BANDUNG KETIKA PAGI

Aku suka aroma ini.
Menjadi diri sendiri. Bebas.

Aku suka jalanan sepi tanpa lalu lalang dikanan kiri. Aku suka angin bersemilir lewati celah setiap siku tubuh dan kedua kaki. Aku suka sapa seorang pelukis jalanan yang kemampuannya berharap ku miliki.



Aku suka orang yang dengan ramah tulus senyum padaku dari kakek tua yang sedang nikmati arunika pada usia senjanya, sampai pria muda bersepada. Pikirku salah. Senyuman dari orang yang berlalu pagi ternyata masih tidak terlalu langka ditemukan. Tidak seamat kaku yang biasa kuterima. 

Aku suka melihat anak jalanan masih bisa tertawa lepas menggunakan sekuternya dengan laju. Ia sedang berimajinasi, sebelum siang hari ia turun ke jalan tanpa ekspresi. Aku suka para pembersih jalanan. Aku iri, mereka lebih bisa nikmati hari tanpa melewatkan waktu pagi.

Aku suka kondisi ini, menikmati tangis yang ditahan karena tak kuasa melihat kakek tua kelelahan memikul dagangan cuangki, yang mana setiap asapnya tersimpan harap besar dari anak dan istri. “Ah bapak, aku tahu dagangan ini tak seberat tanggungan hidupmu”.


Aku suka bincang pagi dengan seorang bapak tua hampir setengah abad yang sempat kutemui diwaktu dan tempat sebelumnya. Aroma dari punggung tangganmu, tetap menyimpan sebuah ketangguhan. Setiap cerita yang kau utarakan selalu menyimpan ketakjuban. Buatku.

Aku suka pagi ini, aku jatuh cinta pada pagi ini, pagi ditanggal dua puluh tujuh.

***

MIMPI KE 186, "moyan di Bandung" ditulis beberapa bulan lalu. Terbesit dalam diri ingin sekali merasakan matahari pagi di Bandung tapi ditempat yang berbeda. Tidak dari jendela kamar tidak dari kendaraan umum yang biasa ku pergi. Aku ingin menikmati dengan berjalan kaki, melihat sisi lain dari kehidupan di kota Bandung.

Bukan Mia kalo gak nekat *wk(?), aku pergi berencana sendiri. 
Dan ternyata, pagi memang tak pernah ingkar janji. Tidak dimanapun, ia selalu berikan keindahan baik darinya atau pun cerita dibaliknya. 

Terimakasih bumi kota Bandung.


27 JUNI 2018














































Rahmia Khoerunnisa