Selasa, 16 Desember 2014

Makna Denotasi dan Konotasi dalam Babasan Sunda (Logika)

Kata Pengantar
Puji syukur penyusun panjatkan kekhadirat Allah SWT dengan berkat Rahmat dan karuni’annya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Makna Denotasi dan Konotasi dalam Babasan Bahasa Sunda”. Penyusunan makalah ini merupakan tugas individu mata kuliah umum Logika yang diampu oleh Asep Yusup Hudayat,M.A.
Isi makalah ini menyajikan tentang makna denotasi dan konotasi yang terkandung dalam beberapa babasan bahasa Sunda dengan menggunakan metode berdasarkan data yang telah dikumpulkan berdasarkan ciri-ciri dan maknanya.
Ucapan terimakasih wajib penyusun sampaikan kepada Asep Yusup Hudayat, M.A. Selaku dosen mata kuliah logika dan kepada semua pihak yang telah membantu penyusun melalui dorongan dan semangatnya.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, namun mudah-mudahan terdapat nilai yang dapat diambil manfaatnya, khususnya bagi penyusun dan menambha wawasan bagi pembaca.






Jatinangor, 12 November 2014

    Penyusun

Deskripsi Pembahasan
Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri, ia ditakdirkan untuk hidup berdampingan satu sama lain untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya, oleh sebab itu maka interasi-komunikasi merupakan sarat yang mutlak dalam kehidupan.
Komunikasi merupakan sebuah cara yang digunakan sehari-hari dalam menyampaikan pesan/rangsangan (stimulus) yang terbentuk melalui sebuah proses yang melibatkan dua orang atau lebih. Dimana satu sama lain memiliki peran dalam membuat pesan, mengubah isi dan makna, merespon pesan/rangsangan tersebut, serta memeliharanya di ruang publik dengan tujuan sang receiver (komunkan) dapat menerima sinyal-sinyal atau pesan yang dikirimkan source atau komunikator (Forsdale:1981). Dalam berkomunikasi kita akan mendapatkan makna yang terkandung dalam bahasa tersebut. Makna yang terkandung bukan hanya makna denotasi melainkan ada pula makna konotasi.
Makna denotasi dan konotasi dalam sebuah pesan atau bahasa memberi pengertian yang tidak terbatas karena ada tujuan-tujuan tertentu yang mungkin saja tidak dapat diprediksi. Makna denotasi terkandung apabila kata tersebut mengacu atau menunjuk pengertian makna yang sebenarnya, sedangkan makna konotasi terkandung bila kata tersebut mengandung nilai-nilai emosi tertentu.
Pengertian denotasi dan konotasi dalam logika itu sendiri, John Stuart Mill mengemukakan bahwa denotasi digunakan untuk menyatakan eksistensi (keberadaan), sedangkan konotasi diberi pengertian sama dengan intense (perangkat atribut atau ciri yang menjelaskan sesuatu yang dapat diacu dengan kata tertentu), dan adakalanya disamakan dengan komprehensi. Denotasi menunjuk satu kelompok benda-benda, sedangkan konotasi menunjuk seperangkat sifat atau ciri yang menentukan barang-barang. Denotasi berarti pembatas atau arti sebenarnya, sedangkan konotasi berarti saran atau anjuran (suggestion), arti atau pengertian tambahan yang ditambahkan pada arti menurut huruf atau arti kiasan.
Morris R. Cohen dan Ernest Nagel dalam karyanya, An Introduction to Logic and Scientific Method, mengemukakan mengenai berbagai pengertian konotasi, diantaranya :
1.      Konotasi dapat berarti seluruh arti tambahan yang terdapat di kepala seseorang manakala menggunakan term tertentu (intensi atau konotasi subjektif).
2.      Konotasi merupakan seperangkat ciri-ciri yang hakiki pada term tersebut (intensi atau konotasi konvensional)
3.      Seluruh ciri-ciri yang dipunyai secara umum oleh barang yang tercakup di dalam denotasi term tersebut, baik cirri-ciri tersebut diketahui maupun tidak (intensi atau konotasi objektif).
Dalam pemaknaanya, makna denotasi merupakan makna kata yang sesuai dengan makna yang sebenarnya atau sesuai dengan makna kamus, sedangkan makna konotasi merupakan makna yang bukan sebenarnya dan merujuk pada hal yang lain (kiasan). Seperti terdapat dalam contoh kata Empat Mata. Secara denotasi kata Empat Mata  memiliki makna ‘mata yang berjumlah empat’ atau ‘mata yang ada empat’. Sedangkan menurut makna konotasi Empat Mata bermakna ‘rahasia’ atau ‘eksklusif’.
Pada makalah ini, penyusun akan berusaha mengungkapkan makna denotasi dan konotasi dalam babasan Bahasa Sunda. Babasan merupakan ucapan yang sudah pasti patokan serta memiliki arti pinjaman, bukan arti yang sebenarnya tapi merupakan perbandingan dari sifatnya satu benda atau keadaan dan sudah menjadi suku kata. Berikut beberapa pemaknaan denotasi dan konotasi dalam babasan Bahasa Sunda, diantaranya sebagai berikut :

1.      Amis Budi
Dalam bahasa Indonesia amis memiliki arti manis dan budi yaitu perangai atau tingkah laku. Secara denotasi amis budi bermakna perangai (tingkah laku yang manis) dalam KBBI manis (amis) memiliki arti rasa seperti rasa gula, elok, mungil untuk gadis atau benda,sangat menarik hati,indah dan menyenangkan. Sedangkan secara konotasi amis budi memiliki makna bagus budi pekerti, menyenangkan atau murah tersenyum. Pada dasarnya makna konotasi pada kata amis budi berangkat dari makna denotasinya sendiri yakni bahwa kata amis atau manis mengacu pada kata sifat yang bersifat positif yang berarti menyenangkan dan sangat menarik dan kata manis mayoritas disebutkan untuk gadis.



2.      Amis Daging
Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, kata amis dalam bahasa Indonesia memiliki arti manis, sedangkan kata daging secara denotasi memiliki arti gumpalan (berkas) lembut yang terdiri atas urat-urat pada tubuh manusia atau binatang (diantara kulit dan tulang), bagian tubuh binatang sembelihan yang dijadikan makanan, tubuh manusia (sebagai imbangan jiwa atau janin),bagian dari buah yang lunak di bawah kulit, dan biasanya boleh dimakan.
Sedangkan secara konotasi idiom amis daging memiliki arti mudah terterap penyakit kulit. Seperti yang tertera pada penjelasan sebelumnya, amis memiliki banyak arti. Mungkin yang cocok dengan arti daging pada idiom amis daging adalah hasil yang dipadukan dengan arti amis (manis) yakni sangat menarik hati,indah dan menyenangkan. Kita dapat memadukan dari kedua arti manis dan daging yakni bagian tubuh manusia yang menyenangkan (mudah) sehingga gampang terterap penyakit.

3.      Ateul Biwir
Dalam bahasa Indonesia ateul berarti gatal dan biwir berarti bibir. Menurut KBBI gatal merupakan perasaan geli yang merangsang pada kulit tubuh, sedangkan bibir merupakan bagian tepi pinggir mulut sebelah bawah dan atas pada wajah manusia. Secara denotasi ateul biwir bermakna gatal bibir atau bibirnya gatal.
Secara konotasi  ateul biwir memiliki makna seseorang yang tidak sabar untuk mengeluarkan kekesalannya kepada seseorang. Hal ini bisa dilihat dari kata gatal yang berarti perasaan geli yang merangsang dan menimbulkan ingin melakukan perbuatan dengan cara menggaruk bagian yang gatal tanpa berfikir terlebih dahulu atau melakukannya secara spontan, sedangkan bibir merupakan alat ucap manusia untuk berbicara, mengeluarkan suara dan menyampaikan pendapat dari pikirannya seperti menyatakan pernyataan, kekaguman,kekesalan,dan sebagainya. Jadi, bisa disimpulkan bahwa ateul biwir itu merupakan proses mengeluarkan bahasa khususnya kekesalan dengan spontan sehingga menimbulkan tidak sabar untuk melakukannya.

4.      Duit Pait
Duit dalam bahasa Indonesia berarti uang, dalam KBBI secara denotasi uang adalah alat tukar atau standar pengukur nilai (kesatuan hitungan) yang sah dikeluarkan oleh pemerintah suatu Negara berupa kertas,emas,perak, atau logam lain yang dicetak dengan bentuk gambar tertentu, uang juga bisa berarti harta atau kekayaan. Sedangkan pait dalam bahasa Indonesia yaitu pahit, yang bermakna denotasi rasa tidak sedap seperti rasa empedu, tidak menyenangkan hati, menyusahkan hati dan menyedihkan. Jadi, makna dari duit pait secara denotasi adalah uang yang berasa pahit.
Secara Konotasi, duit pait bermakna uang milik orang lain. Hal ini bisa kita simpulkan dari arti pait pada duit pait yakni rasa tidak sedap, tidak menyenangkan hati, menyusahkan hati dan menyedihkan . Kita dapat memadukan dari kedua arti yakni uang yang menyusahakan hati. Artinya, uang yang merupakan harta atau kekayaan yang mendatangkan kebahagian atau kepuasaan jika kita memilikinya, terasa menyusahkan apabila uang yang kita pegang itu adalah uang milik orang lain karena sama saja itu kita tidak memiliki uang.

5.      Gedé Hulu
Gedé hulu dalam bahasa Indonesia berarti besar kepala. Dalam KBBI, besar merupakan ukuran yang lebih dari sedang dan lawan dari kecil, tinggi dan gemuk, luas , tidak sempit, lebar, hebat, mulia, berkuasa, banyak dan tidak sedikit, menjadi lebih dewasa dari sebelumnya. Sedangkan kepala merupakan bagian tubuh diatas leher pada manusia dan beberapa hewan yang merupakan tempat otak, pusat jaringan, saraf, dan beberapa pusat indra. Secara denotasi makna dari gedé hulu (besar kepala) adalah kepala yang besar.
Secara konotasi, gedé hulu (besar kepala) bermakna sombong. Pemaknaan tersebut juga bisa disebabkan dari pemaknaan denotasi sendiri, yaitu arti kepala yang merupakan tempat otak untuk berfikir yang termuat berbagai kegiatan seperti kegiatan memastikan,meragukan, merancang, menghitung, mengukur, mengevaluasi, membandingkan, menggolongkan, memilah-milah atau membedakan, menggolongkan, menghubungkan, menafsirkan, melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada selanjutnya di hubungkan dengan makna gedé (besar) dalam idiom gedé hulu ini lebih bermakna ukuran yang lebih dari sedang atau berkuasa. Artinya dalam idiom gede hulu terdapat sifat pemikiran yang besar sehingga terkadang menjadikan seseorang sombong karena seseorang itu merasa bangga dengan dirinya sendiri,memandang dirinya lebih besar dari orang lain.



6.      Hampang leungeun
Hampang dalam bahasa Indonesia artinya ringan. Dalam KBBI, ringan ialah enteng, dapat diangkat dengan mudah, mudah dikerjakan. Sedangkan, leungeun dalam bahsa Indonesia bearti tangan yaitu sesuatu yang digunakan sebagai atau menyerupai tangan, anggota badan dari siku sampai ke ujung jari atau dari pergelangan sampai ujung jari. Secara denotasi hampang leungeun (ringan tangan) memiliki makna tangan yang tidak berat atau tangan yang enteng.
Secara konotasi ada dua makna yang terdapat dalam idiom hampang leungeun (ringan tangan). Makna yang pertama yaitu berarti suka memukul. Makna yang kedua yaitu suka menolong atau membantu, serta lekas berbuat sesuatu. Hal ini disebabkan karena tangan dapat diangkat dengan mudah atau enteng. Ketika tangan diangkat dengan mudah itu tangan tersebut melakukan kegiatan yang spontan. Dan biasanya seseorang melakukan spontan itu dipicu dari emosi-emosi yang ada dalam dirinya, sehingga kegiatan yang dilakukan oleh tangan ini ada yang kearah negatif (seperti memukul,menampar, dan lain-lainnya) dan kearah positif (melakukan sesuatu yang dapat membantu).

7.      Hujan Cipanon
Hujan dalam KBBI ialah titik-titik air yang berjatuhan dari udara karena proses pendinginan yang datang banyak dan turun dari langit. Cipanon dalam bahasa Indonesia ialah air mata. Secara denotasi adalah hujan air yang keluar dari mata.
Secara konotasi hujan cipanon (hujan air mata) bermakna banyak orang menangis, banyak air mata yang dicucurkan. Hal ini disebabkan dari makna denotasi hujannya sendiri yang berarti terjatuhannya air yang banyak. Air mata adalah hasil dari menangis. Sehingga idiom hujan cipanon (hujan air mata) ini bermakna bahwa air matanya berjatuhan dari mata orang banyak.

8.      Kembang Buruan
Kembang dalam bahasa Indonesia berarti bunga. Dalam KBBI bunga ialah bagian tumbuhan yang akan menjadi buah, biasanya elok warnanya dan harum baunya, jenis untuk berbagai-bagai unga, gambar hiasan (pada kain,pamor, ukiran, dsb), tambahan untuk memeperindah, tanda-tanda baik, sesuatu yang dianggap elok dan cantik. Sedangkan buruan dalam bahasa Indonesia merupakan halaman rumah tempat bermain anak-anak. Secara denotasi kembang buruan berarti bunga yang berada di halaman rumah atau nama bunga itu adalah bunga buruan.
Secara konotasi kembang buruan berarti anak kecil yang sedang lucu-lucunya yang sedang aktif bermain. Makna konotasi tersebut disebabkan oleh makna kembang (bunga) yang berarti elok dan cantik yang tergambar pada anak-anak kecil serta makna buruan yang berarti halaman rumah tempat bermain. Dimana bermain merupakan hal penting dalam perkembangan emosional, mental, intelektual bahkan fisik anak kecil yang membuat mereka memasuki dunia imajinasinya sendiri.

9.      Ipis Biwir
Ipis dalam bahasa Indonesia artinya tipis, biwir artinya bibir. Dalam KBBI tipis berarti sedikit antara permukaan yang satu dengan yang lainnya, kurang tebal, kurang padat,kurang nyata kelihatan, dan sedikit. Sedangkan bibir merupakan bagian tepi pinggir mulut sebelah bawah dan atas pada wajah manusia. Secara denotasi makna ipis biwir ialah bibir yang tipis.
Secara konotasi ipis biwir memiliki makna suka menangis. Menangis adalah respon fisik akibat dari reflex ataupun dari gejolak emosi yang dirasakan oleh seseorang yang terdapat gerakan-gerakan bagian muka didalamnya termasuk bibir. Ketika menangis bibir kita akan lebih tipis karena tertarik oleh aktivitas yang dilakukan ketika menangis.

10.  Gurat Batu
Dalam bahasa Indonesia gurat berarti garis sedangkan dalam KBBI gurat (garis) merupakan parut bekas digaruk, gores, coretan panjang, setrip, ketentuan (nasib,takdir,dsb), batas, tanda berupa coretan panjang di tanah sebagai batas, deretan titik-titik yang saling berhubungan,aturan, dan kubu atau daerah pertahanan. Sedangkan pengertian batu menurut KBBI ialah benda keras dan padat yang berasal dari bumi atau planet lain, tetapi bukan logam, akik (untuk mata cincin), intan buatan, baja kecil sebagai pencetus api, baterai, dan tonggak (palmil). Secara denotasi gurat batu (garis batu) berarti garis yang berbentuk batu.
Secara konotasi, gurat batu memiliki makna sifat yaitu teguh pendirian. Berangkat dari pengertian denotasi batu itu sendiri yang berarti benda kuat, keras dan padat yang diasumsikan dengan sifat seseorang yang memiliki watak kuat pendiriannya seperti batu.



Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dari kajian yang penyusun lakukan maka dapat di ambil kesimpulan bahwa makna denotasi dan konotasi dalam sebuah pesan atau bahasa memberi pengertian yang tidak terbatas karena ada tujuan-tujuan tertentu yang mungkin saja tidak dapat diprediksi. Makna denotasi terkandung apabila kata tersebut mengacu atau menunjuk pengertian makna yang sebenarnya, sedangkan makna konotasi terkandung bila kata tersebut mengandung nilai-nilai emosi tertentu.
Pengertian denotasi dan konotasi dalam logika itu sendiri, John Stuart Mill mengemukakan bahwa denotasi digunakan untuk menyatakan eksistensi (keberadaan), sedangkan konotasi diberi pengertian sama dengan intense (perangkat atribut atau ciri yang menjelaskan sesuatu yang dapat diacu dengan kata tertentu), dan adakalanya disamakan dengan komprehensi. Denotasi menunjuk satu kelompok benda-benda, sedangkan konotasi menunjuk seperangkat sifat atau ciri yang menentukan barang-barang. Dalam bahasa sehari-hari penggunaan istilah denotasi dan konotasi menurut kenyataannya telah berubah. Denotasi berarti pembatas atau arti sebenarnya, sedangkan konotasi berarti saran atau anjuran (suggestion), arti atau pengertian tambahan yang ditambahkan pada arti menurut huruf atau arti kiasan.


Daftar Pustaka
Sugono, Dendi. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Keempat). Jakarta: Balai Pustaka.
Satjadibrata, R. 2008. Kamus Basa Sunda (Edisi pertama). Bandung: Kiblat Buku Utama.
Budi Rahayu Tamsyah, dkk. 1000 Babasan jeung Paribasa Sunda. Bandung: Pustaka Setia.
W. Poespoprodjo. 1987. Logika Scientifika, Pengantar Dialektika dan Ilmu. Bandung : Remadja Karya
Raga. Rafael Maran. 2007. Pengantar Logika. Jakarta: PT Grasindo
psikologi2009.wordprees.com

katalogika.blogspot.com

Folklor, Mitos, dan Legenda di Desa Sindangsari Kecamatan Cisompet

Keanekaragaman budaya sebagai warisan nenek moyang yang tidak ternilai harganya merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Warisan kebudayaan bisa terjadi lewat cerita rakyat (folklor) yang disampaikan secara turun temurun yang akhirnya generasi selanjutnya dapat mengetahui salah satu warisan nenek moyangnya. Informasi hasil budaya masa lampau dapat kita telusuri lewat cerita-cerita rakyat (folklor), mitos, serta legenda yang merupakan peninggalan pikiran para leluhur atau nenek moyang kita.
Kami (saya dan teman-teman yang melakukan penelitian) mendapat informasi bahwa di daerah Garut Selatan masih menyimpan Cerita Rakyat (folklor) maka disini saya tuangkan cerita-cerita rakyat (folklor), mitos, dan lain sebagainnya di daerah tempat saya tinggal tepatnya di Batusari,Desa Sindangsari Kecamatan Cisompet serta Pameumpeuk.

Cerita Rakyat (Folklor) di Garut Selatan

·         Goa Gerdaha
Goa Gerdaha terletak di Kampung Batunagog, Lengkong, Desa Sindangsari, Kecamatan Cisompet. Nama Gerdaha diambil dari kata Nagara Daha. Akses untuk memasuki Goa Gerdaha tersebut memiliki lawang yang kecil namun ruang di dalam Goa tersebut berukuran sangat luas dan memiliki tujuh tingkatan tanah. Dari informasi yang kami dapatkan di dalam Goa tersebut terdapat ukiran lafadz Allah. Menurut mitos, Goa Gerdaha pada zaman dahulu merupakan tempat simpeunan (Lumbung), dan tempat untuk bertapa. Di sana juga terdapat salawé jajar (tempat tidur yang berjajar), terdapat tujuh sumur yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa serta terdapat “penunggu Goa” yang berwujud seperti binatang-binatang liar seperti ular, kerud (harimau), ada juga Naga ( Didaerah tersebut naga sebutan untuk ular besar), jika naga tersebut menghembuskan nafasnya kepada manusia, maka manusia tersebut akan mati. Konon katanya di Goa tersebut terdapat harta karun yang ditunggu oleh dua paraji sakti dan terdapat monyet besar berwarna putih.

·         Curug Luhur
Curug luhur terletak di kampung Batusari, Lengkong, Desa Sindangsari, Kecamatan Cisompet. Pada zaman dahulu Curug ini digunakan sebagai tempat pesugihan serta pemujaan. Ada cerita yang cukup aneh, konon ada seseorang yang tengelam ke dalam air yang terdapat di Curug Luhur  ini, ia melihat adanya sebuah kerajaan tak kasat mata yang terletak didalam air. Kerajaan ini pun dijaga oleh kera raksasa.

·         Pantai Sayang Heulang
Pantai Sayang Heulang ini terletak di Kecamatan Pameungpeuk. Terdapat juga sebuah mitos yang menguak ke masyarakat dari keberadaan pantai ini. Sama seperti cerita pantai-pantai yang berada di selatan Pulau Jawa lainnya, Pantai Sayang Heulang pun memiliki kaitan erat dengan mitos “Nyi Roro Kidul”, sosok seorang wanita yang menjadi ratu sekaligus penunggu Pantai Selatan.

·         Leuweung Sancang
Leuweung Sancang merupakan hutan alami, dan terdapat di Desa Sancang, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut. Sancang ini dilegendakan sebagai tempat hilangnya Prabu Siliwangi. Banyak versi tentang Sancang ini, karena dituturkan dari mulut kemulut sehingga sangat memungkinkan adanya distorsi dan penyimpangan dari sejarah yang sesungguhnya. Asal muasal Leuweung Sancang terbentuk, berawal dari legenda yang bercerita tentang Prabu Kian Santang yang ingin membujuk Prabu Siliwangi (ayah Prabu Kian Santang)  untuk memeluk agama Islam, namun Prabu Siliwangi menolak ajakan dari Prabu Kian Santang. Untuk menyembunyikan jejak, Prabu Siliwangi merubah Kerajaan Padjadjaran menjadi hutan rimba lalu merubah dirinya beserta pengikutnya menjadi sosok harimau dan berlari ke arah selatan menuju Goa Sancang. Hingga saat ini, hutan yang konon dirubah oleh Prabu Siliwangi dinamakan Leuweung Sancang.

Sesebutan Waktu dalam Bahasa Sunda

Waktu dina Bahasa Sunda

A.    Ngaran Waktu Dumasar kana Waktu Ibadah

·         Pajar         : Kira-kira tabuh 04.00-04.30, waktu rék meletékna panonpoé.
·         Imsak       : kira-kira 10 menit saméméh subuh.
·         Subuh      : kira-kira tabuh 04.30-05.00
·         Duha        : kira-kira tabuh 08.00-09.00
·         Lohor       : kira-kira tabuh 12.00
·         Ba’da lohor         : kira-kira tabuh 12.30-13.00, waktu sanggeus kadéngé   bedug lohor.
·         Asar          : kira-kira tabuh 15.30, waktu ngajalankeun salat asar.
·         Magrib     : kira-kira tabuh 18.00-19.00, waktu saréngséna salat magrib.
·         Isa             : kira-kira tabuh 19.00, waktu pikeun ngalaksanakeun salat isa.
·         Ba’da isa  : kira-kira tabuh 19.00-20.00, waktu sanggeus ngalaksanakeun salat isa.

B.    Ngaran Waktu nu Patali jeung Poé

·         Isuk-isuk : kira-kira abuh 05.00-10.00, wanci ba’da subuh nepi ka kira-kira peca sawed.
·         Beurang   : ti mimiit meleték panonpoé nepi ka surupna.
·         Pabeubeurang    : Kira-kira tabuh 11.00-14.30, waktu sabada peca sawed nepi ka waktu panonpoé satangtung
·         Pasosoré  : kira-kira abuh 15.00-18.00, waku sabada panonpoé satangtung nepi ka waktu sarepna.
·         Peuting    : waktu ti barang surup panonpoé nepi ka meletékna deui.
·         Poé ieu     : waktu nu ayeuna keur dilakonan
·         Isukan      : sapoé nu bakal datang
·         Pagéto      : heuleut sapoé ti ayeuna ka hareup (dua poé nu bakal datang)
·         Pagéto amat        : heuleut dua poé ti ayeuna ka hareup (tilu poé nu bakal datang)
·         Kamari     : poé nu geus kaliwat sapeuting
·         Mangkukna        : kamarina, heuleut sapoé ka tukang (poé nu geus kaliwat dua poé)
·         Tilu poé ka tukang        : waktu nu geus kaliwat tilu poé. Saterusna kecap ka tukang dipake pikeu poé, minggu, atawa bulan nu geus kaliwat sababaraha kali.


C.    Sesebutan Waktu nu Patali jeung nu Geus Kalakon

·         Ayeuna    : waktu nu keur dilampahan.
·         Bieu : waktu nu cikénéh karandapan
·         Cikénéh   : panuduh waktu nu geus kaliwat, pandeurieun bieu.
·         Tadi          : waktu nu can lila kaliwatan.
·         Engké       : nuduhkeun waktu deukeut nu bakal kasorang.

D.   Sesebutan Waktu nu patali jeung Jaman

·         Kiwari      : jaman nu keur dilakonan ayeuna
·         Baréto      : jaman nu geus lila kaliwat.
·         Baheula   : jaman nu geus lila kaliwat béh ditueun baréto.
·         Jaga          : jaman nu lila kénéh bakal kasorang.
·         Isuk jaganing géto         : jaman nu lila kénéh pisan bakal kasorang
·         Baring supagi                 : isuk jaganing géto, dina waktu nu bakal datang.

E.    Sesebutan Waktu dina Sapoé Sapeuting Dumasar Kana Kajadian Alam

·         Janari Leutik      : liwat tengah peuting (kira-kira tabuh 01.30)
·         Janari gedé         : kira-kira tabuh 02.00
·         Balébat                : kira-kira tabuh 05.00 (udat-udat Beulah wétan dina waktu rék pajar)
·         Carangcang tihang        : kira-kira tabuh 05.30 (kira-kira lewat pajar, téténjoan remeng-remeng kénéh)
·         Rebun-rebun      :kira-kira tabuh 07.00 (mimiti témbong panonpoé, cibun nu ngagarenclang dina dangdaunan mimiti marurag)
·         Haneut moyan   : kira-kira tabuh 08.00 (keur sedeng ngeunah dipaké moyan)
·         Rumangsang      : kira-kira tabuh 09.00 (wanci sabada haneut moyan, panonpoé mimiti karasa panas)
·         Pecat sawed        : kira0kira tabuh 10.00 (munding nu dipaké magawé sawah dilaan/dipecat sawedna tina beuheung munding nu narik wuluku/garu) di tempat panas tabuh 10.00, di tempat-tempat nu hawana tiis tabuh 11.00.
·         Manceran                        : kira-kira tabuh 12.00 (panonpoé aya di luhureun embun-embunan, panonpoé keur meujeuhna mancer)
·         Lingsir ngulon   : kira-kira tabuh 14.00 (waktu panonpoé ngésér ka kulon)
·         Panonpoé satangtung   : kira-kira tabuh 15.00 (waktu apnonpoé satangtung)
·         Tunggang gunung         : kira-kira tabuh 16.00-17.00 (waktu panonpoé geus rék surup ayana dina luhureun gunung)
·         Sariak layung                 : kira-kira tabuh 17.00-18.00 (waktu layung di langit katéjo beureum)
·         Sareupna                         : waktu kira-kira 18.00-18.30
·         Harieum beungeut       : kira-kira tabuh 18.00-18.30, waktu geus mimiti reup poék.
·         Sareureuh budak           : kira-kira tabuh 21.00 (waktu barudak leutik geus mimiti saré)
·         Sareureuh kolot             : kira-kira tabuh 22.00 (waktu kolot mangsana reureuh)
·         Tengah peuting              : kira-kira tabuh 24.00









Sumber :

Rachmat Taufiq Hidayat, dkk.2007. Peperenian Urang Sunda.Bandung:Kiblat Buku Utama.

Artikel - Wellcomeback Fashion Tahun 90-an


Welcomeback Fashion Tahun 90-an
Rahmia Khoerunnisa
Fashion merupakan perpaduan dari gaya atau style dengan desain atau model yang dipilih sesuai kegemaran yang di terima oleh mayoritas masyarakat serta memberikan kenyamanan. Fashion dapat membuat kita lebih baik atau lebih percaya diri dalam berpenampilan. Berbicara tentang fashion pasti tidak akan terlepas dari yang namanya busana atau pakaian yang kita kenakan sehari-hari.
Berbusana bisa disebut juga sebagai kebutuhan primer dan fashion dalam berbusana tergantung dalam refleksi kita dalam tingkat ekonomi, sosial, dan budaya suatu masyarakat itu sendiri. Masyarakat dengan  kelas atas tentu akan menyebut fashion sebagai kebutuhan primer sedangkan untuk masyarakat kelas bawah akan menyebut fashion itu seperti sesuatu yang tidak terlalu penting asalkan masih berada dalam nilai-nilai budaya, adat istiadat dan pandangan hidup mereka bebas memakai busana apa saja. Dalam berbusana itu sendiri seseorang berbusana ditentukan oleh beberapa faktor, seperti kondisi lingkungan, aktivitas yang dilakukan,kondisi ekonomi,kondisi sosial, perkembangan sistem teknologi dan perkembangan dalam dunia fashion.
Koentjaraningrat (2009;267) mengemukakan bahwa busana merupakan bagian dari sistem peralatan hidup dan teknologi dalam tujuh unsur kebudayaan, dalam pengertian luasnya merupakan suatu benda kebudayaan (artefak) yang sangat penting bagi hampir setiap suku bangsa di dunia. Lebih jauh lagi Koentjaraningrat (2009;268) mengemukakan bahwa busana di tinjau dari fungsi dan pemakaiannya yang terbagi ke dalam empat golongan, yaitu (1) busana sebagai alat untuk menahan pengaruh dari alam; (2) busana sebagai lambang keunggulan atau gengsi;(3) busana sebagai lambang suci; dan (4) busana sebagai perhiasan badan.
Selain itu busana merupakan identitas atau jati diri seseorang. Sebagai contohnya adalah ketika seorang perempuan yang mengenakan busana jilbab tidak dipungkiri lagi bahwa dirinya adalah seorang muslim, contoh lainnya terdapat seorang wanita yang memiliki sifat seperti laki-laki (tomboy) pasti akan memakai busana atau pakaian yang simpel seperti memakai celana jins dan kaos saja . Menurut Riyanto dan Zulbahri (2009) busana bila di tinjau dari kehidupan masyarakat akan memberikan gambaran tentang tingkatan sosial ekonomi. Hal ini bisa kita lihat di dalam lingkungan sehari-hari kita seperti tempat sekolah, kuliah atau kerja. Dan fashion atau gaya dalam berbusana memberikan ciri atau karakter serta menambah kharismatik seseorang dalam berpenampilan.
Pada abad ke-19 di Jawa Barat mengalami perubahan busana yang signifikan ketika Bupati Sukapura Raden Tanuwangsa yang kemudian bergelar Raden Tumenggung Wiradadaha yang memerintah sejak tahun 1855 mengadakan perubahan-perubahan dalam tata cara kehidupan masyarakat antara lain dalam cara berbicara dan berbusana. Perubahan itu dilakukan dengan cara mengikuti perkembangan zaman namun tetap memperlihatkan  ciri khas dari kepribadian masyarakat Jawa Barat.
Perubahan dan perkembangan dalam berbusana pun tidak terlepas dari pengaruh busana barat yang memberikan pengaruh banyak kepada perubahan dan perkembangan berbusana pada perempuan. Pada awal abad 20 perempuan pada umumnya memakai busana yang mempunyai ciri umum kesederhanaan, seperti kebaya, blous yang bercorak, rok di bawah lutut,overall (celana kodok), celana cutbray,dan sebagainya. Namun, seiring berjalannya waktu dan mengikuti perkembangan zaman, busana mengalami cukup banyak perubahan. Manusia sebagai makhluk homo sapiens (makhluk yang bisa berfikir) dan makhluk homo faber (makhluk yang pandai membuat alat dan perkembangannya) menghasilkan pemikiran dan keterampilan dalam membuat busana dari masa ke masa. Perkembangan busana yang sederhana yang kemudian disempurnakan dengan membuat bahan atau model busana yang lebih styles dan modis.
Di zaman modern ini, kita seperti kembali pada taun 90-an namun dengan variasi yang berbeda, perempuan pada zaman sekarang bisa berbusana sesuai dengan era 90-an secara fashionable tanpa di cap kuno atau ketinggalan zaman. Busana yang sudah dimodifikasi menjadi lebih menarik seperti kebaya yang sekarang bisa ditemukan dalam wujud blazer bahkan gaun sekalipun atau celana cutbray yang merupakan item dari trend tahun 90-an bisa divariasikan dengan baju lengan panjang sepinggang dengan memakai sepatu high heels. Blouse yang bercorak di satukan dengan celana jins polos membuat kita terlihat girlish. Begitupun yang dialami dengan overall yang sekarang sudah kembali menapaki kejayaannya yang dipadu padankan dengan strappy heels akan terlihat lebih styles jika di pakai untuk bermain dan kuliah.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan fashion dalam berbusana di zaman sekarang sudah kembali lagi ke masa lalu. Fashion tahun 90 yang dipadupadankan dengan busana modern tetap masih bisa menjaga kesopanannya dan kenyamanannya untuk dikenakan sebagai trend fashion saat ini.