Sabtu, 05 Maret 2016

KKNM UNPAD 2016 - Desa Ciherang, Pasawahan, Purwakarta

KKNM UNPAD 2016
Desa Ciherang, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta



Saat ini, hari Minggu pagi di kota Bandung aku sedang rindu. Pada sekumpulan orang-orang yang berwajah yang tertera pada foto diatas. Space berhenti, entah dari mana harus aku mulai meluapkan segala rinduku pada kenangan 29 hari ini, entah dari kata yang mana aku harus mengabadikan kisah indah dalam waktu yang singkat ini. *hening*

Dua bulan yang lalu, saat itu hari ini adalah pertama memulai "kehidupan baru" yang tentunya akan berbeda dengan hari-hari biasanya. Bersama 20 orang lainnya aku dan teman-teman baru yang saat ini lebih tepat kusebut sebagai keluarga membuat kenangan dalam masing-masing dalam hidup kami.

Rutinitas-rutinitas yang memang biasa dilakukan waktu itu membuat semua kerinduan itu muncul. Kebersamaan yang kami lakukan bersama-sama membuat sesak akankah semua kenang bisa terulang ?

Bangun pagi dengan Teh Lany adalah orang yang selalu bangun paling pagi, pergi ke pasar nyubuh-nyubuh buat bisa makan enak, makan pagi yang langsung serbu warung bu basreng dan pak ketoprak, sungai ciherang tempat main antengnya Teh Dea, ngantri mandi yang siapa cepat sebut nama dia yang mandi, jadwal masak dan cuci piring yang udah pada diatur, nonton film bareng dengan lebih seru nonton ekspresi Innal ketimbang nonton filmnya, tim horornya andika and the geng, tim korea eonny olan dan oppa eza, main kartu uno dan werewolf yang selama disana aku gak pernah ikutan main, bergitar ria tiap malam bikin berisik tidur tetangga dengan lagunya "Kisah Cintaku- Peterpan" yang di request sama barkah ampir tiap malem, sawah ciherang tempat sejarah bagi innal, bakso pak gembul yang ampir tiap sore kita kunjungi, pasar kaget ciherang yanga da tiap hari selasa kita makan enak dengan harga yang murah, listrik dan air yang setiap haru rabu selalu mata dan kebetulan itu jadwal piket aku dan Teh Dea, ifah *maaf* anak tuna rungu yang selalu semangat bercerita tentang kisahnya dan mengajarkan bahasa isyarat bersama kami terutama aku dan Ais, main-main ke kota bareng-bareng, sungai cidomas yang bakal selalu aku inget dan tragedi lebaynya, lagu sahabat kecil yang entah kenapa kalo aku denger lagu itu aku langsung baper sama kisah kita, sakit mataku yang kemudian menular kesana-kemari *maaf:(, anak-anak ciherang yang selalu habis pulang sekolah langsung ke rumah kita ngajak main lompat tali, acara bonding yang bikin kita jadi lebih deket, rapat-rapat tiap malem yang dilakukan setelah makan dan sebelum main werewolf, senam bersama ibu-ibu, ngaliwet bersama,  dan masih banyak lainya yang sungguh sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan betapa kerenya kisah kita.



















Sabtu, 02 Januari 2016

STONE GARDEN - PADALARANG



STONE GARDEN
Catatan pertama, perjalan pertama di tahun 2016

Oke fixs malam itu aku dan ketiga temanku berencana pergi ke salah satu tempat yang lagi hits *walausebenarnyaudahadalama* di Padalarang. Stone Garden. Kita berangkat jam tujuh pagi, niatnya sih mau berburu tempat itu biar nanti disana gak terlalu banyak orang dan kita mau puas-puasin buat hunting foto, tapi memang manusia itu jagonya bikin rencana dan Allah juaranya punya rencana yang lebih baik, kita dibiarkan menunggu dua jam di stasiun kereta api karena tiket jam 07.00 pagi udah habis. Tapi kita dibawa asik dan tetep enjoy, salah satu temanku berkata “Kita tidak akan tau kedepanya gimana, yang pasti kita jangan mengeluh ketika keinginan kita tidak sesuai rencana, dibawa havefun aja biar gak ngerusak perjalanan kita”. (Aku kasih bold karena itu kunci penting buat kita semua biar asik menikmati perjalanan yang ada).

Menurutku, bepergian memakai kereta api itu lebih baik ketimbang naik angkutan umum. Selain biayanya yang pasti murah dibandingkan angkutan umum yang sering bikin kita sedikit kesel karena harus bayar lagi saat supir atau kondektur nagih lagi karena kita kurang bayar dan kebetulan kita lagi pengen hemat *kanngenes* juga kereta api itu bebas macet juga gerah seperti di jalan raya pada umumnya, perjalanan terasa lebih cepat, tepat waktu dan tak jarang kita pun disuguhkan dengan pemandangan-pemandangan yang jarang kita temui baik itu sawah-sawah yang terhampar luas ataupun rumah-rumah kumuh setiap pinggir kereta. Kalo kalian peka terhadap apa yang kalian lihat selama perjalanan, aku yakin kalian bakal lebih menikmati itu semua ketimbang terus-terusan main gadget.

Berbicara tentang hemat, kita kita yang hobi jalan-jalan pasti gak mau dong pengeluaran duitnya terhambur sia-sia. Manusia itu ada dua tipe, satu yang senang pake koper dan dua yang suka pake ransel. Kamu yang mana itu urusanmu sama isi dompet, yang penting kita sampai ke tempat tujuan kita. Tapi, jangan salah setiap perjalanan itu tidak berkesan ketika kita di destinasi tempat wisata itu, melainkan keeping-keping kisah untuk sampai kesanalah yang paling berkesan, semakin kamu mengeluarkan duit banyak maka fasilitas semakin memadai dan semakinlah kurang cerita gila nan menyenangkan yang dapat. Menurutku.

Saatnya kita fokus berbicara Stone Garden.

Stone Garden atau Taman Batu ini letaknya di daerah Padalarang, tetanggaan dengan tempat wisata Gua Pawon dan Bersebelahan dengan Situ Ciburuy *walau dari sana agak jauh*. Yang menjadi daya tarik tempat wisata Stone Garden ini adalah batu-batu yang mirip dengan kerang-kerang laut yang menghampar, besar, tinggi, bentuk-bentuknya yang unik dengan view 360° bumi terlihat semua karena letak Stone Garden ini berada diatas bukit. Pokoknya pemandangan di Stone Garden ini tidak akan mengecewakan, banyak spot foto yang keren buat kalian para pecinta fotografi. Tiket masuk Stone Garden sangat terjangaku, pengunjung diharuskan membayar RP. 5000,00 untuk bisa masuk kesana. Suasana di Stone Garden ini masih sejuk karena berada diatas bukit walau siang hari memang panas karena di pusat Stone Garden jarang ada pohon. Tapi tenang, ada saung-saung ko yang siap meneduhkan kita kalau kecapean atau kepanasan berwisata. Disana juga terdapat sebuah kuburan, katanya kuburan tersebut merupakan sesepuh zaman dulu. Sekarang ini, akrena musim hujan ada rumput-rumput liar bertumbuhan membentuk padang hijau yang sangat cantik di pinggir-pinggir bukit dengan kemiringan sekitar 20° - 30°. Padang rumput itu pun tak lepas jadi spot untuk berfoto, tapi hati-hati karena padang rumput tersebut merupakan batas wilayah Stone Garden dan juga sedikit berbahaya jika kita berjalan terlalu jauh. Jangan nekat, tapi terkadang nekat itu memang menyenangkan *asal memperhatikan keselamatan*

Konon katanya Stone Garden ini zaman dulu-dulunya banget adalah sebuah pantai karena memang batu-batu yang terdapat disana seperti batu kerang yang berada dipantai. Tajam-tajam dan gak rata, maka buat temen-temen kesini disarankan untuk memakai sepatu. Selain itu gak jauh dari sana terdapat Gunung Masigit. Gunung Kapur yang gedenya kebangetan, sampai sekarang dia gak sesempurna dan segede dulu karena Gunung tersebut dieksploitasi oleh pabrik-pabrik untuk dijadikan kapur, odol, dan lain sebagainya. Salah seorang pedagang pun bilang bahwa dulu Gunung Masigit itu terkadang dilakukan pengeboman untuk mengahancurkan sedikit demi sedikit Gunung tersebut yang berimbas pada rumah-rumah dan kenyamanan warga disana. Maka adanya Stone Garden ini sangat menguntungkan bagi warga sekitar untuk menambah pengahsilanya, mereka bisa berdagang di sekitar tempat wisata. Kita gak perlu takut kehausan atau kelaparan karena memang disana berjejer warung-warung kecil, tempat parkir, wc umum, dan musola. Haya saja memang fasilitas di Stone Garden ini masih kurang karena keterbatasan yang ada.

Sayang sekali memang, ketika alam menyediakan apa yang kita butuhkan dan kita para manusia hanya bisa mengekspolitasinya, alam tetap baik menyuguhkan pemandanganya. Apalagi jika alam masih “perawan” dan tidak ada campur tangan manusia di dalamnya. Hmm… nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan ?

Rute Perjalanan.

Aku dan temanku kemarin berangkat dari Jatinangor, tempat kami semua tinggal saat ini. Disini aku bakal mendeskripsikan rute perjalanan kami yang kami bajetkan dengan sehemat mungkin juga rute perjalanan lain sebagai antisipasi.

Rute pertama, kita berangkat dari Jatinangor naik angkot jurusan Gede Bage – Sayang – Majalaya dan berhenti di Stasiun Rancaekek, kemudian kami naik kereta dan berhenti di Stasiun Padalarang, sestelah itu kami naik angkot warna kuning jursan Rajamandala dan dia akan berhenti di pinggir jalan yang ada tulisan “Gua Pawon Stone Garden”, dari sana untuk menghemat kami berjalan kaki sekitar 15 menitan untuk sampai ke tempat Stone Garden. Rute perjalanan yang mudah karena memang Stone Garden sudah terkenal dan tidak jauh dari jalan raya. Yang penting kita tidak “malu bertanya sesat jalan dan jangan terlalu mengandalkan GPS”. Tapi jangan keasikan juga bagi pengunjung dari Jatinangor, karena angkot dari stasiun Rancaekek hanya beroprasi sampe jam 08.00 malam. Bahkan jam 07.00 malam pun sudah sangat langka sampai-sampai kami harus lari-larian mengejar angkot dan berdesak-desakan karena saking penuhnya. 

Rute kedua jika kita menggunakan sepeda motor, rute perjalanya pun tidak terlalu susah. Yang dari Bandung kita ambil jalan yang ke Cimahi lalu ke Kota Baru Parahyangan dan mengikuti jalan arah menuju Cianjur. Kalau untuk yang memakai bus, kita bisa menggunakan bus jurusan Cianjur dan berhenti di pinggir jalan yang ada tulisan nama tempat wisata tersebut.

Setiap perjalanan memang selalu menyuguhkan kenanganya masing-masing tergantung kita enjoy menghadapi setiap kemungkinan dan resiko yang ada. Hujan-hujanan sampai celana dan sepatu kotor-kotor, berdesak-desakan di kereta ketika pulang, lari-larian ngejar angkot, sampe tawar menawar sama aa-aa tukang ojeg menjadi pengalaman tersendiri untuk kita semua yang menajalaninya.

Foto : Gopro Hero 3+ (No filter)

Catatan 01 Januari 2016
#JurnalMia
Terimakasih waktu dan ceritanya Bi Mima, Teh Dian, dan Zulfa.

Prolog 2016



PROLOG
 
Lama gak ngeblog, cuap-cuap sana sini mengekspresikan isi hati sebebas mungkin. Dibaca Alhamdulillah, gak dibaca gak apa-apa, terbaca terimakasih juga soalnya bisa nambah rating *hehee. Oke sebelumnya kenapa saya lama ampe sebulanya gak nulis blog itu karena pertama aku sedang diterjang penyakit awet yaitu malas, dan yang kedua aku sedang mengalami masa-masa “koma”. Wajarlah mahasiswa pasti sering berada pada posisi dia labil, kemana harus melangkah, apa yang harus dilakukan, bagaimana masa depan, dan bagaimana hobi ini bisa diterima dilingkunganya, dan bagaimana ia tetap menjadi dirinya sendiri. *skip*

Selamat 2016, target taun ini kayanya saya bakalan lebih banyak lagi ngebawel di blog ini karena saya sadar disinilah “saya seharusnya berada”. Bebas, bebas, bebas. Meskipun ya memang pada dasarnya kehidupan kita tidaklah sebebas apa yang di imajinasikan. Curat-coret kali ini mungkin bukan hanya tentang mimpi-mimpi, hasil imajinasi, puisi-puisi amatir, representasi, atau pun pengalaman perjalananku melainkan semuanya. Semua yang saya dengar, saya rasakan, saya lihat, saya tau, dan saya ingin tau. Kembali lagi pada keyakinan bahwa “sebuah tulisan tidak ada yang sia-sia, sebuah tulisan mempunyai sihir, dan sebuah tulisan mengahadirkan keajaiban”
Oke, selamat membaca tulisan-tulisan saya yang terus-terusan lagi belajar ini. Yang mau berkomentar, mengkritik, berpendapat, juga mau berteman saya terima dengan senang hati.

#Jurnalmia
Januari, 2016

Kamis, 17 Desember 2015

Masalah, Solusi, dan Peran Kita dalam Pendidikan di Indonesia - Rahmia Khoerunnisa

Masalah, Solusi, dan Peran Kita dalam Pendidikan di Indonesia
Rahmia Khoerunnisa


Taken by Rahmia (doc. Brebes, Jawa Tengah)

"Ketika kita melakukan sebuah pekerjaan karena cinta dan pada dasarnya itulah dunia kita dan hobi kita sendiri. Sungguh disitulah kebebasan diri."

Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan inti, ada baiknya saya ingin melakukan prolog terlebih dahulu. Tulisan yang saya bahas ini adalah suara hati yang ingin saya sampaikan mengenai pendidikan di Indonesia sekarang ini yang sempat saya ajukan sebagai bahan pertimbangan untuk mengikuti seleksi di salah satu program Kementrian Pendidikan di Indonesia. Namun, karena saya harus lebih banyak mendapatkan pengalaman serta mencari ilmu lebih luas lagi saya gagal diterima pada program tersebut. Saya tidak berkecil hati dan tentunya masih semangat untuk mengikuti tes-tes lain yang bersangkutan dengan pendidikan di Indonesia khususnya di daerah pelosok-pelosok negri. (Semoga suatu saat diterima.Aamiin.Hehe*)

Penulis tau masih banyak kekurangan dan masih banyak yang harus diperbaiki dalam penulisan yang saya dapat dari berbagai referensi ini, alangkah baiknya jika teman-teman yang baik hati karena rela mengorbankan waktunya memabaca tulisan ini berkomentar atau mengkritik demi kebaikan tulisan saya kedepanya. Pembahasan yang saya tulis kali ini terdorong karena salah satu bentuk kecil kecintaan saya pada anak-anak dan nasib pendidikan di Indonesia ini. Untuk itu, dari pada tulisan ini saya simpan di komputer saja, saya pikir alangkah lebih baiknya jika saya berbagi pendapat serta inspirasi saya, siapa tau bisa bermanfaat untuk teman-teman yang membutuhkan. 

***
Pendahuluan
Pendidikan merupakan faktor penting bagi kelangsungan kehidupan bangsa dan faktor pendukung yang memegang peranan penting di seluruh sektor kehidupan, kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kemajuan dan perkembangan dalam pendidikan. Sebagai modal utama dalam pembangunan bangsa tentunya pendidikan merupakan suatu kewajiban yang harus kita lakukan, baik itu dari pendidik atau pun yang terdidik. Seperti yang dikatakan oleh Mentri Pendidikan, Anis Baswedan  “mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik”. Untuk itulah budaya dalam mendidik adalah sesuatu yang harus diterapkan oleh semua orang guna menumbuhkan dan mengembangkan segala potensi-potensi yang dimiliki.
Selain usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkankan potensi dirinya, pendidikan juga merupakan kewajiban dan kebutuhan yang patut dijalani oleh setiap manusia yang pada hakikatnya memiliki kemampuan otak dan akal untuk berfikir.
Untuk mengembangkan potensi-potensi tersebut makan perlulah sekali pendidikan dilakukan guna melatih, mengasah, dan mengembangkan potensi yang ada dalam diri kita. Kita akan mengetahui apa yang tidak kita tahu, kita akan bisa melakukan apa yang sebelumnya kita tidak bisa, kita akan terampil menggunakan, menjalankan, dam mengerjakan sesuatu sehingga kita mempunyai bekal untuk masa depan kita nanti.
Bayangkan jika kita kurang akan pendidikan, kita akan gampang di bodohi, gaptek di zaman era serba teknologi ini, pengangguran, dan masa depan kita tidaklah secerah yang kita inginkan. Untuk itu pendidikan memiliki banyak sekali keuntungan dalam kehidupan.
Sesuai dengan UU No 2 Tahun 1985 pendidikan memiliki tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya (beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pengerti luhur), memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsa, kebudayaan pendidikan haruslah lebih diutamakan karena melihat lagi pendidikan merupakan ciri kualitas suatu bangsa itu sendiri.

Pembahasan
Dalam pemabahasan mengenai pendidikan di Indonesia kali ini, penulis akan membagi pembahasan kedalam tiga kategori, yaitu : (1) Bagaimana pendidikan di zaman sekarang (2) Apa yang menajdi masalahnya, dan (3) Bagaimana peran kita sebagai mahasiswa.
Dalam UUD 145 pasal 31 ayat 2 menyatakan  bahwa setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Namun, walau pun begitu permasalahan pendidikan Indonesia mengalami keterbelakangan serta mutu pendidikan yang semakin tertinggal dibandingkan dengan pencapaian negara-negara tetangga. Pendidikan di Indonesia saat ini masih memiliki banyak kendala yang berkaitan dengan mutu pendidikan seperti diantaranya keterbatasan akses pada pendidikan, jumlah guru yang tidak merata, serta kualitas guru itu sendiri masih kurang.
Hal tersebut terjadi karena rendahnya kualitas sumber daya manusia yang menyebabkan pendidikan tidak merata dan mutu pendidikan yang rendah. Selain dari pada itu, faktor pemerintahan, pendidik, masyrakat, dan lingkungan atau tidak tersedianya ekosistem yang baik bagi pengembangan kretaivitas juga mempengaruhi terhambatnya kualitas pendidikan di Indonesia.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa penyebab rendahnya pendidikan di Indonesia karena :
1.      Rendahnya kualitas sumber daya manusia
Kreativitas manusia merupakan satu-satunya sumber manusia yang tak terbatas. Untuk itu, sesuai dengan prinsip pendididikan yaitu memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar apa pun yang mereka senangi dan guru hanya memberikan masukan saja. Jika hal tersebut dilakukan, siswa tidak akan terbelenggu dengan sederet aturan yang belum tentu siswa dapat mengerti maksud dan tujuanya yang berakibat siswa tidak berfikir kritis dan kreatif. Karena begitulah siswa harus diberikan kebebasan dan kepercayaan untuk belajar mengekspresikan dan mengembangkan kreativitas dan mengerahkan kemmapuan mental serta inovasinya dengan memberikan nilai tambah atas segala kekayaan sumber daya alam setempat.

2.      Pemerintahan
Pada dasarnya tanggung jawab untuk memenuhi hak pendidikan ada di pundak penyelenggara negara. Namun, terkadang pemerintahan yang tidak sehat selalu menajdi pengahambat kemajuan negara di berbagai sektor. Masih adanya jarak antara teks-teks tertulis yang diamanatkan dalam undang-undang dengan pelaksanaan di lapangan. Selain perlu waktu, terbukti pula bahwa dukungan anggaran saja tidak cukup, tanpa tanggung jawab dan kreativitas penyelenggaraan negara, besarnya anggaran bisa saja memacu penyalahgunaan keunganan selain sekedar melahirkan berbagai program asal-asalan, asal dapat menyerap anggaran. Untuk itu diperlukan pemerintahan yang sehat dalam pembangunan pendidikan Indonesia untuk lebih maju dan berkualitas.

3.      Pendidik
R.A Kartini berpandangan bahwa “Kewajiban seorang pendidik belumlah selesai jika ia hanya baru mencerdaskan pikiran saja, bahwa tahu adat dan bahasa serta cerdas pikiran belumlah jaminan orang hidup susila ada mempunyai budi pekerti”. Sehingga R.A Kartini mencita-citakan “memberikan kepada siswa jua sifat-sifat yang bagus  yang ada pada bangsa lain akan jadi penambah sifat-sifat yang sudah ada padanya, bukanlah akan meghilangkan sifat-sifat sendiri, melainkan akan memperbaiki dan memperbagusnya.
Sesuai dengan apa yang dicita-citakan R.A Kartini, tentunya seorang pendidik haruslah menanamkan nilai moral kepada siswa. Ia harus menanamkan mental besar guna terbentuk keberanian, jiwa yang mandiri dan menghargai diri sendiri. Untuk menjadi pendidik pun tidaklah kita memilih pendidik yang abal-abal, maksudnya pendidik yang bukan hanya sekedar mempunyai gelar saja, namun harus mempunyai softskill dan hardskill yang seimbang dalam mendidik para siswa.

4.      Masyarakat
Kemajuan suatu daerah bisa dicapai bila penduduknya memiliki pendidikan yang baik, maka perlu sekali adanya kesadaran dari masyarakat sendiri akan pentingnya pendidikan. Orang-orang pedalaman tidak terlalu memandang pendidikan sebagi sesuatu hal yang sangat penting. Seperti halnya yang terjadi di daerah saya, pandangan mereka tentang pendidikan yang tidak terlalu penting terjadi pada orang tua yang tidak sekolah dan diterapkan pada anak-anak mereka khususnya perempuan yang hanya disekolahkan sampai SD saja,dahulu di daerah saya mayoritas perempuan tidak diteruskan ke sekolah menengah atas. Mereka cukup bekerja di rumah atau bekerja keluar kota dan kemudian mereka akan dinikahi oleh laki-laki pilihan dirinya atau orangtuanya.
Orang tua yang demikian tidak berfikir bahwa seorang perempuanlah yang menjadi pusat kehidupan dan tanggung jawab atas kewajiban pendidikan anak-anaknya. Maka, diperlukan sekali pencegahan ketimpangan akses terhadap informasi, yaitu adanya kesetaraan akses warga terhadap dunia pendidikan serta adanya jaminan negara atas hak pengajaran juga penting dalam mengusahakan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.

5.      Lingkungan
Keterbelakangan pendidikan bukan hanya terjadi di daerah pedalaman yang letaknya jauh dari pusat kehidupan atau sekolah, tetapi terjadi pula terhadap orang-orang marginal di perkotaan seperti yang terjadi pada anak jalanan, hal tersebut terjadi karena beratnya biaya pendidikan.
Anak-anak perlu mendapatkan wahana pembelajaran yang baik guna mereka nyaman dalam melakukan proses belajar. Hilangnya diskriminasi serta memperluas kesempatan belajar adalah hal yang harus dilakukan. Tersedianya ekosistem yang baik guna berkembangnya kreativitas dan talenta-talenta yang dimiliki anak bangsa perlu memilki komitmen yang menjanjikan dari negara kita sendiri.
            Solusi sekaligus impian penulis terhadap pendidikan Indonesia ini tidak akan jauh dari pemaparan diatas, sebagai orang terdidik tentunya mendidik yang didik adalah sebuah kewajiban. Untuk itu diharapkan sekali adanya peningkatan sumber daya manusia, pemerintahan yang sehat, pendidik yang berkualias, informasi yang tepat untuk semua kalangan, kesadaran masyarakat pedalaman akan pentingnya pendidikan, tersedianya lingkungan atau ekosistem yang baik, negara yang lebih menghargai berbagai kreativitas anak bangsa sehingga anak-anak bisa mengembangkan segala potensi serta kreativitasnya dengan bebas.

            Kita sebagai mahasiswa khususnya penulis sendiri harus berperan aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia sekarang ini. Dengan menjadi mahasiswa aktif dan berprestasi pun tidak cukup, kita harus terjun langsung ke lapangan dan berbaur dengan masyarakat untuk membuka pikiran bahwa betapa pentingnya pendidikan di zaman sekarang ini. Menyalurakan inspirasi-inspirasi serta membuat program untuk memajukan kualitas pendidikan di Indonesia. Dan alangkah lebih baik jika kita langsung menjadi bagian dari pemerintahan yang mengatur bagian pendidikan di Indonesia dengan benar, jujur, adil, dan bertanggung jawab selayaknya karakter yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin karena kualitas suatu negara pun bukan dilihat dari masyarakanya saja, tapi bagaimana para pemimpin memimpin pun adalah hal yang utama untuk memajukan bangsa ini terutama pada dunia pendidikan.
            Seperti contoh kasus yang penulis temukan, ada salah satu tempat yang sempat penulis kunjungi, yaitu Pulau Tunda. Pulau Tunda merupakan sebuah pulau terpencil yang letaknya sebelah utara dari Banten. Pulau Tunda ini termasuk ke dalam Kabupaten Serang, Banten. Seperti yang diceritakan oleh seorang penduduk asli  Pulau Tunda, Pulau Tunda memiliki jumlah penduduk kurang dari 3000 orang. Mayoritas penduduknya merupakan orang-orang yang merantau dan kemudian memutuskan untuk menetap disana. Untuk sebuah Pulau terpencil tentunya, tenaga listrik pun susah untuk di dapatkan, penduduk disana menggunakan listrik tenaga surya untuk penerangan sehari-harinya.
Disana terdapat anak-anak kecil dan disana pun terdapat sekolah satu atap untuk SD dan SMP dengan Guru seadanya, sedangkan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi mereka harus menyebrangi lautan terlebih dahulu. Waktu tempuh untuk menyebrangi lautan pun cukup lama, yaitu 2 -3 jam jika menggunakan kapal biasa. Ketika saya bertanya dengan anak-anak daerah setempat tentang ingin tidaknya diteruskan sekolah ke yang lebih tinggi, mereka menjawab ingin melanjutkannya dengan semangat. Anak-anak memang selalu bersemangat untuk sekolah. Namun, semua kembali kepada kita semua sebagai orang terdidik. Dan inilah seharusnya kewajiban kita semua para terdidik.


Penutup
Pendidikan merupakan faktor penting bagi kelangsungan kehidupan bangsa dan faktor pendukung yang memegang peranan penting di seluruh sektor kehidupan, kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kemajuan dan perkembangan dalam pendidikan.
Sebagai orang terdidik tentunya mendidik yang didik adalah sebuah kewajiban. Untuk itu diharapkan sekali adanya peningkatan sumber daya manusia, pemerintahan yang sehat, pendidik yang berkualias, informasi yang tepat untuk semua kalangan, kesadaran masyarakat pedalaman akan pentingnya pendidikan, tersedianya lingkungan atau ekosistem yang baik, negara yang lebih menghargai berbagai kreativitas anak bangsa sehingga anak-anak bisa mengembangkan segala potensi serta kreativitasnya dengan bebas.

Ketika penulis dengan berbagai inspirasi tentang pendidikan negri ini :
1.      Sekolah wajib mempunyai perpustakaan dengan berbagai macam buku yang mendukung pembelajaran serta kreativitas siswa. Tentunya perpustakaan pun dikemas dengan sangat menarik agar siswa tidak bosan dengan suasan perpustakaan
2.      Budaya membaca, menulis, dan berkarya yang harus terus dilakukan.
3.      Terdapat jam kelas dimana siswa bebas mengekspresikan semua kreativitasnya.
4.      Adanya kegiatan dimana kegiatan ini bertujuan untuk memberantas kebutaaksaraan untuk semua kalangan (anak - orang tua)
5.      Menanamkan semangat nasionalisme sejak dini.
6.      Pengajaran harus disampaikan dalam bahasa Indonesia, dengan bahasa asing sebagai bahasa tambahan di sekolah menengah dan tinggi. Hal itu untuk menambahkan semangat nasionalisme dan juga kita sudah siap berbahasa asing demi bersaing ke ranah internasioanl. Namun berbahasa daerah pun tidak dilupakan dan harus tetap digunakan.
7.      Adanya pengetahuan tentang dunia luar, keterampilan hidup, dan pengenalan tentang organisasi, sehingga mereka bisa menjadi mediator ketika bersinggungan dengan dunia luar.
8.      Kelas budaya, kelas ini sangat penting dilakukan guna untuk mempertahankan dan melesarikan kebudayan di daerah setempat karena bagaimanapun budaya berperan penting dalam meningkatkan daya saing dengan dunia luar.
9.      Kelas impian, dimana kelas ini ada diluar jam sekolah. Dikelas ini Guru yang sebagai pendidik melakukan pendekatan dengan berbagai siswanya, yang dilakukan dengan bermain atau sekedar mengobrol mengenai impian, pengalaman, atau sharing diantara keduanya (Guru dan Siswa), kelas ini dilakukan diluar kelas dan bebas dimana saja. Tanpa disadari dengan diadaknya adanya kelas ini akan mendapatkan berbagai pelajaran antara Guru dan siswa.


Daftar Pustaka
Latif, Yudi. 2014. “Mata Air Keteladanan Pancasila dalam Perbuatan”. Bandung: Penerbit Mizan.
mellamela3.blog.com/konsep-fungsi-dan-tujuan-pendidikan/

#JurnalMia