Rabu, 27 Mei 2015

Prinsip Kerja sama Grice - Linguistik

Prinsip Kerja Sama Grice
Prinsip kerja sama Grice atau kaidah konversasi maksim yang tergolong ke dalam empat maksim, diantaranya : bidal kuantitas, bidal kualitas,bidal relevansi, dan bidal cara. Konversasi ini merupakan wujud dari pragmatik, karena si penutur dan petutur berbicara secara lisan, langsung, spontan, dan tidak menggunakan bahasa secara tertib dalam percakapan. Karena itulah, terjadi pelanggaran-pelanggaran dalam percakapan tersebut.
Maksim kuantitas, Menurut Rahardi (2008:53) di dalam maksim kuantitas, seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan seinformatif mungkin. Tuturan yang tidak mengandung  informasi atau melebihi yang diperlukan mitra tutur dapat dikatakan melanggar prinsip kerja sama kamsim kuantitas. Seperti yang terdapat dalam percakapan diatas maksim kuantitas terdapat pada percakapan
Yéti      : Kéla kéla ih iraha tétéh kadieu ?
Rini      : Ih nembé pisan tadi, maenya teu terang abi kadieu tadi apanan abi asalamualaikum, kikituan.
Ketika penutur bertanya “kapan kesini”, si petutur cukup dengan menjawab “barusan” itu sudah memenuhi satu percakapan dan meberikan informasi yang cukup atas pertanyaan si penutur.
Selanjutnya yaitu maksim kualitas mempersyaratkan seorang penutur diharapkan dapat menyampaikan sesuatu yang nyata dan sesuai fakta sebenarnya di dalam bertutur. Menurut Rustono (1999:56), maksim ini berisi nasihat untuk memberikan kontribusi yang benar dengan bukti-bukti tertentu. Dua ajaran maxim ini adalah “Jangan mengatakan apa yang Anda yakini salah!” dan “Jangan mengatakan sesuatu yang Anda tidak mempunyai buktinya!”. Contoh pelanggaranya seperti pada :
Rini            :  Nya Dugi Cileunyi mah da émang mahal, duka gara-gara bbm naek, tah Jokowi meureunnya.
      Tuturan tersebut tidak memenuhi prinsip kerja sama maksim kualitas karena belum tentu kebenarannya dan tuturan tersebut masih belum didukung oleh fakta yang cukup.
            Yang ketiga yaitu maksim relevansi, agar terjalin kerja sama yang baik antar penutur dan petutur, masing-masing hendaknya dapat memberikan kontribusi yang relevan tentang sesuatu yang sedang dipertuturkan. Contoh pelanggarannya seperti pada :
Rini      : Kumaha éta téh ? (kejadianya)
Yéti      : Jaba malam ju’mat harita téh, sieun
            Terlihat jelas bagaimana pelanggaran maksim relevansi itu berlangsung, apa yang diutarakan penutur tidak relevan dengan pertanyaan atau masalah yang dibicarakan.
            Yang terakhir adalah maksim cara, menurut Rahardi (2008:57)  maksim cara mengharuskan peserta pertuturan bertutur secara langsung, jelas, dan tidak kabur. Rustono (1999:57) menyatakan maksim cara sebagai bagian prinsip kerja sama menyarankan penutur untuk mengatakan sesuatu dengan jelas. Ada empat jabaran maksim ini, yaitu 1) hindarkan ketidakjelasan tuturan, 2) hindarkan ketaksaan, 3) singkat (hindarkan uraian panjang lebar yang berlebihan), dan 4) tertib-teratur. Bertutur dengan tidak mempertimbangkan hal-hal tersebut dapat dikatakan melanggar prinsip kerja sama karena tidak mematuhi maksim pelaksanaan. Contoh pelanggarannya yaitu :
Ka kamar abi deui geura coba, aduh ya ampun, sieun tepi ka ayeuna troma. Cigana ka kamar abi hungkul tétéh.
            Tuturan tersebut tidak memiliki kejelasan dan ambigu. Kata “ka kamar abi deui geura coba” memiliki bahasa yang kabur dan ambiguitas sangat tinggi, sehingga maknanya pun menjadi bermacam-macam. Tuturan tersebut masih tidak jelas apa,siapa,dan bagaimana “sesuatu” tuturan tersebut terjadi. Sehingga dapat dikatakan bahwa tuturan tersebut melanggar prinsip kerja sama maksim cara.




Daftar Pustaka :
https://kuwat.wordpress.com/artikel/prinsip-percakapan/


Prinsip Kesopanan Leech

Prinsip Kesopanan Teori Leench
Kesopansantunan terjadi pada dua partisipan, yaitu diri sendiri (penutur) dengan orang lain (lawan tutur). Prinsip kesopanan ini banyak diuraikan oleh beberapa ahli seperti Fraser, Leech, Robin Lakoff, Bowl dan Levinson. Namun, pandangan kesopanan menurut Leech. Dipandang sebagai rumusan yang paling lengkap dan paling komprahensif.
Leech menuangkan prinsip kesopanan kedalam beberapa jenis maksim. Maksim tersebut adala kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasi terhadap tindakan dan ucapan lawan tutur, diantara maksim tersebut, adalah :
a.       Maksim Kebijaksanaan
Prinsip kesopanana pada maksim kebijaksanaan ini berpegang pada gagasan yaitu harus selalu mengurangi keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan bertutur. Apabila dalam bertutur menggunakan maksim kebijaksanaan ini, penutur akan terhindar dari sikap dengki, iri hati, dan sikap lainnya yang kurang santun terhadap lawan tutur.
Contoh tuturan dengan menggunakan maksim kebijaksanaan yang terjadi pada kakak beradik ketika suasana sedang dingin atau hujan besar :
Kakak             : “De, pakai saja jaket punyaku”
Adik                : “Tapi kakak bakal kedinginan”
b.      Maksim Kedermawanan
            Prinsip dari maksim ini yaitu mengurangi keuntungan diri sendiri dengan mengorbankan sesuatu yang ada pada diri sendiri, seperti yang terdapat dalam contoh :
Anak kosan 1  : “Duuuh tadi perutku bunyi terus”
Anak kosan 2  : “Tuh dikamarku ada cemilan, aku ambil dulu ya..”


c.       Maksim Penghargaan
            Prinsip dari maksim ini adalah mengurangi cacian dan menambahkan pujian pada orang lain, dengan maksim ini para peserta tuturan akan dijauhkan dari sikap iri hati, dengki, saling membenci dan saling merendahkan.
Contoh :
A         : “ Lihat, tadi siang aku membeli baju ini dari Jatos”
B         : “Waaah, keren sekali, warnanya sesuai dengan kulit putihmu”

d.      Maksim Kesederhanaan ( Modesty Maxim)
Prinsip yang digunakan dalam maksim kesederhanaa itu yaitu para peserta tutur dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian pada dirinya sendiri. Jika dia mengunggulkan dirinya sendiri, tentunya dia akan dianggap sombong dan congkak hati.
Contoh :
A         : “Nanti, kamu yang menjadi moderatornya ya?”
B         : “Aduh, saya terkadang gugup”

e.       Maksim Permufakatan
Maksim permufakatan atau yang disebut dengan maksim kecocokan. Di dalam maksim berperinsip agar para peserta tutur dapat saling membina kecocokan atau kemufakatan di dalam kegiatan bertutur. Apabila terdapat kemufakatan atau kecocokan antara diri penutur dan mitra tutur dalam kegiatan bertutur, masing-masing dari mereka akan dapat dikatakan bersikap santun. Contoh :
A         : “Sayur ini kurang asin ya mah ?”
B         : “Iya dek, ini garamnya”

f.       Maksim Kesimpatian
Maksim kesimpatian diharapkan agar peserta tutur dapat memaksimalkan sikap simpati dengan orang lain. Contoh :
A         :  “Kemarin nenekku masuk rumah sakit”

B         : “Yang sabar ya, semoga cepat diberikan kesehatan”

Coretan Mei 2015


antara kata dan maafmu
kuat selapis jaring laba-laba
tipu daya kehampaan
janji yang bersua kau kiblatkan
menyisakanku pada kesetiaan..

Kamis, 14 Mei 2015

ssssttttt!!!!

Ada rahasia yang saya ingin katakan kepada kalian yang membaca dan suka membaca, entah itu yang saya rasakan sendiri atau tidak, atau mungkin kalian juga pernah merasakan bahkan mengalami hal seperti ini :
"Ketika kita membaca, itulah sebenarnya diri kita. karena, apa yang kita baca adalah cerminan dari diri kita. Menurut pemahaman saya kita sebenarnya ada dua, dua di alam nyata dan dua di alam bawah sadar kita. Dialam nyata ini, kita adalah bukan sepenuhnya diri kita. kenapa ? karena kita sebenarnya dikuasai. Dikuasai oleh apa yang menjadi tujuan dan tanggung jawab kita. rumah, sekolah, pekerjaan, semuanya kita harus mengerti dunia mereka tanpa sadar bahwa kita "malas" mengikuti atau memahami kehidupan mereka. dan kita di alam bawah sadar adalah kita yang sebenarnya (jika sedang membaca), saya merasa kebebasan ada padanya, kita mau menjadi sayur wortel, debu, kantong kresek, bahkan seekor kecoa pun bisa kita lakukan. saking bebasnya, kepuasaan itu tidak bisa diungkapkan.  Rahasia lagi, terkadang saya sering merasa ketika saya membaca di tempat hening atau tempat favorit saya membaca dikampus seperti di depan gedung B, FIB pohon-pohon yang berbaris dengan tenang disana seperti mendengarkan suara hati saya, mereka seperti memperhatikan saya, terkadang mereka seperti melakukan "interaksi" antara satu dengan yang lainnya. Dan anehnya, setiap saya membaca sesuatu yang belum terjerambah oleh imaji saya, realitas dalam kehidupan nyata selalu menampakannya entah itu esok harinya atau beberapa minggu kemudian. mungkin iya, terserah mau bilang saya gila. tapi itu rahasia saya, dan saya mohon jangan katakan pada orang yang tidak mengerti arti apa yang saya katakan barusan, sia-sia, mereka tak akan percaya. sstttttt, ini cukup rahasia kita;)

Saya dengan menulis..

Saya punya setakterhingga impian. banyak, banyak, banyaaaaaaaak sekali. setiap saya punya impian, entah itu yang barusan terlintas di pikiran saya atau pun impian hasil nyontek dari impian orang lain (secara tak langsung ada inspirasi) semuanya langsung saya tulis dalam kertas, kertas apapun entah itu dibelakang buku catatan, di sobekan kertas, di catatan handphone atau pada selembar tisu pun jadi. Ajaibnya, setiap impian yang saya tulis pasti akan terjadi,dan pastinya saya senang. Saya percaya, bahwa ada sihir ketika kita menulis sesuatu, ada kekuatan dalam coretan kita, ada keajaiban saat kita meyakininya. Menulislah, karena semua akan menjadi nyata... :)

Coretan, 10 April 2015


Kasihku yang tak bermuara,
Sederhana,ketidakmengertian.
Ajarkan aku, melebur tanpamu.
Dan, cintakku takkan kemana..

Rabu, 06 Mei 2015

Dayang Sumbi jeung Sangkuriang (versi bebas)

Dayang Sumbi jeung Sangkuriang

Geus teu paduli kuring mah sanajan manéhna anak sorangan ogé, tong héran lamun kuring bogoh pisan, bongan atuh da mirip pisan jeung bapakna baheula. Awakna,jangkungna,bodasna,lempangna meuni nyécés pisan. Lir ibarat pinang dibeulah dua téh enyaan. Kapoékan pisan téh teu bohong, geus tara inget kumaha murkana kuring baheula ka anak kuring téh, teuteupna, imutna, omonganana, geus kuring mah éléh. Teu walakaya ari geus jeung anjeunna mah, Sangkuriang.

            Sanggeus dirapalan, poé harita kénéh ngahaja kuring ka leuwi,rék beberesih ngageugeulis manéh pikeun engké peting munggaran jeung Sangkuriang. Duka rarasaan duka asli deudeuleuan, kuring sakolébat ninggali salaki kuring baheula, Kang Tumang. Buru-buru kuring balik,sieun aya nanaon.

            Saminggu ti geus laki rabi jeung Sangkuriang, dunya téh asa nu duaan,sapopoé kuring pinuh kabungah jeung kabagjaan anu geus lila ku kuring teu manggih. Nepi ka poé ka dalapan basa kuring parérénéng duaan jeung Sangkuriang, manéhna ngaleungit, kabéh sakur banda anu aya diimah laleungit, jol jelema hideung datang nyampeurkeun paromaanana tiis pikakeueungeun,ngasongkeun manuk guménol pinuh ku getih. Sababaraha poé tiharita kuring gering,awak kuring laleuleus teu bisa lempang-lempang acan,ari salaki kuring kalah bungaheun,pajarkeun téh cenah kuring bakal boga budak. Kuring ngilu bungah, asa teu percaya kuring bakal boga budak deui.

***
            Teu percaya,kuring ngalahirkeun budak ciga kieu, kulitnya kesrak ciga sisit oray, ceulina rebing, panonna bareuh jeung biwirna teu ngabentuk. Salaki kuring olohok, teu percayaeun anakna ciga kitu, kitu ogé kuring. Sangkuriang nitah miceun éta budak, tapi kuring indungna dalah sagoréngna budak, anu jadi indungna teu téga miceun anak komo nepika maéhan mah. Ngan, sapoé tidinya anak kuring anu can kungsi dibéré ngaran éta maot, ngalepaskeun nyawa. Tidinya hirup kuring jeung salaki ngadadak robah, salaki hésé néangan pagawéanana, kebon kuring kabéh katerap hama, katambah kuring panyakitan, teu boga duit sapérak-pérak acan, hirup kuring pinuh kasangsaraan.

            Kuring sadar boa ieu téh doraka kuring kawin ka anak sorangan, kuring gé geus teu kuat hayang ngomongkeun yén Sangkuriang téh budak kuring. Kuring nyoba ngawanikeun sorangan, ngomongkeun anu sabenerna. Salaki kuring répéh, teu percayaeun naon ku kuring diomongkeun. Jol manéhna nangkeup kuring, kuring ceurik dimanéhanana.

Salaki kuring didatangan bapakna dina impian, manéhna dibéré syarat pikeun kuring jeung Sangkuriang lepas tina sangsara, syaratna nyaéta kuring kudu ngagali deui kuburan budak kuring terus eta tulang-tulangna kudu diduruk jeung lebuna kudu disebarkeun ka tujuh gunung jeung tujuh wahangan anu baheulana tempat kang Tumang ngumbara. Sataun kuring ditinggalkeun, salaki ngumbara ka gunung jeung wahangan nu dimaksud, kuring ngarasa sono jeung teu puguh rarasaan. Beurang peuting ngadu’a keur kasalametan manéhna.

Sora nu ngetrok panto, kuring geus yakin éta salaki kuring, kacida bungahna bisa papanggih deui jeung manéhna, awakna begang, kulitna hideung, panonna celong, tapi tetepanana anggeur hanet cara biasana. Tidinya kuring jeung manéhna pindah imah, ngamimitian deui muka kahirupan anyar, rumah tangga kuring jeung manéhna pinuh kabungah jeung kabagjaan deui, sanajan awak kuring unggal poéna beuki téréh ngolotan, tapi kuring mah anggeur, Dayang Sumbi anu bakal terus nyaah kamanéhanana..

Rahmia Khoerunnisa