Jumat, 06 Februari 2015

Baitan puisi di Bukit Bintang

kamu lihat lampu kota ini
berserakan tiada harga seperti debu bercahaya
membara seperti api kecil dalam tungku alam           
indah dalam telapak tangan kita

diatas sini kita bertatap
ada damai merasuki diri
engkau tersenyum, mempesona.
Hamparan lampu kota inilah saksinya

Kita meninggi, melawan kabut menemui bintang malam
Melupakan rendahnya  tanah kubur
Terhanyut dalam dekapan angin malam
Menikmati setiap molekul bau jiwamu

Tak ku mau untuk berpaling muka
Berkedip pun aku enggan melakukannya
Karena, aku tahu
Engkau akan hilang bersamanya
Ilusiku.



Bukit Bintang, Bandung.
Jum’at, 06 Februari 2015

Malam hari yang sedikit mengingatmu

Satu hari ketika rindu - puisi pagi

Dalam warnaku kau masih tetap hitam
Tidak akan menjadi awan lembutku
Penjaga tidurku
Atau bahkan penerang jalanku

Engkaulah petir
Mengkilat dari colomonimbus
Menembus putih dan biru
Melawan Helois maupun Artemis

Dalam angkasaku kau Jupiter
Tak apa Dewa Zeus memarahiku
Nyatanya kau besar dalam semesta
Semesta hidupku

Indah dengan Eridanus, gagah dengan Sirius
Bintang-bintangmu bercahaya
Menyapulenyapkan segala keindahan

Kaulah sang pemburu
Dan aku siap menjadi tahananmu

Kontruksi batinku berayun di udara
Antara kau dan bayangmu
Keduanya lewat tanpa permisi

Mengangkasalah sayang
Kita cukup saling memperhatikan
Tertawalah sayang
Aku memang manusia abad 21 tinggal di goa sempit nan bau menantikan bayangmu tak memudar

Tak jauh.
Disana.
Satu inci dari bibir jurangmu.

31 Januari 2015
Rahmia Khoerunnisa


Taufik Rahayu

Taufik Rahayu adalah paman saya yang sangat keren dan baik. Ia bakal menjadi orang hebat karena ke baikkan dan ke kerenna nya.

Kamis, 05 Februari 2015

Timbal balik hidup

Engkau dibenci ?
Kau merasa dikecewakan ?
Kau disakiti ?
Hal yang umum, biasa, dan mainstream.

Flashback sejenak. Apakah kau pernah melakukan kesalahan, pernah mengecewakan atau  pernah meyakiti meskipun tidak sadar engkau lakukan.
Tidak mengelak bahwa semua pengalaman pahit kita adalah balasan atau timbal balik dari apa yang kita lakukan pada seseorang yang tanpa kita sadari membekas di hatinya.
Rasa sakit yang didatangkan dari orang lain yang tidak kita sakiti inilah balasannya.
Kau merasa ? minta maaflah pada Tuhan, perbaiki dirimu, bersyukurlah berarti cara kamu menuju dewasa memang keren.
Kau tak merasa ? bagus ! kau menikmati hidupmu, tetap jadi yang lebih dari sekedar baik, bersyukurlah proses dewasamu sudah direncanakan dengan Tuhan dengan cara lain.

Ya, kuncinya memang kita harus bersyukur. Kita menjadi manusia yang berfungsi.

Lengkong, Cisompet, Garut.

Kampung Lengkong, Kecamatan Cisompet

Cisompet, sebuah kecamatan yang ada di Garut tepatnya bagian selatan Kabupaten Garut. Cisompet memiliki terdiri dari beberapa desa, diantaranya Desa Sindangsari, desa yang saya tinggali sekarang. Desa Sindangsari pun terbagi dalam beberapa nama kampung seperti Batusari, Batunangog, Sawah Hilir, Tegal Koneng, Rancamaya, yang tergabung dalam satu nama daerah yaitu kampung Lengkong.
Kampung Lengkong merupakan kampung yang luas, keberadaannya yang berada di bawah kaki gunung memang membuat kampung ini masih terlihat alami dan asri. Pemandangan yang jarang sekali ditemukan di perkotaan seperti hamparan sawah membentang yang menyerupai tangga-tangga kecil berwarna hijau, cikaso (sungai) yang memiliki curug-curug yang airnya masih sangat jernih sehingga sering digunakan untuk berenang, memancing, mortas, dan lain sebagainya, ada juga kebun teh disebelah utara kampung lengkong yang memiliki keadaan geografis tinggi sehingga tak jarang kami masyarakat disini sering menyebutnya sebagai puncak. Dari sana, kita bisa melihat lebih jelas pantai santolo yang membentang lurus. Selain itu, keadaan kampung Lengkong memang masih penuh dengan perkebunan,sawah, dan hutan.

Kampung saya bisa dikatakan kampung besar yang “terbelakang”, untuk pelayanan kesehatan, berbelanja, sekolah TK,SMP,dan SMA (karena ada dua SD yang ada di kampung saya), bekerja, dan yang lainnya kita harus menempuh jarak sekitar  +3KM dengan rute perjalanan berbelak-belok, menanjak, dan keadaan jalan yang tidak sebagus jalan raya, hanya batu-batu besar yang tesimpan kuat di tanah,serta jurang-jurang dikanan kiri di sebagian perjalanan. Setelah melakukan perjalanan itulah kita akan menemukan apa yang namanya jalan raya. Adapun tranfortasi yang bisa masuk ke daerah kami adalah motor, ada ojek di samping jalan depan arah menuju kampung saya. Adapun truk-truk besar pengangkut kayu-kayu atau juga truk yang dikirim untuk mengirim bahan-bahan bangunan yang menurut saya juga merupakan faktor lain penyebab akses jalan ke kampung saya menjadi lebih rusak.

Kampung Lengkong, masyarakat Desa Sindangsari mana yang tidak akan tau dengan kampung satu ini. Ya kampung saya memang terkenal, tapi sayang kampung saya terkenal karena sarana transfortasi serta akses jalan memiliki jalan yang kurang baik atau tepatnya sangat buruk *ehmmaaf.
Hampir setengah tahun saya tidak tinggal tetap di kampung halaman, ada banyak perubahan tentunya. Jembatan yang dulunya terbuat dari rakitan kayu dan bambu sekarang sudah beralih menjadi jembatan berbeton. Hihii tapi sayang, pembangunanya belum selesai sampai sekarang, padahal sudah 3 semester. Entahlah, setiap pembangunan di daerah saya memang selalu setengah jadi, setelah itu dibiarkan begitu saja dimakan waktu. Dari dulu, Entah mengapa.

Oh iya, waktu sebelum saya pergi meninggalkan kampung halaman saya, tepatnya masih zaman SMA kalo cuaca panas pasti saya dan teman-teman lain-lainnya suka berteduh di bawah pohon-pohon raksamala yang berjejer banyak di sekitar jalan. Iya memang pohon itu milik perkebunan pemerintah,Allhamdulilah ada manfaatnya. Nah, waktu itu semester dua saya pulang, dan perkebunan raksamala itu sudah hilang. Ditebang. Katanya sih akan diganti dengan kebun karet. Pantas saja sekarang musim hujan banyak yang longsor, jadi sekarang kita bercermin saja.

Jujur saja saya kecewa, miris, namun sedikit bersyukur dengan keadaan akses jalan ke kampung saya seperti ini. Saya hanya ingin setidaknya adik-adik saya yang sedang menuntut ilmu ke sekolah SMP/SMA tidak terlalu lelah. Bisa dibaca : (http://rahmiakhoerunnisa.blogspot.com/2013/05/perjuanganku.html)

Entahlah, siapa yang harus kita salahkan. Pemerintah ? ah mereka terkadang suka lupa membawa mata dan kuping. Masyarakat ? kalo saya jadi bagian masyarakat mungkin saya sudah lelah. Bukan, bukan menyerah. Hanya saja lelah. Lelah beda dengan menyerah ya ? :)
Harapan demi harapan memang selalu ada seiring berjalannya waktu atau pergantian kepala desa kami tapi harapan tinggal harapan. Ah tapi tetap dari dulu harapan saya hanya satu “semoga pemerintahan di daerah saya benar-benar jujur dan adil.”


Cerita satu hari di tgl 27

Malam di tanggal dua puluh tujuh

Malam ini, terlalu hening. Jangkrik pun enggan bersuara, sepertinya hantu-hantu juga sedang malas menggaguku. Begitu hening yang memekikan telinga. Beda dengan kamar kecilku malam ini, jantung jam berdetak terasa cepat, semakin cepat, semakin keras. Tembok-tembok pun menertawakan, dan atap langit kamar ini seperti mau jatuh, terasa begitu sangat pengap. Sesak. Memang kamar ini sudah dikutuk ya ?

Ada tamu datang. Oh rupanya angin malam mampir ke sela-sela jendela, meja bersiul, ku lirik dan bola mataku tertuju pada sejadah merah yang tersimpan rapi di atas meja, ada senyum harap darinya. Aku termenung.

Pintu perlahan berdecit, keran air berirama sesukanya, ada bayang wajah dari bak air. “Siapa dia ? kasian ! wajah yang menyedihkan”. Pikirku.

Kembali.

Jam, tembok, atap, dan jendela serentak diam. Sejadah itu tersenyum semakin menjadi, kuhamparkan. Ku kenakan mukena.

Hening.

Doa.berdoa.mendoakan.

Air mata ??!

Jam, tembok, atap, jendela : “DASAR KAU BODOHHHH!!”

Sejadah : “aku kasihan padamu..”

Aku : Diam, ini yang terkahir kalinya.

Mereka : mau apa lagi ?

Aku : aku hanya ingin mendoakannya

“Agkkkkkh!!! Berhentilah menangisi sesuatu yang tidak bernilai di mata Tuhan.” Kesal mereka.


            Aku tak perduli, sekalipun tangisku sia-sia dan tak bernilai harapan akan selalu ada pada setiap bulir air matanya dan ada ketulusan do’a pada setiap partikel bola bening yang menggulir lembut membasahi kain putihku.

Musimku yang tak tentu

Musimku yang tak tentu
Sakura itu berbunga di musim dingin. Semua terasa hangat walau bukan pada musimnya,dunia memang berpihak pada kita,ia selalu tersenyum saat mendengar nama kita. Yaaa hari-hari itu semua terasa indah.

Bukan sebuah kehidupan namanya jika hidup tidak memiliki masalah. Sampai mereka bosan menghampiri,kita terus bergandengan mencari musim yang lebih indah.

Hingga berada pada titik puncak pencarian,kita tau kita tak akan selamanya terus bergandengan. Tangan-tangan itu mulai terlepas,bunga sakura jatuh berguguran. Keduanya terdiam,membisu seakan dunia menelan suara mereka.

Mereka kalah.


Aku disini masih berdiri di tengah-tengah musim yang tak tentu,  antara musim dingin atau musim semi, menunggu satu kata darinya yang akan merubah semuanya,entah sesuai harapan atau itu malah menghancurkan..