Rabu, 19 November 2014

Backpacker to Tunda Island



BACKPACKER TO TUNDA ISLAND

“Perjalanan manis pahit. Terkenang, dan ditunda disana..”

Backpacker, tentu tidak asing lagi untuk kalian para traveler, yaps.. backpacker merupakan perjalanan liburan yang asik dan irit yang hanya bermodalkan ransel. Berlibur dan bertualang bermodal ransel bisa menjadi pengalaman menantang. Peralatan, keamanan dan kondisi ala backpacker berbeda dari sekadar mengikuti paket wisata saja.

Kali Ini saya akan menceritakan pengalaman saya dan teman-teman ketika berbackpackeran ke Pulau Tunda, Serang Banten. Pulau Tunda merupakan sebuah pulau terpencil yang terletak di Laut Jawa, yakni di sebelah utara Teluk Banten. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Serang, Banten yang memiliki luas sekitar 300 hektare.


(Pulau Tunda:google)


Hari itu Jum’at, 24 Oktober 2014.

Langsung saja ya, dengan seluruh perhitungan dan perbekalan yang telah di rencanakan sebelumnya saya dengan 10 teman saya memulai pemberangkatan dari Jatinangor, Sumedang. Untuk kendaraan pertama kami, kami berangkat memakai damri dengan jurusan Elang-Jatinangor dan berhenti di Terminal Leuwi Panjang, disana kami naik bus Arimbi dengan jurusan Merak – Bandung dengan melakukan negosiasi harga terlebih dahulu. Untuk catatan, biasanya jika yang naik bus rombongan, harga selalu diturunkan. Kami berangkat sekitar pukul 16.00 dan Perjalan memakan waktu 8 jam untuk sampai Terminal Merak. 




Pukul 23.00,akhirnya kami tiba di Terminal Merak, Banten dan dari sana kami carter angkot menuju Pelabuhan Karang Antu. Setiba di Pelabuhan Karang Antu, kami memutuskan untuk beristirahat dan bermalam disana terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan mengingat keadaan kami dan waktu yang tidak memungkinan. Kami mencari sebuah masjid untuk dijadikan tempat peristirahat kami. Namun, nasib baik memang selalu berpihak, kami ditawarkan oleh ibu dan bapak tukang warung disana untuk menginap secara cuma-cuma di rumahnya. Allhamdulilah, terimakasih untuk ibu dan bapak yang baik, semoga menjadi berkah:)





(Pelabuhan Karang Antu)

Singkat cerita, pukul 09.00 kami memulai pemberangkatan kami dengan naik kapal yang sudah disewa sebelumnya. Setelah kurang lebih 2-3 jam terombang-ambing dilautan lepas,terpana dengan seratus juta keindahan warna-warninya lautan, tersihir dengan pemandangan sekitar, dan terperangkap pada imajinasi kami masing-masing akhirnya tibalah kami di Pulau Tunda, Surga Dunia yang tersembunyi.




Layaknya wisatawan lainya, kami disambut oleh cerahnya langit utara teluk Banten, lambaian nyiur, jernihnya air laut, kapal-kapal besar, senyum hangat warga sekitar dan seteko air es. hehee.. Kami tinggal di sebuah rumah yang menjadi guide tour kami,Mas Firman dengan segala keramahan dan kebaikannya selama kami disana.



Tak usah beristirahat berlama-lama, saatnya kita menjelajah Pulau Tunda.. Yeaaaaaaaaaayyy….!!!


HAVE FUN TIME
  •  Penduduk Pulau Tunda

Seperti yang diceritakan oleh seorang penduduk asli  Pulau Tunda, Pulau Tunda memiliki jumlah penduduk kurang dari 3000 orang. Sebagian penduduk yang tinggal di Pulau Tunda adalah orang-orang yang merantau, sedikit orang yang asli orang Pulau Tunda Sendiri. Di Pulau Tunda mata pencarian utama mengandalkan penghasilan laut karenanya hampir seluruh warga Pulau Tunda merupakan nelayan. Keadaan geografis di Pulau Tunda dikelilingi oleh lautan dengan hutan yang lebih banyak dibanding dengan pemukiman warga, masih sangat sedikit sekali rumah warga yang dibangun disana. Disana terdapat sekolah satu atap untuk SD dan SMP, sedangkan untuk melanjutkan ke SMA mereka harus menyebrangi lautan terlebih dahulu dulu.

Disana sebagian besar penduduk Pulau Tunda berternak kambing. Kambing dibiarkan berlalu-lalang kesana-kemari seharian penuh. Sehingga jangan aneh ketika kita menjelajahi Pulau Tunda kita akan bertemu dengan kambing dimana-mana. Untuk sebuah Pulau terpencil tentunya, tenaga listrik pun susah untuk di dapatkan, penduduk disana menggunakan listrik tenaga surya untuk penerangan lainnya.

Warga di Pulau Tunda sendiri sudah tidak asing dengan para wisatawan yang hampir tiap harinya selalu berkunjung kesana. Mereka menyambut baik kedatangan para wisatawan termasuk kami, mereka menyambut kami dengan senyum ramah orang Indonesia.Namun, sangat disayangkan sekali disana terdapat banyak sampah di pesisir pantai, hal itu disebabkan mungkin karena orang-orang yang tidak bertanggung jawab membuang sampah dilaut sehingga terbawa ombak sampai ke pesisir pantai, dan menjadikan banyak sampah.








  •      Pantai Pulau Tunda

Pulau Tunda memiliki pantai pasir putih dengan luas yang sedikit, pasirnya berbaur dengan kerang-kerang kecil. Nanum, air laut disana benar-benar jernih dan masih terlihat memang Pulau ini masih belum terjamah orang-orang. Dengan berteduh dibawah pohon mangrove kita bisa menikmati keindahan birunya pantai Pulau Tunda dan kapal-kapal yang merayap-rayap di tengah laut sana.









  • ·         Wisata Pulau Tunda


1.      Snorkeling dan Diving

Ini dia, Pulau Tunda terkenal dengan surga dunianya bawah laut. Pulau Tunda memiliki keindahan bawah laut yang sangat super luar biasa dan masih alami. Pulau Tunda dikelilingi dengan terumbu karang yang sangat beragam, umumnya banyak di temui karang dengan tipe Pertumbuhan Karang Tepi atau Fringing Reef.

Terumbu luasan terumbu karang di Pulau Tunda banyak terdapat di bagian utara, hal ini karena bagian selatan banyak aktivitas manusia. Sedangkan di bagian timur hingga tenggara Pulau Tunda memiliki kondisi arus yang cukup besar sehingga di bagian timur hingga tenggara Pulau Tunda terkenal dengan Drift Diving-nya. Pohon Mangrove juga ditemukan cukup padat di bagian selatan hingga timur. Karena Pulau tunda memiliki keindahan bawah lautnya masih alami, maka banyak terdapat spot-spot snorkeling dan Diving. 

1.      Lumba-lumba

Selain snorkeling dan diving, di Pulau Tunda juga kita bisa bertemu lumba-lumba untuk melihat lompatan dan liukannya yang indah. Karena menurut cerita, pulau ini merupakan lintasan lumba-lumba. Jadi kemungkinan besar bertemu lumba-lumba itu sangat besar. Untuk catatan bawa biskuit ya jika mau ngasih makan lumba-lumba. Urusan dimakan atau tidak ya bawa saja :D

2.      Berburu Sunset di Pantai Tanjungan Barat

Sedikit cerita, setelah kami beristirahat sebentar, ke lima teman kami yang lain melakukan snorkeling ke pantai selatan dan utara Pulau Tunda, sedangkan saya dan keempat tempat lainnya  berjalan-jalan ke pesisir pantai. Sehingga kami memutuskan untuk berburu hamparan luas pasir putih dan sunset di Barat sana. Perjalanan yang tak tentu berhenti dimana ini, akhirnya berhenti di sebuah pohon dan sebuah vila yang dijaga oleh seorang Bapak-bapak yang merantaui dari Jakarta. Kami berbincang-bincang dan disuguhi air kelapa muda yang langsung diambil dari pohonnya. Terimakasih pak :) Setelah magrib, kami pulang kembali dan tanpa sadar ternyata kami berjalan sangat dan sangat jauh..





1.      Sunrise di Dermaga

INDAH. KEREN.

Pagi, saya lancang berjalan-jalan ke dermaga sendirian, bertemu dan berkenalan dengan wisatawan-wisatawan dari Jakarta. Kita mengobrol sebentar dan saya melanjutkan untuk jalan-jalan kembali.

Duduk di sebuah saung kecil yang berada di ujung jalan dermaga, memandang laut bebas dan merah tejanya sunrise. Saya tak bisa berkata, imajinasi saya terlalu liar, damai yang saya rasakan saat itu tidak terukur lewat kata-kata.






  • ·         Pembuatan Kapal


Di Pulau Tunda juga ada tempat untuk pembuatan kapal, tempatnya tidak jauh dari dermaga..





  • ·         Oleh-oleh


Saya hanya iseng mengambil oleh-oleh untuk dan dari Pulau Tunda. sekedar untuk kenang-kenangan..(pasirnya lupa dipoto-,-)




Itu hanyalah cerita tentang sebagian kecil keindahan Pulau Tunda, Pulai Tunda sebenarnya sudah dapat dijadikan objek pariwisata yang sangat menarik untuk dikaji. Keindahan pantai dan lautnya belum dieksplore lebih jauh. Padahal kegiatan berlayar dengan pemandangan laut dan lumba-lumba, memancing, snorkeling, diving, melihat sunset dan sunrise adalah potensi wisata yang menarik.
Berbicara Pulau Tunda, memang tidak akan ada habisnya. Semoga lain waktu saya, kamu, kita, kalian semua bisa lagi berbackpacker ke Surga dunia lainnya seperti Pulau Tunda. Okeee, see you next time.. :)))

Satu lagi...


Terimakasih Kepada :

Allah SWT
Pulau Tunda
Bapak dan Ibu tukang warung di Pelabuhan Karang Antu
Mas Firman dan temannya
Bapak yang memberi kelapa muda

serta

ke 10 teman-teman hebat saya 
Linda Prasetya Wulandari
Winda Fitri Yani
Atin Rustatin
Hani Marlina
Regi Regusta Rizaldi
Dede Saepul Anwar
Muhamad Fathul Farhani
Restu Nugraha Akbar
Asep Tating
Roni Agustian Hermawan



Jatinangor, 19 November 2014

Senin, 10 November 2014

Siluman Abadi

Hay ?
Apa kau mendengarku ?
Aku rasa iya. bilang saja iya. walaupun hanya sekedar menyenangkanku.
Bolehkah aku bertanya ? mungkin banyak.
Tapi, kalau kamu keberatan, aku akan tetap memaksa.
Terserah, aku memang egois.

Dibalik jendela, ada cipratan air masuk celah-celah pentilasi kamarku. Cipratan pengantar rindu. Terasa semakin kuat apalagi ditambah suara hujan, bau tanah dan basah.
Tuhan memang selalu mengerti, tidk ada acara kebetulan sore ini.

Sayang tidak ada petir. Kalau ada, aku sudah menarik selimutku. melelapkan diri dengan jendela yang terbuka agar hujan, bau tanah, dan basah ini menjadi waliku menemuinya.
nya ?
nya siapa ?
nya apa ?
semacam debukah ? kantong kresek ? atau sirip ikan ? Ah, maaf aku sudah terlalu ngaco.

Hujan masih setia.
Sesetia kancing pada bajunya, sesetia mereka yang merindukan bagian mereka dan sesetia aku pada anganku.
Namanya juga angan, tentu jauh.
Tapi, kau tetap saja mengikutiku ?
Apa kau seorang penguntit ? seorang intel ? atau jangan-jangan kau seorang agen rahasia ?
Tidak disini, tidak disana, bahkan dimana sosokmu seperti flash kamera, sekilas tapi membekas.
Dekat jauh rasanya tak berefek, aku tetap saja seperti gadis berpenyakit mata rabun.

Mau sampai kapan jadi pecundang pada dirimu sendiri ?
Sedikit pun tak mau bertanggung jawab ?
Rindu itu, lagu yang tiba-tiba melankolis itu karena apa dan milik siapa ?
Tenang saja, aku tak akan menyalahkanmu, yang perlu kamu lakukan hanyalah beraktivitas dan bernafas.

Masih bersama hujan,air turun keperakan.
Warna langit yang sama, bau tanah yang sama.
Rasa,rindu dan lagu yang tetap selalu sama.
Aku tetap memandang cermin, melihat dalam mataku sendiri.

Binarnya masih disana, sorot yang tak kunjung berpijak dan enggan beranjak dari bola matanya.
Membiarkan pikirannya terstimulasi dalam simulakrum, berperang antara realitas dan ilusi, namun tetap saja ketidak jelasanlah yang menang menghasilkan sosok yang nyaris menjadi mitos, penuh tanda tanya.

Hujan makin membumi.
"Mau sampai kapan siluman abadi menghantuimu ?" Katanya.
Suara setan memang suka seenaknya datang.

Aku tak mau egois lagi.
Aku juga tak mau bertanya banyak padamu lagi. Untuk satu ini, aku menyerah.
Aku bingung,
Antara aku siapa dan apa siapa itu.
Sebenarnya siapa apa itu dan siapa yang merindukan apa ?

Kubanting cermin kecilku itu, lebih baik aku tidur walau tanpa petir sekalipun.
Sengaja ku tutup jendelaku.
Rapat. Trek!

Selasa, 04 November 2014

Kita, Bulan, dan Tuhan



Kita, Bulan, dan Tuhan
            Di angkasa sana, pernak-pernik malam berserakan mengotori selembar langit kosong yang tertutup gumpalan kabut malam. Bulat besar kuning bercahaya memancarkan aura keindahan pada setiap mata yang memandangnya. Ratusan milyaran makhluk menikmati sorotan lampu raksasa yang menggantung di ujung angkasa sana.
            Begitupun denganku..
Dibawah langit darkorange, disaksikan megahnya sang raja malam, ditemani merdunya gema takbir ada hangat masuk kedalam jiwaku, tidak bisa tersentuh, tidak berbau, abstrak dan semacam keentahan yang hanya Tuhanlah yang tau ini apa namanya. Ada rindu yang tak akan pernah putus meskipun ia berada beda senti denganku. Tepat berada di depan,dialah sosok yang membuatku merasakan apa “keentahan” itu. Masih tetap ditemani gema takbir, didepan-Nya kami bersujud, membiarkan banyak rasa merasuki jiwa-jiwa kami.
Rupanya malam ini akan ada perang, tepat di sebrang langit sana sang surya dengan gagahnya perlahan menghampiri sang raja malam. Bulan masih dengan berani memancarkan sinarnya sedangkan surya dengan kuasanya perlahan menutup cahaya malam itu. Malam menghitam, semua manusia saat itu menjadi penonton tanpa tiket. Opera tuhan tanpa skenario, tanpa naskah apalagi sutradara. Semua berjalan sebagai mana mestinya.
Ketika sebagian orang menjadi penonton sirkus alam, aku dengan bahagiaku berbagi basa dengannya. Hanya ada aku, dia, kursi dan meja saat itu. berada dekat dengannya memang merubahku bermetamorfosis menjadi sosok gadis yang egois, aku terlalu menikmati rasa yang menyapaku ini. Tak mau, tak bisa kutinggalkan, ini terlalu indah hampir seindah megahnya bulan tadi, semua kata yang menjadi makna, semua sikap yang menjadi arti sampai membuatku lupa bahwa siapa kita ?
 Siapa kita ? Sepertinya ada yang tersayat detik itu juga.
Aku diam. Intuisiku kembali kabur mendatangkan tanya keingintahuan akan siapa aku, siapa dia, siapa kita. Aku diam. mengumpulkan berbagai kemungkinan, mungkin aku jatuh cinta, mungkin dia jatuh hati, mungkin aku kegeeran, atau mungkin dia sedang bermain peran, mungkin aku, mungkin dia, mungkin aku dan dia, dia dan aku tidak ada apa-apa.
Bulan kembali tersenyum, cantik sekali. Tidak ada lagi hitam saat itu. dengan cahaya yang lebih terang, dengan bentuk bulat tanpa noda, dengan warna kuning keemasannya ia berbagi keindahannya kembali. Seolah alam pun berbahasa, Tuhan pun menunjukannya. Biarlah sebagai mestinya Ia berkehendak.


September,2014