Minggu, 20 November 2016

Selamat Ulang Tahun Khairin Zafira

Senin, 21 November 2016
Untuk Khairin yang akan membaca blog ini di tahun 2031.



Terhitung 15 tahun lagi, (Khairin 17 Tahun) mungkin kamu akan baca coretan kecil yang selalu kakak buat di blog ketika kamu lahir atau pun sedang berulang tahun ini. Semoga nanti tanggal 21 November 2031 kamu akan tau kenapa kakak dengan sengaja menulis ucapan ini di blog, karena kakak tau mengucapkan selamat ulang tahun padamu yang baru berumur dua tahun adalah kurang berkesan karena kau belum mengetahui apa makna dari ulang tahun selain dari perayaan kecil dengan kueh tar dengan lilin diatasnya, juga balon warna warni, atau setumpuk kado dari teman-temanmu.
21 November 2016, adalah sekarang tanggal lahirmu dua tahun lalu. Kamu tahu dek, selain memang kamu telah “menggagalkanku” jadi anak tunggal kamu memang “penghasil” sumber kebahagiaan keluarga kami yang baru. Sebuah “penggagalan peranak tunggalan” dari Allah yang begitu sempurna membawa kebahagiaan khususnya aku yang akhirnya merasakan menjadi seorang kakak diusia 19 tahun. Terpaut umur yang cukup jauh banyak sekali orang yang bilang bahwa kamu pantas menjadi anakku. Iya memang, aku tak mengelak banyak teman-teman  bahkan tetangga kita yang usianya di bawah kakak sudah memiliki anak diusianya yang masih muda. Dan kakak rasa, kakak tak mempermasalahkan itu, seperti kamu lahir dan kakak merasakan “zink”. Oh inikah bahagianya punya adik? Beginikah bahagianya lihat perkembangan seorang adik yang semakin hari semakin menggemaskan? Atau beginikah rewelnya mendengar seorang bayi menangis? Percayalah sekali lagi bahwa kamu secara langsung memberikan kesan aku menjadi seorang ibu kedua walau kakak tidak mengurusmu setiap waktu seperti halnya ibu kita.

Banyak orang yang bilang kita mirip *padahal tidak*, karena hanya dua kemiripan kita satu kulit kita dan dua hidung yang pesek. Sisanya berbeda, mamah bilang kamu superaktif, galak, dan itu benar adanya. Terbukti dari ketika kakak sedang menelpon kamu teriak teriak memanggil kakak dengan suaramu yang setengah berteriak dan berserak, atau paling tidak kamu rebut handphone mamah dan kemudian kamu membuangnya berserakan. Jika telpon mati sudah dipastikan bahwa si handpone dilempar atau tak sengaja kau otak-atik. Tingkahmu lainnya yang sedikit menyebalkan tapi lucu adalah ketika kamu ingin sesuatu dan keinginanmu tidak terpenuhi kamu akan guling-guling dilantai sambil menangis, berteriak mamah-mamah, atau melempar sendok piring dan ah pokonya rumah kita seperti angkasa penuh ufo berterbangan.

Hobimu adalah ngemil, dari pagi sampe sore rumah berantakan karena makanan yang berceceran akibat kau kesana kemari tidak ada capek bermain ini itu seperti tidak ada kehabisan ide untuk diam, bahkan tak jarang juga sekarang kamu sudah pintar minta jajan. Mendekati kakak, lalu memegang tangan dan sekuat anak dua tahun menggusur kakaknya untuk pergi ke warung sambil berkata jajan. Sayangnya ketika kau sudah kenyang pasti makanan langsung kau buang begitu saja sambil bilang “bung” (habis).

Waktu ini kau menyukai kucing tapi kau takut padanya, mendengar suara kucing matamu langsung melotot kebingungan mencari sumber suara sambil berkata “emeng/meong”. Ketika si kucing sudah ada kau tak berani mendekat, malah takut dan bersembunyi. Hewan lain yang kau sukai yaitu ikan, seperti tarzan masuk kota ketika kamu melihat ikan di empang. Bilang auk auk (lauk) dengan bibirmu yang manyun.

Film kesukaanmu adalah si Arlo, sampai kakak bosan terus menemani kamu menonton karena dalam satu hari bisa saja film itu diputar 3x, dan itulah satu-satunya jurus supaya kau diam. Liciknya kamu, kamu harus ditemani dan satu sentipun kakak gak boleh jauh dari kamu sehingga dalam setengah putaran film saja kau pasti sudah terlelap tidur dipangkuan kakak. Selain jurus agar kau diam, film Si Arlo atau tepatnya berjudul The Good Dinosaurus itu adalah obat tidurmu yang paling ampuh. Dan iya, entah kenapa ketika melihatmu tertidur dipangkuanku, rasanya damai dan tenang:’) *ahkangen*
Oh iya, kenapa kamu memanggilku kakak, itu karena untuk bayi seusimu huruf vokal a adalah huruf yang paling mudah diucapkan. Kata teteh begitu sulit dan kau lebih mudah berkata kata kakak dibandingkan kata teteh. Kata pertama yang kau ucapkan adalah mamah, bapak, bunga, kakak, abang, dan sisanya banyak sampai semua yang diucapkan pasti kau ikuti.

Sebenarnya banyak sekali pertumbuhan dan perkembangan yang sungguh kakak gak mungkin ceritakan dan tuliskan disini semua, untuk kisah lebih lanjut mungkin nanti akan diteruskan menjadi sebuah cerita pengantar tidur atau cerita berkumpulnya keluarga kita nanti ketika kamu sudah besar dan bertanya “mah aku dulu gimana sih?” semua pertanyaanmu pasti akan berakhir dengan kamu yang menertawakan dirimu sendiri. Hiihi.
***
Sekarang, kakak sedang duduk disebuah kamar kosan kecil di Jatinangor. Sendirian dan sedang rindu kamu, kakak juga sedang skripsian dan kakak yakin mamah sedang mendoakan kakak di rumah, yakin juga bahwa jam segini kamu sudah tertidur lelap tak bisa diganggu.

Maafkan kakak karena belum bisa menemui kembali seperti tahun lalu di hari ulang tahunmu, membuat kueh dengan perayaan kecil dengan lagu-lagu selamat ulang tahun. Tak perlu perayaan, lebih baik kita lakukan dengan “sesuatu”, sebagi sebuah bentuk syukur kita.  Mungkin suatu saat. Tapi kamu harus tau dek, kado terindah selama kamu ulang tahun adalah Allah takdirkan kamu lahir ditengah-tengah orang yang menyayangimu., Allah berikan usia lebih banyak untuk kau bisa mensyukuri nikmatnya. Tidak usah menjadi seorang dokter, guru, pilot, pramugari atau profesi apapun itu yang nanti sebuah kehidupan akan menuntutmu untuk melakukan yang tidak sesuai inginmu. Jadilah seseorang yang hebat dan orang yang bermanfaat dengan caramu sendiri. Semoga kelak kamu tidak melupakan dirimu sendiri, tidak lupa menjadi orang yang bersyukur, dan semoga kamu menjadi orang yang selalu mencintai keluarga dan Tuhanmu.

Sama seperti sejak pada kamu berusia satu detik dalam kandungan, kami keluargamu akan menyayangimu tiada hingga tiada henti.

Selamat ulang tahun, we love you.
21 November 2016

Teteh.
Mia.




P.s: Dek kamu 17 tahun jangan sampe kebawa sama pergaulan yang enggak bener ya, ingat agama sebagai landasan kita hidup. 

Kamis, 13 Oktober 2016

14 OKTOBER 2016: UntukAdw

Teruntuk : Aris Dwi Yunanto

Sudah lama rasanya kita bersama, menunggu sebuah bukti cinta yang sesungguhnya dengan modal komitmen dan berjuang sama-sama. Menata masa depan kita yang mungkin sebagian orang kita adalah pasangan yang hanya menghabiskan waktu dengan sia-sia.

Sampai saat ini, kamu adalah orang yang berpengaruh untuk hidupku juga untuk mimpi-mimpiku. Orang yang selalu ada bukan hanya di saat suka dan duka saja, tapi setiap waktu walau ketika aku tidak membutuhkanmu. Tapi, cinta bukan hanya sekedar butuh dan tidak butuh, bukan hanya sekedar aku ingin kamu dan kamu harus ada sekarang. Cinta adalah yang tak pernah hilang. Sepertimu.

Dengan caramu yang selalu menguatkan, memberikanku semangat, dan bijak menghadapi berbagai masalah hidupku kamu hadir bukan saja memberi pelukan. Amarahmu, egoismu, dan kata-kata yang tidak aku terima terkadang memang benar adalah bentuk rasamu untuk membuatku lebih kuat dalam menghadapi masalah-masalah hidup yang sebegitu kecilnya ini.

Kebersamaan kita yang sampai sekarang ini memang tidak jauh dari respon orang, positif negatifnya orang berfikir tentang kita hanyalah hambatan kecil dalam ikatan ini. Toh, memang benar kita hidup di zaman dimana orang-orang menghakimi seseorang hanya sekilas dari luarnya saja. Namun, karena itulah kau selalu berkata “jangan pedulikan apa kata orang, jadilah diri kamu sendiri. Selama kita tidak mengganggu hidup mereka dan baik-baik saja untuk kita.” Menguatkanku dan itu benar. Orang lain tidak tau betapa hebatnya kamu memperlakukan aku yang sampai sekarang baru hanya menjadi teman hidupmu yang belum terikat sah. Dan aku bersyukur, semoga selalu lebih setiap harinya rasa-rasa itu ada pada kita berdua.

Berbagai pelajaran hidup yang aku terima dan aku bersyukur masih ada kamu yang selalu temaniku, menjadi orang yang menguatkanku disaat aku benar-benar jatuh berlarut-larut. Ingatlah pada kita sama-sama berjuang, ingatlah pada komitmen kita, pada impian-impian kita yang sekarang sedang kita bangun bersama. Selamat 1,8 untuk 14 kita:)



Jumat, 14 Oktober 2016

SAAT KAMU HILANG ARAH

SAAT KAMU HILANG ARAH

Ada yang bilang usia 20 tahun adalah usia dimana kita sering merasakan hilang arah dan tujuan, tanda kedewasaan kita dalam diri. Bagiku, tidak dipungkiri mungkin itu benar adanya, sesuatu yang terjadi padaku ketika sekarang aku berusia 20 tahun ini.
Semester 1 – 4 adalah semester dimana aku melakukan hal yang aku mau, mencoba memulai sesuatu yang baru, mencoba ini dan itu, tidak terlalu banyak masalah pribadi yang berkaitan dengan diri sendiri. Beranjak ke semester 5 dan 6, sesuatu yang aneh terasa dalam diriku. Aku merasa hidup terlalu monoton, gitu-gitu saja tidak ada tantangan, dan membosankan sehingga hal tersebut membuat diriku menarik dalam dunia luar seperti biasa. Aku menjadi lebih suka menyendiri, melakukan hobiku seperti membaca atau bisa saja seharian “bertapa” mengunci pintu kamar dan cukup di depan leptop saja.
Sesuatu yang aku rasakan pada diriku adalah aku benar-benar merasa hilang arah tidak tau akan melakukan apa, hanya menatap atap kamar takut akan kehidupanku yang begini-begini saja membuatku gagal untuk bisa membahagiakan dan membanggakan kedua orang tuaku, mencapai impian-impian diriku, dan bingung apa yang harus aku lakukan untuk melakukan hal yang bebas yang aku mau.
Selama semester 1 - 4 aku baru sadar bahwa diriku terlalu banyak menyia-nyiakan waktu, tapi sungguh aku tidak menyesalinya karena semua memang ada masanya, semua ada tahapnya. Sesampai pada di semester 5 dan 6 inilah aku banyak mengeluh terhadap diriku sendiri, aku selalu bosan dengan apa yang aku lakukan setiap hari, aku selalu menuruti apa yang orang lain mau padahal hatiku berkata aku tidak ingin, aku berusaha mengikuti keinginan orang supaya orang tidak memandang jelek terhadapku.
Namun, rasanya ini bukan diriku sendiri, bukan bentuk bebasku yang sesungguhnya, begitu banyak rasa takut, hilang, hampa, dan kekosongan dalam hidupku. Tak hanya sekedar itu, aku menjadi begini dan banyak yang telah menjadi imbas, orang-orang menunjukan sifat aslinya ketika kita juga berusaha menjadi diri kita sendiri seperti orang-orang terdekatku dan orang lain yang selalu mengomentari hidupku. Tapi, baru aku sadari hari ini bahwa adanya mereka membuatku lebih kuat dan lebih mengerti apa arti hidup ini, lebih tau siapa orang yang benar-benar peduli dan menghargai kita.
Semester 5 dan 6 banyak waktu ku sia-siakan hanya untuk mencari jati diriku, siapa aku sebenarnya?. Aku mencoba untuk bangun dan bangkit kembali dari apa yang kubilang sebagai “keterpurukan”, aku mengikuti semua hal yang bersangkutan dengan hobiku, sesuatu yang baru, sesuatu yang asik dan menarik versi diriku. Contohnya, seperti aku mencoba mengikuti kepanitiaan atau organisasi dengan banyak rapat didalamnya, menjadi sukarelawan sebagai pengajar, mengikuti pelatihan tari, dan hanya menulis satu dua tiga puisi yang hanya dikonsumsi untuk diriku sendiri.
Sampai tibalah, pada berbagai keadaan bahwa selesksi alam berkata bahwa duniaku bukan pada organisasi, menjadi pengajar, aktivis, atau menjadi penari. Aku lebih nyaman mengunci rapat pintu kamarku hanya untuk duduk di depan leptop dengan buku yang berserakan dengan lebih menjelaskan apa maksud dan memfokuskan target dengan hobiku yang suka menulis. Akhirnya menuju semester 7 aku mulai sedikit demi sedikit mencoba mengeksplor karya-karya diriku pada macam-macam perlombaan. Dari sana aku mulai semakin fokus dan bertekad untuk menggapai impianku, menemui rasa kebebasanku sendiri.
Tentunya apa yang kita pilih dalam hidup memiliki berbagai resiko, seperti yang aku alami. Aku memfokuskan targetku dengan aku meninggalkan skripsiku, jarang keluar kosan, mendapatkan cibiran dan omongan orang karena seringnya aku keluar dengan orang itu-itu saja. Heuhhh... mereka tidak tau rasanya berjuang untuk mencapai target dengan deadline yang singkat. Ah tapi tidak perlu dijelaskan, orang yang tidak suka padaku tidak akan mendengarkannya. TAPI, aku pun menydari satu hal bahwa besarnya resiko yang didapat dari aku memulai fokus pada impianku tidak kalah besarnya aku mendapatkan hikmah dari semua itu.
Di semester 7 ini, mungkin aku belum telat bisa menemukan apa sebenarnya duniaku, apa sebenarnya passhionku, dan bagaimana aku menjadi diriku sendiri. Aku tidak peduli apa kata orang, aku bahagia menjadi diriku sendiri yang sekarang ini. Terlebih adanya berbagai dukungan dari orang-orang yang selalu membuatku lebih kuat. Semangat, doa, dan dukungan dari kedua orangtuaku, dari sahabat hidupku, dari keluarga baruku di sini yang tentunya tau siapa diriku, dan pula semangat yang selalu terus hadir dari orang-oang yang satu passhion denganku.
Resiko yang kita dapat karena kita berusaha untuk menjadi diri sendiri adalah sebuah pembelajaran hidup yang berharga untuk diriku pribadi, kita bisa membedakan mana dukungan yang sebenarnya dengan dukungan basa-basi yang hanya bisa berkata “semangat” saja, lebih mengetahui makna sebuah jalinan perteman dengan orang-orang, lebih mengetahui bahwa apa yang tersimpan di dalam hati kita selama semua baik untuk impian diri kita adalah benar yang harus kita lakukan (pendirian). Lebih mengetahui bagaimana menyikapi orang yang menghina, dan mengataimu dengan cukup diam saja karena puncak kesabaran adalah dengan kamu diam. Dan yang lebih penting dari itu, aku mengetahui dimana aku harus bersuara, dunia mana yang harus aku pijak, passhion apa yang harus aku usahakan, serta kebebasan yang aku cari telah aku dapatkan.
Kalau kamu masih merasa takut dengan apa yang kamu lakukan, kalau kami masih belum siap menerima resiko-resiko yang terjadi ketika kamu ingin menjadi dirimu sendiri menjadi beda dari yang lain, kalo kamu masih kagok dengan orang-orang disekitarmu dengan apa yang kamu ingin lakukan itu tandanya kau masih belum temukan bebasmu, kau masih seperti boneka yang di permainkan oleh dunia yang penuh drama ini. Temukan duniamu, gapailah mimpimu, lawan rasa takutmu, dan hadapi semua resiko yang ada, kalo gak gitu impianmu akan skak begitu saja.

Sama seperti kalian aku adalah pejuang mimpi yang tak akan pernah berhenti menggapai target-targetku, masih dalam proses dan aku mencintai proses suksesku. Bersyukur sekali rasanya dibalik orang-orang yang tidak mengerti diriku masih begitu banyak pula yang mempedulikan dan menghargai waktuku dengan tulus. SEMANGAT SEMANGAT ayo kita menghebat bersama.

Selasa, 16 Agustus 2016

PUISI UNTUK BAPA - WAKTU SUBUH

WAKTU SUBUH
Bersamaan dengan merdunya
Panggilan sayup-sayup suara Tuhan
Berpendar, menggema
Mendekap sama-sama

Parau suara: dunianya yang serak
Lembut wajah nan teduh langitnya
Mengelus perlahan
Gadis yang selalu kecil, dimatanya

Ialah dia yang tak peduli
Sekalipun rumput berubah tajam
Atau telaga sebagai keringat
Demi kami, itulah sesungguhnya cinta

Dan aku yang selalu ada
Tak lepas pada baitan do’a
Lirih menguntai dari terdalamnya ketulusan
Itulah yang abadi, untuku, selalu..

20 Juli 2016

Untuk Bapak yang selalu membangunkanku di waktu Subuh..

ANTOLOGI PUISI - SALJU DAN PELANGI

PUISI I :
PENANTIAN
Lalu adakah lagi desiran
Yang selalu bersama setia
Serta bunga-bunga terbang
Mengisi spasi pada remah roti
Sedang hati selalu dingin
Menanti salju berubah hangat
Dan pendaran pelangi,
Menunggu yang terbahagia..

PUISI II :
GADIS
Matamu, pelangi melengkung indah
Beraura
Binar yang mematikan
Jatuh cintaku sekali melihat
Sekalipun, nanti dulu
Di ujung jelita ada cerita
Dan kau tak berani berkata
Ya, kutub salju mencair begitu cepat..

PUISI III :
ADAKAH PELANGI DI KUTUB SALJU
Adakah pelangi di kutub salju
Sekalipun tak berujung
Entah pada rawa
Atau pada alang-alang
Aku tetap
Pada setia
Pada rindu

Hanya padamu…

PUISI - SEPERTIGA MALAM

SEPERTIGA MALAM
Kala sepertiga malam
Saat semua berada pada sunyi
Nafas menderu, berair mata
Terisak, Meringkuk gelisah

Sewaktu itu
Bumi hanya sebesar kacang polong
Semesta tak ubah selembar daun
Dan ku kalah besar dari setitik debu

Tak ada lain lagi cinta yang Maha Besar, dari-Nya

Yang kusebut inilah damai dalam nyata..

NANTI KITA LUPA - PUISI

NANTI KITA LUPA
Sepintas adalah salah
Bunga mimpi hadir dengan beda
Pun dalam nyata, kau tlah ada
Merumitkan rasa

Sederhana,
Masing-masing cinta pada cintanya
Lelap dalam dekapan senyum yang lain
Terlena pada sesaat..

Tak ada harap
Hanya kenang yang mulai usang
Dan canda di atas kata-kata

Nanti kita lupa, takkan tersisa…