Rabu, 13 Agustus 2014

Metode dan Teknik Penyusunan Kamus


Berikut adalah kutipan yang kami rangkaian dari pembuatan kamus dari naskah "Sanghyang Swawarcinta"

"Pamuhunan kami nyaur turun ras hidep umangen janteun ti purana windu. Sing bisajadi tuduheun urang réa nu purah ngawarah ajnyana sila jeung pahayap.

"sebagai awal kami yang turun dari ingatan, pikiran dan angan-angan menjadi untaian syair kuna. semoga bisa menjadi petunjuk bagi orang banyak dan selalu mengajari pengetahuan, keteraturan, kebijksanaan dan berpandangan luas"


Telas sinurat ring wulan kadalapan
sanghyang swawarcinta









METODE DAN TEKNIK PENYUSUNAN KAMUS

·         METODE DAN TEKNIK
Metode penyusunan kamus meliputi metode dan teknik atau prosedur penelitian. Metode penelitian yang digunakan ialah metode deskriptif, yaitu metode yang menggammbarkan data-data yang ada secara objektif. Di dalam hal ini, kamus disusun berdasarkan kata-kata yang diambil dari data yang sudah dikumpulkan dari berbagai sumber, baik majalah, surat kabar, naskah, atau buku tanpa memperbaiki atau memperhatikan baku atau tidaknya kata-kata tersebut dalam bahasa yang sedang kita teliti.

·         PROSEDUR PENYUSUNAN KAMUS
Teknik penyusunan kamus yang digunakan meliputi tahap perencanaan, penyusunan, dan tahap penyajian.
            Adapun prosedur penyusunannya meputi beberapa tahap sebagaimana diuraikan berikut ini.

1)        TAHAP PENGUMPULAN DATA (HEURISTIK)
Dalam tahap pengumpulan data atau heuristik, semua kosakata atau data yang terdapat dalam sumber data dikumpulkan, dengan cara menyajikannya  dalam kartu-kartu atau slip-slip data yang sudah disediakan berikut, makna, contoh kalimat, dan kode sumber data, bersadarkan entri, subentri, atau run on entry. Setiap kartu atau slip data berisi satu entri atau satu sub entri.

2)        TAHAP PENYELEKSIAN DATA (SELEKSI)
Semua data yang telah terkumpul dalam bentuk kartu data atau slip data dipilih dan di seleksi. Kartu data yang benar-benar penting atau sudah terseleksi dipisahkan ke dalam satu kelompok yang merupakan bahan jadi untuk penyusunan kamus, sedangkan data yang tidak terpilih dipisahkan ke dalam kelompok lain untuk dipergunakan jika diperlukan di dalam pengecekan data

3)        TAHAP GRADASI
Tahap gradasi merupakan tahap penentuan atau pemiihan tingkat utama tidaknya sebuah kata yang sudah kita seleksi. Dakam arti, kata-kata yang telah diseleksi ditentukan pennting atau tidaknya untuk dimasukkan.
Kata-kata disusun berurutan berdasarkan pola tertentu yang tetap, menurut urutan entri dan subentri/menurut urutan derrivasi tiap kata secara alfhabetis serta sistematis sesuai dengan metode penyusunan kamus serta sesuai dengan kepraktisannya.

4)        TAHAP PENYAJIAN (PRESENTASI)
Tahap ini merupakan tahap akhir dari penyusunan kamus. Dalam tahap ini, kamus disajikan degan tujuan yang ingin dicapai. Data yang sudah digradasi secara alfhabetis dan sistematis ditik dan disajikandaam bentuk buku/kamus siap pakai.
Setelah tahap penyajian selesai, kamus diharapkan dapat dicetak dan ditertibkan atau dipublikasikan kepada masyarakat secara luas.
 
Daftar Pustaka :
Suryani NS, Elis. 2014. Perkamusan Teori dan Praktik. Jatinangor: ALQA Print.












Selasa, 12 Agustus 2014

Kesejatian Sejuta Bintang - Rahmia Khoerunnisa


KESEJATIAN SEJUTA BINTANG

“Aku melihat ketulusan membentang di puncak itu. Aku tak mau ragu lagi untuk bicara jujur padamu, bahwa aku pun inginkan kesejatian itu.”
Aku yang bodoh dan selalu bertanya apakah memang alam akan selalu memberikan apa yang kita mau ? Jika iya, aku ingin bertanya. Apakah jika aku meminta sebuah kesejatian alam akan memberikannya ?

*****
            “Dia adalah seorang monster kecil dengan sejuta mimpi. Tapi, dia tidak seburuk monster-monster di film ultramen atau power ranger yang bertanduk lima, bergigi runcing, bermuka kasar dan memiliki buntut, dia hanya monster dengan rambut pendek, mata sipit, kurus dan sedikit pipi tembem. Cita-citanya ingin menjadi astronot pulang pergi ke bulan atau mungkin mampir dari planet ke planet lainnya untuk bertemu teman-temannya. Alam semesta, langit, bulan,meteor, bintang dan sodara-sodara perlangitan lainya adalah temannya. Bahkan ia bilang suara sepatu pun bisa dijadikan teman. Entahlah apa alasannya, memang sulit dipahami.”

*****
 “Hei, nona amstrong kita ada acara nih sabtu depan,temen-temen sekelas kita ada yang mau hiking, ikut gak ?” ajak salah satu teman laki-laki satu jurusannya sore itu.
“Lo ngajakin gue hiking ? lu tau sendirikan bunda gimana ?” katanya bermuka sinis memandang laki-laki kurus itu.
“Payah, gimana mau jadi astronot. Diajakin  naik gunung juga gak bisa !”
“Lu ngatain gue payah sekali lagi gue tabok!!! Tapiiii, gue coba rayu bunda dulu yah. Hehee.” Senyum sinis ngangkat alis.
Yah begitulah monster kecil satu ini, jauh dari kata sifat seorang putri,perangai yang kasar namun konyol membuat ia bertingkah jauh dari sifat perempuan. Terkecuali pada orang-orang yang ia cintai, salah satunya yaitu, bunda.
“Assalamualaikum bundaaaaa….” Teriaknya mencari bunda, melempar tas dan jaket seenaknya.
“Wa’alikumsalam.” jawab  seorang wanita paruh baya dari arah dapur.
“Bunda, Tria sabtu malam ada acara, mau ketemu sama teman-teman. Bunda pasti bakal kasih izin.”
“Kamu ini, asal jangan malam-malam pulangnya. Iya,bunda kasih izin.” Jawab bunda.
“Iya Tria janji gak akan pulang malam-malam. Tapi, Tria mungkin pulangnya siang-siang. Heheee..”
“Jadi kamu nginap ?” Tanya bunda menoleh Tria.
“Iya, bunda pinter. Tria juga janji ko bakal bawa jaket super tebal kesananya, pake tiga lapis juga Tria mau.” Kata Tria bersemangat.
“Tumben kamu mau pake jaket tanpa di suruh, emang mau kemana sih, semangat banget ?” goda bunda tersenyum padanya.
“Euuuh, mau hiking bun. Hehee..” Cengir Tria pada bundanya.
“Hah, hiking ? naik gunung maksudnya ? nggak, nggak bisa !” Jawab bunda tegas.
“Iya bunda, mau liat bintang lebih deket bunda,bunda taukan Tria suka banget sama bintang ?”
“Iya, bunda tau. Liat bintang kan dari kamar juga bisa,pokoknya bunda nggak kasih izin.” Tegas bunda sekali lagi.
“Itukan beda bunda, kenapa sih bunda gak pernah nurutin apa maunya Tria. Bunda selalu larang Tria pergi malem, bunda selalu nyuruh pake jaket tebal setiap hari. Tria selalu nurut. Tapi, kenapa pas Tria minta buat gini aja, bunda nolak. Coba kalo ayah masih ada dia pasti bakal ngerti apa maunya Tria!”. Sifat Tria yang cepat terbawa emosi, membuat ia setengah berlari meninggalkan bunda.
            Kamar kecil bercat biru itu adalah tujuannya, Tempat tidur yang bersebelahan dengan jendela membuat ia mempunyai kebiasaan seperti Ayahnya, dibukanya gorden pink dan jendela itu. Sayang bintang-bintang terusir awan yang kelam, ia tak bisa melihat temannya dengan teleskop, ia hanya memandang langit kosong yang  menghitam.
“Menyebalkan ! kenapa sih kamu harus tinggal jauh di angkasa sana.”

*****
            Di buka pintu kamar putrinya yang sedang tertidur pulas. Kebiasaan suaminya yang tak pernah menutup gorden jendela kamar menurun pada putri buah hatiya. Ia hanya tersenyum lantas menghampiri putrinya.
“Tria, Tria bangun ini udah siang” rayu bunda lembut,mengelus rambut pendeknya Tria.
“Tria, bukanya kamu mau ketemu temen-temen kamu ?” tambah bunda yang tidak dihiraukan oleh Tria.
“Gak jadi !” jawab Tria, kesal bercampur ngantuk.
“Bener ? padahal bunda udah mau ngasih izin loh, barang-barangnya juga udah ibu packing semua”. Goda bunda, melangkah meninggalkan Tria.
Tria pun terperanjat kaget, ia bangun, berteriak dan berjingkrak-jingkrak langsung menyusul bunda. Memeluk bundanya bahagia.
Aylapyusoooo bundaaaaaa” Ciuman hangat orang yang baru bangun tidur mendarat di pipi bunda.
            Semua perlengkapan packing dari A - Z  sudah Bunda Tria persiapkan. Ia memang sudah hapal dan tau betul apa yang harus di bawa ketika akan hiking.

*****
“Aduuuuuuuuuuuh” Jalan yang semakin menanjak itu membuyarkan lamunan Tria.
“Ian, kapan sih ini tanjakan berakhir, kayanya emang gak ada ujungnya.” rengek Tria bertanya pada teman laki-laki yang berada di belakangnya.
“Namanya juga naik Gunung Tri, kalo lurus jalan tol namanya.” jawab laki-laki yang di panggil Ian itu.
“Iya ya, enak kalo di gunung bisa pake jalan tol, gue gak usah capek-capek dah jalan nanjak gini” keluh Tria
“Ayo Tri, kamu pasti bisa. Tanjakannya sebentar lagi beres ko, nanti ada trek bonus diatas” sambung laki-laki yang berdiri di depannya.
“Iya, gue ramal pasti itu trek bonus nya sedikit.” jawab Tria so tau.
“ Haha liat aja nanti, nanti udah beres trek bonus itu akan ada tanjakan lagi, tapi udah beres tanjakan itu kita bakal sampai di bukit. Kalo kita gak istirahat kayanya magrib nanti kita bakal sampe” tambah laki-laki di depan Tria yang memang serba tau mendaki Gunung.
“Kedengarannya seru.” jawab Tria pendek.
“Iya, kamu belum pernah kan ngerasain senja di atas bukit ? “
“Iya ris gue emang belum pernah, senja di kota paris pun gue belum liat” jawab Tria termenung sendiri. Iya dia memang jarang melihat pemandangan yang luar biasa pada alam semesta. Hiking kali ini adalah kali pertamanya ia keluar menyapa alam. Bundanya melarang pergi jauh-jauh apalagi jika itu malam hari, dan cueknya Tria, dia tidak pernah tau kenapa ibunya melarang demikian.
“Tri, masih kuat ?” Tanya Aris menoleh ke belakang.
“Iya Ris, gue masih kuat ko” Jawab Tria tidak bersemangat.
“Yang belakang masih kuat ?” teriak Aris pada ke delapan temannya yang berjalan di belakang Tria. Menyusul setengah berteriak kepada dua temannya yang berada di depan.
“Kalo ada yang gak kuat bilang ya ? teriak Aris lagi.
            Pendakian itu sudah berlangsung dua jam, dan untungnya cuaca hari itu cerah. Sehingga memudahkan ke 14 pendaki itu berjalan melewati trek-trek menuju puncak. Jam sudah menunjukan pukul 17.00 mereka tiba pada trek bonus yang dijanjikan Aris tadi, namun mereka tidak istirahat, mereka memilih bukit untuk dijadikan tempat peristirahatan. Ribuan detik berlalu, tibalah mereka di bukit tersebut.
Langit merona kemerahan, awan jingga bergerak lembut seolah terhanyut mendengar lantunan merdu adzan magrib berkumandang di seluruh penjuru kota yang hanya sebesar telapak tangan , semuanya sangat kecil, padahal mereka berada pada ketinggian setengah gunung menuju puncak. Tria tak bisa berkata. Ia tak mau sekejap pun menutup matanya melewati senja seindah ini, ia merentangkan tangannya menyambut angin dan udara senja berawan berwarna memeluk tubuh dan menggoda kerlingan rambutnya berharap langit runtuh dan mendekap dirinya.

*****
“Ayah kamu juga dulu seorang pendaki Tri, waktu kuliah dulu dia habiskan waktu liburnya bersama gunung, pergi ke gunung itu, pergi ke gunung itu. Bunda gak tau kenapa dia begitu tergila-gila pada gunung. Padahal kan kamu juga tau, ayah kamu ahli astronomi” tutur bunda yang sedang mengiris bawang menemani aku sarapan.
“Mungkin dulu, Ayah punya selingkuhan kali bunda di hutan” kataku polos melanjutkan sarapan nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang.
“Ayah kamu gak mungkin selingkuh Tri, walau sama seorang putri sekali pun, kamu tau kan Ayah kamu gimana” Jawab bunda
“Iya bunda, aku berharap Ayah hidup kembali” Tuturku tanpa ekspresi melanjutkan sarapan menu favoritku.

*****
“Bunda, kini aku tau kenapa ayah suka mendaki. Entahlah, mungkin ini baru secuil alasan yang aku tau. Hah.. terimakasih Tuhan.” bisik Tria dalam hati memejakan matanya sekejap.
“Ayo semuanya, kita lanjut lagi biar kita semua cepat sampai ke puncak” kata laki-laki bertopi merah yang berjalan paling depan.
“Ayooooo” serempak  keempat wanita teman Tria yang juga mengikuti pendakian.
“Ahhh… tidakkah kalian menikmati senja di bukit ini ? sebentar lagi mungkin” tolak satu-satunya wanita yang menyanggah ajakan pemimpin bertopi merah itu.
“Tria, kita udah istirahat disini lebih dari 5 menit. Pendaki itu maksimal istirahat dua atua tiga menit. Nanti keburu malam, disana kamu bakal liat yang lebih indah lagi dari pada ini ko” Kata Aris.
Tria pun menurut, entahlah setiap Aris yang berbicara ia mencoba menurut, walau ada sebal di hatinya tetapi ada nilai lebih yang Tria liat dari sosok teman yang sekarang berdiri di depannya itu, membawa carrir yang besar. Rombongan pendaki itu pun kembali melanjutkan perjalannya.
Langit merah senja menghitam, udara senja tidak lagi menampakan sisa-sisa cahaya merah teja, bintang-bintang kecil mulai bermunculan menampakan sinarnya. Udara pegunungan semakin dingin, tanjakan semakin menjulang, batu-batu besar, jalan sempit dan rumput-rumput tinggi mulai menyambut kedatangan rombongan itu. Tria kedinginan dan mengeratkan sleting jaketnya. Hembusan nafas Tria terdengar kencang.
“Sekitar 20 menitan lagi kita sampai teman-teman” teriak Rendi, pemimpin rombongan pendakian.
“Masih lama ya, berharap bertemu trek bonus lagi” salah satu teman wanita Tria memulai obrolan baru lagi.
“Gila lah, cuaca pegunungan dingin banget, tulang punggung sama kaki gue ngilu semua” Keluh Tria lemah menggigil kedinginan.
“Kamu gak apa-apa Tri ? “ Tanya Aris menoleh kearah Tria.
Brukkkk!!
Tria terjatuh, semua menoleh kearah Tria. Aris mengahmpiri Tria cepat, Aris langsung membuka jaket yang kemudian dikenakan pada Tria, ia memeluk Tria yang menggigil kedinginan. Darah mengalir dari hidungnya. Semua rombongan langsung mengerubuni Tria, semua panik dan khawatir pada Tria. Begitu pun Aris.

*****
“Tria, di tas kamu bunda udah siapin obat, kalo kamu kenapa-napa kamu langsung minum obat itu ya” Kata Bunda ketika aku sedang menalikan tali sepatuku.
“Bundaaaa, ngapain bawa obat segala. Tria kan udah pake jaket 3 lapis ini, tenang ko Tria gak bakal kenapa-napa” omongku menyepelekan.
“Pokoknya obat itu gak boleh di buang” kata Bunda yang mengingat kejadian dua tahun silam ketika aku membuang semua obat yang bunda selipkan di tas ketika acara perpisahan SMA yang mengharuskan aku pulang malam.

*****
“Obat, itu obat di tas” suara Tria pelan lemah.
“Obat di tas” tambah Aris menjelaskan menyuruh salah satu temannya membawa obat.
Diminumnya obat tersebut, Tria dibaluri dengan balsem dan keadaan Tria sudah lumayan membaik.
“Tri, kamu kuatkan ? mau di terusin lagi kan ?” Tanya Aris khawatir.
“Iya ris, gue kuat ko. Gue pasti kuat” kata Tria meyakinkan.
“Sini tas lu biar gue ambil” kata Ian menawarkan.
“Kamu aku gendong aja ya ? Rend, bawain tas gue ya” Tawar Aris yang tak sempat menunggu jawaban Tria.
            Di tanjakan terakhir ini Tria di gendong oleh seorang teman sekelasnya yang memang ia kenal dari semester 2. Terdengar jelas suara hembusan nafas Aris yang terus mencoba berdiri tegak menerima hantaman tiupan udara dingin mempertahankan diri, dan menggendong Tria ditanjakan terakhir gunung itu. Keringat dingin menetes lembut melewati pipi turusnya itu, matanya kuat memandang jalan.
“Aris, maafin gue yah ?” kata Tria lemah digendongan Aris.
“Gak apa-apa ko Tri” jawab Aris tersenyum menoleh sebentar ke arah Tria.
Entahlah, mengapa senyum Aris sekarang menjadi lebih bermakna dimata Tria, ada perasaan aneh hinggap di hati Tria, berharap ini bukanlah ilusi dan bualan hatinya sendiri. Tria pun memejamkan matanya, menikmati nyamannya berada dekat Aris.

*****

“Kita sudah sampai” Tutur Aris lembut.
Tria membuka matanya perlahan, turun dari gendonganya Aris, ia melihat sekitar. Ia tak bisa berkata apa-apa. Tria terduduk lemah, tidak percaya apa yang ia lihat. Aris berpamitan untuk bergabung membantu teman-temannya untuk membuat tenda, sementara Tria sudah masuk dimensi lain. Imajinasinya membawa ia ke beberapa tahun silam, ke sebuah taman di depan rumahnya.

*****
“Tria, kalau kamu dewasa nanti, kamu harus memiliki hati yang besar dan berani nak, karena kesuksesan akan mengikuti seseorang yang mempunyai hati besar dan berani”
“Aku kan kurus yah, kalo aku memiliki hati besar berarti aku harus gendut dulu dong” jawabku polos memandang langit.
“Suatu saat kamu bakal mengerti Tri, kamu juga jangan lupa bersyukur atas apa yang kamu punya hari ini, seburuk apapun keadaan kamu, serendah apapun posisi kamu, kamu harus tetap bersyukur” Pepatah ayah yang sama memandang kosong langit berbintang sedikit.
“Aku bersyukur punya Ayah seperti Ayah” Jawabku datar sembari mengancingkan jaket tebal lapis duanya.
“Ayah juga Tri, tapi ingat juga kita itu kecil Tri, kamu tau ? Sebenarnya debu itu lebih besar dari pada kita” tutur ayah menambahkan, menoleh padaku, putri semata wayangnya.
“Maksudnya Ayah ?” Tanyaku polos tak mengerti.
“Ah sudahlah, suatu saat kamu akan mengerti. Kita masuk ke rumah aja yu, udaranya udah mulai dingin banget” ajak ayah menuntunku menuju rumah.

*****
Tria perlahan menangis, mengeluarkan bulir bening air matanya. Ia baru mengerti dan menyadari itu semua. Dia merindukan ayahnya.
“Tri, lebih baik kamu masuk ke tenda dulu gih” Aris menghampiri Tria.
“Gue masih betah disini Ris, sumpah ini indah banget” Jawab Tria lemah sekaligus menunjukan kekagumannya pada malam di puncak gunung itu.
“Iya, tapi kamu harus pulih dulu Tri, aku udah siapin teh manis di tenda. Kamu minum ya, obatnya juga minum lagi.” Aris menuntun Tria pergi ke Tenda.
“Nanti kalo api unggun udah selesai dan kamu udah pulih kamu boleh keluar.” tambah Aris menjelaskan.
Tria tersenyum pada Aris “dasar cerewet”.
            Tria pun beristirahat di dalam tenda, di balik tenda ia memperhatikan Aris yang sedang sibuk memotong kayu bakar untuk membuat api unggun. Dia baru tersadar semenjak kejadian tadi, Aris tidak memakai jaket sampai sekarang, padahal bagi Tria udara dari bukit pun sudah sangat dingin. Setelah menghabiskan teh dan meminum obat dari bundanya Tria keluar dan ikut bergabung bersama teman-temannya. Kini Tria sudah mulai kembali sehat, ceria dan menjadi monster kecil kembali. Semua tertawa dan bahagia menikmati malam bersama bintang dan langit yang berada lebih dekat bersama mereka.
            Malam semakin larut, teman-teman satu jurusan Tria satu persatu beranjak menuju tenda. Menghilangkan kelelahan perjalan mereka. Tria masih betah berada di depan api unggun, kali ini jaket yang ia kenakan bertambah menjadi lima lapis.
“Kenapa belum masuk tenda ? belum ngantuk ?” Tanya Aris menghampiri Tria.
“Gue harap, untuk malam ini gue gak ngantuk ris” Tria menoleh Aris.
“Kenapa ? Aris duduk di samping Tria.
“Ini adalah ke dua kalinya jadi malam terindah buat gue, menikmati malam bertabur bintang, rasanya gue jadi kutu yang tumbuh dikepala botak berketombe” konyol Tria keluar.
“Hahaaa.. kamu ada-ada aja. Emang pertama kalinya kapan ?” Tanya Aris mencoba menyalakan kembali api unggun yang mau padam.
“Waktu gue kecil sama almarhum ayah gue, ayah gue suka bintang dan sekarang kata bunda itu nurun ke gue” tatap Tria pada langit berbintangnya.
“Emang lo kenapa suka banget sama bintang ?” Tanya Aris ingin tahu.
“Awalnya sih emang suka usil ngintip ayah di ruangan kerjanya,ayah gue seorang ahli astronomi, ditambah lagi gue gak punya sahabat, pernah punya sih tapi mereka gak pernah tahan sama sikap gue yang over egois, mereka suruh gue rubah sikap gue, gue benci, gue gak suka di atur, yaudah gue tinggalin sahabat gue semua. Dari situ gue punya kebiasaan bicara sendiri sama langit, curhat sama bintang, ngobrol apapun yang penting kekesalan gue hilang. Berlebihan memang”
 “Hahaaa.. gak ko itu manusiawi,setiap orang kan beda-beda. Mempunyai sifat dan karakter masing-masing, berubah ke yang lebih baik sih oke-oke aja, tapi itu pun jangan sampe ngerusak sifat dasar dari pribadi sendiri, jangan sampe perubahan kita malah berubah menjadi orang lain, bahagia itu sederhan Tri, jadi diri sendiri itu juga bisa bikin bahagia” Balas Aris menasehati.
“Iya, dan ketika gue liat bintang-bintang ini, gue serasa jadi diri gue sendiri ris, gue hanya bisa ngerasain sebebas ini, ketika gue bisa liat bintang-bintang ini menghias di angkasa” Tutur Tria yang sudah mulai terbuka pada Aris.
“Gue mau nunjukin sesuatu sama lo, lo bisa bantu gue ambilin teleskop di tas gak ?” kata Tria menyuruh Aris membawa teleskop yang diberikan oleh almarhum ayahnya dulu.
Aris pun pergi ke tenda mengambil teleskop Tria.

*****
“Ngapain ? “ Tanya Aris Heran yang melihat Tria memainkan teleskopnya menengadahkan kearah langit.
“Lo bisa liat kan disana ada bintang-bintang yang berbentuk kaya segitiga gak beraturan gitu?”  Tria memberikan teleskopnya.
“Yang mana ?”
“Itu yang bintangnya gak beraturan kaya segitiga itu, ada 11 bintang paling terang tuh, kaya segitiga gak beraturan gitu kan ?” jengkel Tria pada Aris.
 “Oh iya, itu itu, kenapa emang ? itu rasi bintang ya ?
“Iya itu rasi bintang ris, yang kaya segitiga gak beraturan itu adalah rasi bintang aku, rasi bintang Capricornous.” Senyum Tria meyakinkan.
“Kamu mau tau gak sejarah terbentuknya rasi bintang aku ?” Tanya Tria yang kenyamanannya dekat dengan Aris membuat ia tidak sadar sudah berbahasa aku kamu dan bukan gue elo lagi.
“Boleh, pasti seru” Jawab Aris menyetujui tawaran Tria.
“Aku juga tau dari ayah aku, sebenernya ada dua versi, yang pertama kata Ayah aku rasi bintang Capricornous itu sebenernya jelmaan dari Aegipan, putra Jupiter dari Aix, seekor kambing betina. Ketika monster Typhoon menyerang Olympus dan memotong urat-urat Jupiter, para dewa-dewi melarikan diri dan menjelma menjadi hewan-hewan untuk menyelamatkan diri. Aegipan sendiri meskipun sudah berwujud sebagai hewan tetap saja ia menjelma sebagai ikan. Makanya, rasi bintang Capricornous kerap sekali di gambarkan seperti kambing yang berekor ikan,  Tapi Mercury bersama Aegipan berhasil mencuri urat-urat Jupiter dari Typhoon dan kemudian mengembalikannya kepada ayah mereka yang harus mengalahkan Typhoon terlebih dahulu. Nah, sebagai tanda termakasih Jupiter, Jupiter mengabadikan putranya sebagai rasi bintang Capricornous” Semangat Tria yang menjelaskan dengan tangannya yang kesana-kemari untuk mengibaratkan perkataannya sendiri.

Aris berdecak kagum memandang Tria  “terus versi yang kedua ?”
“Kalo versi yang kedua , dulu ada seorang anak yang menumbangkan kekuasaan ayahnya sendiri yang bernama Saturn, dan ayahnya bernama Caelus. Saturn mengawini salah seorang saudarinya sendiri bernama Cybele. Dari perkawinan itu lahirlah lima anak yang bernama Vesta, Juno, Ceres, Neptune, dan Pluto. Namun teringat kutukan dari ayahnya, Saturn memakan sendiri kelima anaknya begitu mereka dilahirkan, hal itu ia lakukan untuk menghindari bencana bagi dirinya. Pada saat kehamilan keenam, Cybele pergi ke Lereng Gunung Dicte untuk melahirkan anaknya agar terhindar dan selamat dari incaran suaminya. Sekembalinya ke istana Saturn, Cybele berpura-pura mengerang kesakitan hendak melahirkan. Setelah persalinan pura-puranya selesai, dia menyerahkan bungkusan bayi kepada Saturn untuk ditelan. Tanpa memeriksanya Saturn menelan bungkusan itu, yang ternyata berisi sebongkah batu.” Jelas Tria bersemangat.
“Terus, nasib anak keenam Saturn gimana ?” Tanya Aris semakin penasaran.
“Nasib anak keenam Saturn dan Cybele diasuh oleh para peri di hutan Lereng Gunung Dicte yang bernama Melia dan Adrestea. Mereka menamai bayi itu Jupiter. Para makhluk disana menyayangi dewa kecil itu seolah mereka tahu bahwa kelak Jupiterlah yang akan membebaskan mereka dari cengkraman ayahnya sendiri,Saturn. Disana ada seekor kambing betina bernama Amalthea, dia sangat menyayangi Jupiter, setiap hari ia selalu memberikan air susunya kepada Jupiter. Kelak setelah Jupiter berkuasa, Amalthea ditempatkan diangkasa diantara para bintang menjadi rasi bintang Capricornous” Senyum Tria pada Aris
“Sepertinya kamu tau segalanya tentang bintang” Kagum Aris
“Itu semua karena ayah, ayah begitu jatuh cinta pada alam semesta apalagi bintang. Saking cintanya dia, dia memberikan salah satu nama galaksi di namaku” Bangga Tria membanggakan ayahnya.
“Nama kamu ? “ Heran Aris berdecak kagum untuk kesekian kali.
“Iya, Tria Anisa Ningrum di ambil dari salah satu nama galaksi yang bernama Triangulum Galaxi. Kata ayah, Galaksi Triangulum  adalah anggota ketiga terbesar dari kelompok-kelompok galaksi lainnya setelah Milky Way Galaxsi , galaksi yang kita tempati ini.” Tria tersenyum menatap langit tertuju pada rasi bintang lainnya.
“Dan disebelah sana, itu adalah rasi bintang ayah ku. Aquarius” Tunjuk Tria pada sekumpulan bintang di langit sana.
 “Oh yah, Aquarius sama kaya aku, zodiak aku juga Aquarius, oh itu rasi bintang Aquarius” gumam aris sendiri terlihat bodohnya.
“Kamu juga Aquarius ?” Tanya Tria sedikit terkejut.
“Iya Tri, bisa kan kamu ceritakan semua tentang rasi bintang Aquarius ?” Pinta Aris memandang mata sipit Tria.
“Tentu, aku senang berbicara tentang bintang”. Ujar Tria senang dan bersemangat.

*****
“Ayah, ini buku apa?” Tanyaku pada ayah yang sedang asik menulis di meja kerjanya. Dia melihat kearahku, dan mengahampiriku melihat buku yang sedang ku pegang.
“Oh, ini buku tentang Rasi Bintang” Jawab Ayah menggendong ku untuk duduk di pangkuannya.
“Rasi Bintang itu apa ?” tanyaku polos pada Ayah.
“Rasi bintang itu adalah sekelompok bintang yang tampak berhubungan satu dengan yang lainnya.Coba kamu lihat, yang ini rasi bintang kamu”  Tunjuk Ayah pada salah satu gambar yang ada di buku itu.
“Ko gambarnya ada kaya mbe yah ? Tanyaku bingung melihat sederet gambar-gambar yang katanya itu adalah rasi bintang, bintangku. Dia pun menjelaskan dengan tenang dan bersemangat padaku seperti aku menceritakan rasi bintangku pada Aris malam ini.
“Rasi bintang ayah apa ?” tanyaku lagi-lagi pada ayah, dengan sabar dan tenang ayah menjawab “Aquarius” masih teringat senyum ayah waktu itu. Gurat di pipinya terlihat sedikit ketika ia tersenyum.
“Menurut cerita, Rasi bintang Aquarius itu merupakan penjelmaan dari Catamite atau Ganymede, seorang putra King Tros dari Calirhoe. Catamite memiliki perwatakan dan wajah yang sangat rupawan sehingga membuat Jupiter jatuh hati padanya. Sehingga mengutus rajawalinya, Aquila untuk menculik Catamite dan membawanya ke Olympus untuk dijadikan pembawa cawan pribadi dan kekasih Jupiter. Sebagai ganti penculikan Catamite, Jupiter memberikan kuda-kuda perkasa dan pohon batu mulia kepada King Tros. Untuk mengenang peristiwa penculikannya Jupiter membuat Catamite menjadi rasi bintang. Jupiter juga menjadikan Aquila sebagai rasi bintang dan menempatkannya di dekat rasi bintang Aquarius untuk menjaga Catamite. Konon, bangsa mesir kunolah yang menamai rasi bintang Aquarius sebab kemunculannya di langit menandai sungai Nile meluap membanjiri pesisir Mesir dan membawa lumpur hitam yang menyuburkan tanah mesir.” Kata Ayahku menjeslakan panjang lebar yang membuatku harus berkonsentrasi mengingat dan menyuruh ayah mengulang-ulang nama-nama dewa itu.
“Ketika matahari berada pada rasi bintang Aquarius. Aquarius berada diantara Capricorn rasi bintang kamu” Tutur Ayah ku menambahkan.
 “Tria,Tria tau tidak bahwa rasi bintang Aquarius akan selalu berada disamping rasi bintang Capricorn ?” Tanya ayah padaku saat itu.
“Nggak tau yah” jawabku singkat, penasaran akan jawaban ayah.

*****

“Terus ayah kamu jawab apa ?” Tanya Aris penasaran sama seperti penasaran Tria beberapa tahun silam.
“Ayah  cuma tersenyum dan memeluku, tapi aku tau apa jawabannya sekarang” Tria menatap rasi bintang ayahnya.
“Mungkin itu perumpaan ayah yang tidak akan pernah meninggalkan aku, putrinya. Dan aku yakin meskipun ayah sudah tidak ada di dunia,dia akan selalu ada untukku”. Senyum Tria yang tetap menatap rasi bintang Aquarius itu, bulir air mata pun perlahan keluar di sudut mata hitamnya.
“Ayah kamu keren Tri, dan menurutku itu nurun kekamu juga”. Aris mengusap lembut air mata Tria.
Tria menatap Aris, dia tertawa kecil “Haha.. dulu sih aku suka sekali berbicara banyak hal tentang bintang,angkasa, langit apapun itu bersama ayah. Tapi sekarang nggak pernah bisa, aku hanya bisa melihat dari jendela kamar lewat teleskop.”
“Lo kenapa ?” Aris balik menatap Tria.
“Bunda gak pernah ngasih izin aku keluar malam, dan untuk pertama kalinya aku pergi malam sejauh dan selama ini, dan andai dia tau kalo jam segini aku masih di luar, sepertinya kamu yang akan pertama di gantung bunda” Senyum mengejek Tria
“Lah, kenapa ?” Aris mengerutkan alis hitamnya.
“Karena kamu yang buat aku bisa betah duduk di puncak ini, makasih yah. Karena kamu banyak nanya, aku jadi sadar sama perkataan ayah dulu”. Tutur Tria datar.
“Makasih juga udah mau gendong aku ke puncak”. Tambah Tria datar lagi.
“Gak apa-apa ko Tri, aku seneng bisa bantu” bisa bantu seseorang yang ia sukai tentunya celoteh Aris di dalam hati.
“Kenapa ibu kamu gak pernah ngizinin keluar malam ?” Tanya Aris membuyarkan keheningan yang berlangsung sebentar.
“Aku juga gak tau apa sebabnya, tapi aku baru sadar mungkin aku punya penyakit yang sampe sekarang ibu gak mau ngasih tau apa penyakitnya, taulah bodo!” Tria mendekatkan tangannya pada api unggun kecil di depannya.
“Kamu memang beda Tri, aku seneng bisa bicara banyak sama kamu disini” Aris yang mulai berani membicarakan kekagumannya pada Tria.
“Aku juga baru pertama kali ini bicara banyak ke orang lain,selain Ayah dan bunda tentunya, thanks yah” Kini Tria menempelkan telapak tangannya pada pipi tembemnya, dan itu dilakukan berulang-ulang.
“Gak apa-apa ko, malahan aku seneng. Kamu kedinginan, mau ke tenda ?”. Tanya Aris menoleh kepada Tria yang bertingkah lucu di depannya.
“Aku masih betah Ris, jarang-jarang aku jam segini ada di luar kan. Tapi jangan bilangin bunda aku yah ?”
            Hening.
Di bawah sabit bulan yang bersinar pada masanya, detakan jarum jam tangan Aris mengalun tajam,menertawakannya. Terombang-ambing diluasnya sejuta perasaan yang timbul. Tenggelam dalam kekaguman pada seorang monster kecil di depannyanya. Ia berusaha mengumpulkan sejuta keberaniannya.
“Tria, lihat itu” Tunjuk Aris pada salah satu bintang di sebelah barat. Tria pun langsung melihat langit barat yang ditunjuk Aris.
“Aku memang tidak tau tentang perbintangan. Tapi sebagai pendaki, setidaknya aku tau empat rasi bintang penunjuk arah mata angin. Di langit barat itu ada salah satu bintang yang bernama rasi bintang Orion, Rasi bintang Ursa Major di sebelah Utara, Rasi bintang Crux disebelah Selatan dan Rasi Bintang scorpion di sebelah tenggara. Dimana selain sebagai penerang dan penghias langit dunia. Bintang yang berkelompok pada bola langit malam dan membentuk suatu rasi atau konfigurasi juga bisa di gunakan sebagai penunjuk  arah mata angin. Bagiku semua itu indah, tapi aku bermimpi lebih indah lagi untuk membuat rasi bintang baru denganmu sebagai penunjuk arah kebahagian yang aku yakin semuanya ada padamu.” Aris menatap yakin kedua bola mata wanita yang berada di depannya.
 “Maksud kamu ?” Heran Tria.
            Bersama dengan malam yang semakin pekat, bintang yang semakin terhampar luas di angkasa sana, rembulan sabit bersembunyi malu menyaksikan seorang laki-laki menyatakan keinginannya berbagi bintang untuk membentuk rasi bintang baru. Seketika monster kecil pecinta bintang tersebut menjadi seorang putri bergaun berbunga cantik yang bertemu dengan pangeran berkuda putih.
*****

 “Aku melihat ketulusan membentang di puncak itu. Aku tak mau ragu lagi untuk bicara jujur padamu, bahwa aku pun inginkan kesejatian itu”.
Malam ini alam telah memberikan jawaban atas semua pertanyaanku.
Kesejatian sebuah cinta.
Cinta dari Tuhan
Kita yang hanya sebesar butir debu dibawah hamparan jagat raya ini, benar tiada daya dan harga dihadapan-Nya. Mulai lah dengan bersyukur, bersyukur atas apa yang kita miliki dan yang kita hadapi karena semua itu akan membuat kita memiliki hati yang besar dan berani. Sempatku mengeluh mengapa aku hidup ditengah-tengah penyakit yang aku sendiri tidak tau penyakitnya. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya aku berkata aku bersyukur memiliki penyakit ini, ambil sebab sederhanya saja. Jika aku tidak memiliki penyakit ini, mungkin aku tidak akan memiliki koleksi-koleksi jaket dari tebal yang 1 cm sampai yang tebalnya 10 cm, atau mungkin aku tidak akan merasakan kedinginan saat musim hujan tiba, mungkin saja aku tidak terlalu diperhatikan oleh bunda dan jika aku tidak memiliki penyakit ini mungkin aku tidak akan terjatuh dan di gendong oleh Aris. Hehee.. bersyukur memang tidak akan pernah habis alasan.
Cinta dari Ayah dan Bunda
Seluruh Ayah dan Ibu di alam semesta pasti menyanyangi anak-anak mereka, sekalipun itu seorang ayah atau ibu alien. Mereka tau apa yang kamu inginkan dengan memberi apa yang kamu butuhkan. Percayalah, jangan remehkan kedua orang tersebut, apalagi sebuah do’a dari mereka. Karena apa ? do’a mereka lebih cepat dari galaksi Andromeda yang memiliki satu juta kecepatan cahaya. Tidak percaya ? Buktikan sekarang juga. Dan yang terakhir, kesejatian dari sebuah cinta yang baru kutemui usai senja tadi.
Dia
Lucu memang, wanita bisa jatuh cinta karena alasan yang spele, entah itu karena sifatnya yang cuek,gila,pendiam, dari wajahnya yang sangar,kalem atau imut-imut sekalipun, dari penampilannya yang rapih sampai kucel tak berbentuk. Tapi dia lain, aku tak menemukan satu titik alasan apapun kenapa aku bisa secepat ini jatuh cinta padanya.Karena bagiku, menyukai seseorang tanpa alasan adalah jatuh cinta dan sesuatu tanpa alasan itu adalah sebuah ketulusan.

Tak perlu menunggu dan rindu kapan kita bisa jatuh cinta dan dicintai, waktu akan berjalan dengan sendirinya. “Akan tiba waktunya, dia yang terlahir kedunia, dia yang kita kenal akan menjadi seseorang yang rela berbagi dunianya untuk kita dan bahagia bersama.” (Dee,Perahu Kertas). Yang terpenting sekarang berusalah menjadi orang yang lebih baik tanpa merubah sifat dasar dari diri kamu sendiri.
*****

Tidak ada yang menyadari Rasi Bintang Aquarius malam itu bersinar lebih terang dari biasanya, mereka tersenyum melihat seorang monster kecil itu tumbuh menjadi seorang putri yang dewasa. Seseorang pun tak akan khawatir lagi, telah ada sosok yang menggantikan posisinya. Tidak, maksudku bukan digantikan. Tapi, sekarang putrinya, Tria Anisa Ningrum memiliki rasi bintang Aquarius ganda. Yang satu tetap dilangit, dan yang satu menetap dihati.



SELESAI