malam dan bayang-bayang.
“Sore ini saya bersandar pada sebuah pohon yang begitu nyaman. Dia memberi saya daun kering. Menyamankan namun hanya daun kering tak berarti yang hanya ia berikan. Tidak apa. Saya harap kamu tidak seperti itu,dan jangan pernah seperti itu, saya takut”

Pohon,angin dan semut itu diam menyayangkan “malang, rasa sayang membutakan hatinya.”

"MATA"

MATA


Memandang bebas, berdampingan dalam hamparan pasir menyerupai gurun sabana di Arabia sana. Bintang laut, bulu babi, keong-keong kecil, karang-karang mewarnai mengindahkan milayaran butir pasir yang tiada batasnya. Pasir-pasir menumpuk menutupi sebagian tubuh menyerupai selimut alam yang mengtiadakan jari-jari kaki mungilnya. Dari barat terlihat matahari perlahan turun kembali pada sangkarnya, langit merah teja kekuningan melukiskan lembayung menyempurnakan langit. Disebrang sana sabit melengkung tersenyum menyaksikan anak adam hawa terpercik cahaya yang terpancar dari sang surya.
Sepertinya lautan bintang jangan di tanya lagi, kala malam datang aku yakin jutaan bintang menjadi hiasan atap bumi ini. Mereka berlomba siapa yang paling terang memancar. Burung camar pun kesana-kemari bermain bersama angin, ia hadir menggoda rambut gadis disampingku yang dibiarkan terurai memanjang membuat leher jenjang itu terlihat manis. Tak berhenti disana angin semakin nakal merasuk kain-kain yang menghalangi tubuhnya, ia menikmat diserang angin senja, membiarkan diri menyelimuti dirinya dengan nafas alami.
Dalam hening, suara ombak bersenandung merdu menghangatkan batin dan jiwa kami. Kami menikmatinya. Hanya aku dan dia. Hanya ada alam yang menghidupkan kami.
Dan inilah aku, ketika alam berlomba menghadirkan sejuta keindahan untuknya. Aku hanya bisa duduk memberikan sebuah pundak untuknya bersandar. Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa melawan angin dengan dekapanku memberikan sepotong hatiku yang mencair melihat binar bola matanya menoleh ke arahku.
Dua pasang mata saling bertatap.
Sejuta keindahan ada pada bola mata itu.
Indah sekali.


Cerita Pendek "Diam"




DIAM

“Jika sang pena terus menari bebas diatas lembaran kertas, dan kertas sudah bosan karena hanya ada sebuah nama yang selalu pena tulis. Kertas marah dan pena diam, harus pada siapa lagi ia bersua jika pada kenyataannya semua hanya bertahan dalam diam”

Itu hanya khayalan di ujung mimpi, khayalan seorang putri yang sedang menungu sang pangeran datang menjemput bersama ribuan bunga mawar berwarna-warni menunggangi kereta terbangnya. Tapi, cobalah untuk bangun, ini bukan dunia dongeng lagi, ini nyata, bersama realita dan fakta bahwa putri, pangeran atau cerita seorang putri tidur akan bangun ketika di cium sang pangeran, atau sepatu putri Cinderella yang hanya bisa dipakai oleh pemiliknya saja itu hanya ilusi dan hidup dalam dongeng saja.
Seorang putri ? aku ? sangat jauh. Aku hanyalah seorang gadis berpenampilan jauh dari kata feminim. Aku tidak suka memakai sepatu kets, high heels dan sejenisnya, aku lebih suka memakai sepatu abu usangku dengan celana jins yang mungkin hanya satu bulan saja aku cuci. Untuk atasanku aku cukup memakai kaos berwarna gelap, dan untuk rambut diatas bahu juga sudah malas ku sisir.
Seorang Pangeran ? Dia ? Itu pun sangat jauh. Jauh sekali. Mempunyai penampilan yang berantakan dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang jauh dari kata pangeran atau pun putra bangsawan. Tapi,bagiku dia banyak tapinya.
Aku jatuh cinta padanya. Dengan mudahnya aku bicara itu pada sebuah tiang bertembok yang berdiri menjulang menghalangiku berjalan setelah beberapa detik lalu ia menyapaku. Aku terlalu menganggapnya berlebihan, padahal saling sapa memang hal biasa yang suka di lakukan oleh teman-teman sekelasku dan sayangnya  dia bukan melakukan itu saja padaku.
Sahabat yang berada di sampingku mengerutkan alisnya. Bingung dengan tingkah anehku yang terjadi belakangan ini. Aku bersiul pura-pura tak mengerti apa arti dari kerutan alisnya itu. Lantas ku lanjutkan perjalananku  pulang meninggalkan sahabatku yang mengikutiku dari belakang. Seperti biasa aku dan sahabatku akan langsung pulang ke rumahku yang memang tidak jauh dari kampus tempat kami kuliah. Sahabatku ini memang sangat berbeda denganku. Penampilan kami, tingkah kami, bahkan sipat dan perilaku kami. Biar ku deskripsikan sedikit tentang sahabatku biar kalian tau betapa bedanya aku dengan dia.
Namanya Arini, dia tinggi semampai, putih, berambut panjang dengan mata sipit memiliki hidung mancung dan lesung pipit yang menambah manis wajahnya. Mungkin karena hobinya yang membaca buku dan menyukai film membuat dia memakai kaca mata. Dia berpenampilan rapih, baju kusut sedikit, rempongnya minta ampun. Tapi dia terkadang membosankan, dia cinta kuliah, cinta dosen, cinta tugas dan sangat membenci kesiangan apalagi bolos. Arini ini terkadang bodoh, mungkin karena ia adalah gadis kampung yang baru pertama kali dalam hidupnya merantau jauh ke kampung orang. Aku seperti guide tour untuk Arini, dan Arini bisa menjadi kamusku,kalkulatorku, dan alarmku. Persamaanku dengan Arini adalah kami suka travell,music dan susah jatuh cinta. Jika aku ceritakan tentang Arini, awal kedekatanku, dan semua hari-hariku dengannya, mungkin cerita yang aku tulis ini akan habis dengan pembahasan sahabatku ini. Terus kapan pembahasan Dianya dong ? dia tak usah di bahas,aku takut kalian jatuh cinta juga padanya. Lanjut ke cerita tadi.
Inilah aku, sekali jatuh cinta gilanya kelamaan. Arini banyak sekali memergoki jingkrak-jingkrak sendiri di kamarku atau bersenandung dengan senyum-senyum sendiri karena memang sejak dari semester dua Arini tinggal bersamaku,dan ibu pun sama sekali tidak keberatan. Sempat ia bertanya dan mencurigaiku bahwa aku sedang jatuh cinta. Tentu saja aku menyergahnya, gengsi untuk mengakuinya. Dia menggodaku, memaksaku untuk mengakuinya. Karena tanpa ku sadari ternyata ia memperhatikan perubahan yang terjadi pada penampilanku yang bisa dibilang sedikit rapih.
Sore itu Arini mengetuk pintu kamarku, seperti biasa aku selalu tertangkap basah senyum-senyum sendiri di depan layar komputer memandangi deretan foto-foto selama kami kuliah empat semester ini.
“Hayooo, ketauan deh. Udah deh Din aku sahabatan dengan kamu itu hampir mau dua tahun, dan selama itu pula kamu tidak bisa bohong dariku, mau sampai kapan kamu bicara dengan tiang tembok kampus. Ayolah anak siapa yang tega membuat temanku menjadi gila ?” Arini yang tiba-tiba mengahampiri, menggoda, dan memaksaku untuk jujur.
“Oke Arini, aku akan mengaku. Tapi aku maluuuu” jawabku melirik Arini
“Dinda yang ku kenal jauh dari kata pemalu” Tawa sinis Arini.
“Aku menyukai, tidak tidak ini jatuh cinta, dan aku jatuh cinta sama si Andi” Jawabku dengan mudahnya jujur setelah beberapa minggu terakhir ini aku hanya bisa merasakan dan menyimpannya diam.
“Andi ? Hahaa secara penampilan sih kalian cocok, gak kebayang deh kalau kalian jadi. Tapi aku yakin kalian akan jadi pasakan terkeren dan teraneh yang pernah aku liat” Kami pun tertawa bersama, obrolan kami pun berubah menjadi mengobrolkan sosok seorang Andi yang sekarang benar-benar “sempurna” di mataku. Sampai larut malam kami membicarakannya. Hehee aku harap kupingmu tidak panas ya Andi..
            Setelah Arini tau aku menyukai Andi, aku merasa lebih lega. Lebih bisa mengekspresikan rasa bahagia,sedih,kesal,kecewa dan khawatirku pada Andi. Aku senang Arini seperti biasa selalu mengerti aku,  bahkan ketika aku sedang jatuh cinta sekali pun. Hingga suatu hari nanti, kita sedang berada di kantin tanpa gugur, badai, dan angin Arini lantas berbicara padaku.
“Dinda, mau sampai kapan kamu kaya gini, terus buntuti apa yang Andi lakukan, terus mengagumi dia, terus-terusan hanyut dalam khayalan kamu bersama dia. Kapan kamu mau rubah khayalan kamu itu jadi nyata din ? maaf ya aku aja udah capek liat kamu kayak gini,aku  udah gereget sama kamu yang jatuh cinta sama Andi. Kamu beranikan kalo kamu perlahan-lahan deketin Andi dan langsung ngomong sama Andi ?”
“Hah ? aku ngomong duluan ? segila-gilanya aku, aku gak akan mungkin ngomong duluan sama cowok, kamu tau aku kan Rin”  
“Tapi din, mau sampai kapan ? kamu mulai dari yang terkecil, kasih perhatian kamu ke dia, nanti dia juga akan ngerasa kalau kamu suka sama dia.”
“Tapi aku bingung rin, aku bodoh banget kayak beginian, aku lupa lagi caranya jatuh cinta pake logika”
“Terus mau sampai kapan ? sampai ada cewek lain yang dapetin dia ?”
“Nggak, aku gak rido”
“Yaudah” senyum Arini meyakinkanku.
“kamu mau bantuin aku kan rin ?”
“dasar bego, kamu tau sendirikan kita itu apa”
            Ya begitulah Arini, sahabatku satu-satunya ini memang bisa menjadi apa aja untukku. Selain sahabatku ia bisa berubah menjadi apa aja. Kamus,kalkulator,mata-mata bahkan motivator. Aku beruntung bisa bersahabat dengannya. Setelah dari hari itu aku pun mulai memberanikan diri menyapa atau sekedar tersenyum pada Andi. Walau pada akhirnya Arini kewalahan sendiri menenangkan gejolak perasaan senangku ketika bertemu denga Andi. Arini memang super sekali, dia selalu punya berbagai cara mendekatkan aku dengan Andi.
Sebulan berlalu dari pendekatanku pada Andi,  untuk pertama kalinya Andi chat aku di Blackberry Masagger. Tanpa busa-basi hari sabtu nanti dia mengajaku ke toko buku. Ahhh…sungguh aku sangat senang, tiada hari sebahagia itu selama akhir semester empat ini. Memang sedikit janggal, setauku Andi tidak menyukai toko buku, apalagi aku. Ah bodo yang penting malam sabtu nanti adalah malam pertamaku jalan bareng berduaan dengan Andi. Berjingkrak-jingkrak diatas kasur membuat Arini terbangun dari tidurnya, dengan setengah sadar langsung Arini kupeluk dan berterimakasih padanya. Ia hanya kebingungan, mencoba mengumpulkan nyawanya kembali untuk mencerna kebahagiaanku yang terjadi malam ini.
            Sekarang hari sabtu, Pagi ini Arini akan pulang kampung menemui keluarganya. Aku membantu arini untuk packing sambil membicarakan acaraku dengan Andi nanti malam.
“Rin, aku nanti malam harus pake baju apa ya kira-kira ?” Tanyaku memulai pembicaraanku
“ah sudah tidak usah di buat-buat, seapa adanya kamu aja. Aku yakin Andi akan menyukainya.”
“benarkah ? aku takut ia risih melihat celana lusuhku. Hehee”
“ia juga memakai celana yang lebih lusuh sepertimu, aku yakin dia tidak akan risih”
            Saran Arini yang memang selalu meyakinkanku dan selalu membuatku percaya diri. Packing selesai, Arini pun lantas ku antarkan sampai terminal terdekat dari rumahku. Selama tiga bulan kurang aku tidak akan bertemu dengan Arini, sudah pasti aku akan merindukannya dan akan sangat kewalahan sendiri mengahadapi sifatku sendiri. Sepulang dari terminal langsung kurebahkan tubuhku, pandangananku tertuju pada meja belajar Arini, ada satu buku yang terselip diantara laci meja belajarnya yang sedikit terbuka. Aku iseng mengambil buku dan membuka lembar demi lembar buku bersampul perpaduan warna coklat dengan pink bercorak itu, hingga akhirnya tatapanku mendarat pada halaman terakhir yang Arini tulis.
“Seorang pria kumal, teman sekelasku membuatkan sajak untuku, katanya akulah inspirasi pada semua karya-karyanya. Inginku membalas sajaknya dengan senyum termanisku selama kuhidup. Tapi, kenyataannya aku lebih senang dan bahagia berbagi senyumku bahkan tawaku bersama sahabatku yang baru ku tahu saat ini sedang merasakan apa yang aku rasakan juga. Biarlah semua ini hilang bersama waktu. Biarkan aku bisa hidup terang-terangan menyukaimu dalam bait-bait sajak ini saja. Semoga kamu berhenti tersenyum dan menatapku. Nuraniku tidak mau terguncang lagi. Semoga kamu bisa berbagi senyummu dengan sahabatku. Besok, aku akan pulang jumpa rindu bersama keluarga selama berbulan-bulan. Dan sudah kuputuskan, aku akan lebih rajin mengsugestikan diriku untuk melupakanmu dan melupakanmu. Sudahlah, ketika mulut terdiam, mata yang akan bicara mencoba untuk menyapa. Dan hati yang akan menuntun kembali. Aku percaya itu.
Aku tak bisa berkata, menyesal karna iseng membaca buku ini.


Minggu, 31 Agustus 2014

Anjeun, di Bulan Agustus


Anjeun, di Bulan Agustus

Layung haté kageuingkeun deui
Sanggeus wanci ngabui anjeuna
Munggaran muka carita
Haté kaotélan deudeuh katrésna
Bahé duriat tamplok taya nu nyésa

Eusi haté saha nu apal
Tong sajorélat elol
Lengit, kur mere tapak
Geus kabéngbat mah hésé
Teu walakaya

Nyingkah mun rék tilem
tong deui méré lilin
nyaangan haté hiem sakedengeun

kujemplingna peuting
ku lengitna cahya
béré kuring lilin
lilinna pareum lalaunan
bulanna baranyay caang
aya di anjeun
nu nyekel pageh kuring

Rahmia Khoerunnisa
Minggu, 31 Agustus 2014